La Mira Permindo diantara Pedestrian dan Kenangan

Saban hari saya melintasi sebuah Panti Asuhan, namun bukan Panti Asuhan biasa melainkan Panti Asuhan khusus untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus dan disabilitas. Kebanyakan tuna netra.

Kadang saat saya melintas, seorang ibu guru muda menuntun tiga atau empat anak tuna netra yang sudah berpakaian rapi dan bersih di pinggir jalan yang membuat saya merasa mengecil laksana liliput di hadapan kebesaran jiwa ibu guru muda yang tengah melakukan hal mulia. Lain kali hanya murid-murid tuna netra saja tanpa pendamping, mungkin karena jalanan sedang sepi atau gurunya sedang ada keperluan lain.

 

Saya mencintai kota ini, tempat berdomisili, mencari nafkah walaupum belum memiliki e-KTP(karena kehabisan blagko). Saya berharap kota ini tidak akan pernah meraksasa seperti Jakarta. Saya ingin ia tetap kecil seperti ini, dan sekiranya harus tumbuh, semoga tumbuh dan berkembang dengan manusiawi. Tanpa ada warga yang merasa terdiskriminasi atau terlindas derap pembangunan.

Pembangunanisme memang tidak bisa dihadang dan bukan pula hal buruk sekiranya pemimpin dan pengelola kota membangun kotanya dari hal-hal kecil dan bersahaja. Kami belum butuh gedung bertingkat tinggi, atau kawasan bisnis terpadu seperti Silicon Valley. Tidak. Saya hanya teringat kaum tunanetra yang bersusah payah tanpa panduan dalam berjalan.

Minggu sore kemarin saya berjalan sepanjang kawasan Permindo, untuk mencari sepasang sepatu sebagai sarana penunjang aktivitas ‘Jogging Reborn’ yang sudah tayang sejak dua minggu lalu. Tak enak kalau pinjam sepatu keterusan.

Kawasan Permindo dulunya cukup terkenal bagi remaja atau Mahasiswa yang pernah Kuliah di Padang, banyak kisah dan kenangan yang tercecer di sana bagi kuwala muda termasuk saya.

Belasan tahun silam ada La Mira-yang terletak di deretan Bioskop yang selalu memutar film India, saya lupa nama Bioskopnya karena memang tidak pernah nonton di sana dan sangat jarang pula nonton maupun di bioskop lain. La Mira sebuah butik pakaian wanita. Pernah saya kunjungi dengan seorang Gadis Berjilbab, Alhamdullilah sekarang sudah menjadi ibu dari seorang putera yang kebetulan anak saya.

Betapa awamnya saya tentang dunia wanita saat itu. Blazer, sebelumnya saya menyangka semacam syal yang penggunaannya dengan cara dililitkan ke leher oleh kaum hawa. Baru saat sang Gadis Berjilbab itu memilah-milah di display saya paham, “oh ternyata ini yang dimaksud blazer, semacam Jas untuk wanita” guman saya dalam hati. Tentu saja hal ini tak saya ungkapkan kepada beliau karena tak ingin mempermalukan diri sendiri.

Kini Bioskop dan La Mira telah terkubur barangkali dapat mengiringi irama ‘pembangunanisme’ namun frasa La Mira dan Blazer masih kuat tertanam dalam ingatanku.

Pembangunanisme memang sedang kencang derunya. Proyek infrastruktur yang menjadi titik fokus pemerintah yang sebagian orang mencibir setengah mati dan sebagian lagi memuji setinggi langit. Insyaallah saya tidak termasuk kedua kelompok itu. Tak terkecuali kawansan Permindo ini juga sedang bersolek. Peremajaan trotoar tengah dilakukan. Deretan Bioskop yang sudah Almarhum hingga Toko Buku Sari Anggrek telah rampung, trotoar tidak hanya diperbaharui tapi juga sudah ramah bagi penyandang disabilitas. Payung-payung cantik aneka warna memperindah kawasan ini, tapi sayang payung-payung itu hanya pada bagian ujung di depan Sari Anggrek belum sepanjang trotoar, sedangkan trotoar yang diserang masih dalam pengerjaan.

Namun lebih disayangkan lagi, kawasan yang sedang bersolek tidak diimbangi dengan ketegasan Pemda dalam merapikan pedagang makanan yang mendirikan tenda-tenda makan bukan lagi di atas trotoar yang dapat menghalangi pejalan kaki atau setidaknya mengurangi nilai estetika namun memakan bagian jalan yang berdampak kepada kemacetan.

Kamu lihat ubin putih gading di tengah trotoar itu? Bagimu mungkin itu hanya corak lurus dan titik-titik. Tapi sebenarnya lebih dari itu maknanya bila engkau bermasalah dengan penglihatan dan harus menggunakan tongkat untuk berjalan.

Bagi kaum tunanetra, embos lurus di ubin adalah tanda jalan tetap lurus. Sedangkan corak embos titik-titik adalah isyarat bahwa jalan akan menurun, mendaki, atau berbelok. Dengan begitu, mereka bisa lebih berhati-hati.

Bisa jadi ada yang nyinyir, memangnya seberapa banyak sih orang buta yang akan lewat di situ? Apakah itu efektif dan efisien?

Mungkin memang tidak efektif atau efisien bila hitungannya melulu neraca ekonomi. Namun itikad baik untuk memudahkan kehidupan sesama adalah nilai yang tak bisa diukur.

Adalah sebuah prestasi bagi pengelola kota, bila ada satu orang buta yang lewat di jalan itu dan dia merasa senang.

Tapi tak berselang lama, pikiran saya kembali lagi kepada Panti Asuhan Tuna Netra yang memang terletak agak jauh dari pusat kota . Saya berharap walaupun tidak bisa melihat kecantikan kota yang tengah bersolek, setidaknya mereka dapat merasakan kenyamaan disaat berjalan di trotoar yang ramah terhadap tunanetra.

AL Albana-Warga Kota yang belum memiliki e-KTP (kehabisan blanko/plastik) sudah hampir setahun-
Padang, 10 Muharram 1439

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close