Yamin, Bangsa dan Bahasa

Hampir semua penggemar sejarah Islam dapat dipastikan mengenal nama Salahuddin Al Ayubi yang kisah heroiknya pernah di film pada awal tahun 2000-an dengan judul Heaven of Kingdom. Begitu pula dengan nama Abul Abbas Taqiyuddin Ahmad bin Abdus Salam bin Taimiyah Al Harami atau lebih dikenal dengan Taimiyah dengan kitab Minhaj As Sunnah An-Nabayiwah yang menjadi rujukan para pengikut Salafy. Mereka adalah orang-orang besar yang telah mengharumkan Islam yang berasal dari bangsa Kurdi.

Suatu bangsa yang mendiami bagian selatan Turki, bagian Timur Suriah, bagian utara Irak, bagian barat Iran bahkan berdiaspora di Eropa dan Amerika Utara. Bangsa yang tengah memperjuangkan kemerdekaan, belum merdeka penuh. Oleh karena itu Tuan Erdogan mengirimkan jet-jet tempur dalam merespon tuntutan kemerdekaannya, dan belakangan Bashar juga melakukan hal yang sama untuk membungkam bangsa Kurdi, jauh hari ketika Saddam Hussein berkuasa konon katanya melakukan genoside terhadap bangsa kurdi yang berdiam di utara Irak dengan gas kimia. Mengerikan.

Namun uniknya walaupun berdomisili berpencar-pencar dalam teroterial negara yang berbeda-beda (Turki, Suriah, Irak dan Iran) dan berdiaspora di Eropa dan Amerika mereka punya bahasa persatuan yaitu Bahasa Kurdi yang berbeda dari Bahasa Arab maupun Persia. Dituturkan oleh lebih dari 26 juta jiwa. Hal yang tidak dimiliki oleh bangsa India.

India punya akar budaya dan sejarah yang gemilang, jumlah penduduk yang hampir 1 milyar, dengan bentangan geografis yang luas , berbagai suku bangsa tentunya sama seperti kita punya bahasa daerah masing-masing. Hindi, Urdu dan Tamil memang bahasa yang populer namun belum menjadi Bahasa persatuan seperti Bahasa Indonesia yang kita miliki.

Bangsa ini berhutang kepada pemuda Talawi-Muhammad Yamin. Atas inisiatif beliau pada kongres pemuda II, 28 Oktober 1928, para pemuda dari jong Java, jong Sumatera, jong Ambon, Jong Selebes, Jong Islamieten dan lainnya mengikrarkan salah satu pointnya “Berbahasa satu Bahasa Indonesia”. Kemudian hari ikrar ini agar lebih dramatis diubah menjadi Sumpah Pemuda yang kita kenal sekarang.

Coba sejenak bayangkan jika tidak ada bahasa Indonesia, bagaimana caranya orang minang ingin beli sepuluh tusuk Sate Madura, orang Sunda masuk restoran Sederhana minta menu ayam pop, orang Batak mau makan di warteg, orang Aceh pingin mencicipi mpek-mpek Palembang. Pasti bisa tapi rumit bukan, tak menutup kemungkinan salah menu yang berujung salah paham, semoga tidak salah clurit atau salah tujah.

Al Albana-Penyuka Bahasa-

Padang, 11 Safar 1439.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close