Bank Syariah

Setahu saya sampai saat ini, Bank syariah belum menerapkan loss sharing (berbagi rugi) kepada nasabah yang diberi pembiayaan. Misalkan Nasabah yang meminjam kepada Bank Syariah untuk modal usaha budidaya ikan, berjalan waktu ternyata usaha gagal karena berbagai hal. Kerugian menjadi tanggung jawab sepenuhnya dari peminjan, sedangkan Bank Syarih tetap menagih sesuai akad yang telah disepakati sebelumnya.

Begitu pula sebaliknya Bank syariah pun tidak pernah menerapkan loss sharing kepada nasabah yang menyimpan uang di bank syariah. Betapun besarnya kerugian yang dialami oleh Bank, uang nasabah akan tetap dikembalikan sesuai akad. Bahkan pailit sekalipun uang nasabah tetap kembali dengan bantuan LPS. Walaupun prosesnya ribet dan butuh waktu yang lama.

Saya pernah juga sedikit baca-baca tentang Bank Syariah, secara teori di buku ; setiap kerugian akan ditanggung bersama (Bank dan Debitur) begitupula keuntungan akan dibagi bersama dengan persentase masing-masing pada saat akad.

Jadi secara operasional hampir tidak ada yang membedakan antara Bank Syariah dengan Bank Konvensional kecuali dalam hal penyebutan Istilah, kalau dalam Bank Konvensional disebut bunga sedangkan pada Bank Syariah disebut bagi hasil dan berbagai istilah islami lainnya sedangkan secara prinsip dan akad sama. Sama-sama mengandung unsur riba.

Oh, iya ada satu hal yang membedakan antara Bank Syariah dengan Bank Konvensional. Jika anda mengajukan pinjaman untuk modal perternakan Babi, Rumah Judi dan Prostitusi sebagai pengganti Alexis sudah pasti aplikasi kredit anda akan ditolak oleh Bank Syariah sedangkan Bank Konvensional akan mencairkan kredit sejauh menurut perhitungan mereka prospek bisnis mendatangkan profit.

Namun tidak dalam hal nasabah funding sekalipun uang anda untuk menabung dari usaha peternakan Babi, Bank Syariah akan menerima anda menjadi nasabah funding sama seperti Bank Konvensional. Boleh dicek siapa tahu Alexis juga nasabah funding Bank Syariah. Karena pada prinsip KYC-Know Your Customer-,aspeknya hanya pada pendanaan tindakan terorisme dan pencucian uang tidak terkait dengan aspek halal-haram aliran uang.

Nah pertanyaannya, sampai kapan akan terjadi kesenjangan antara teori dan penerapan? Selama kita keranjingan hanya pada sampul agama bukan isi apalagi esensi.

****

Al Albana, Andalas, Saffar 1439

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close