Rumah Kuning Tua dan Kerinduan Pada Seorang Sahabat

Syahdan, tersebutlah pada suatu masa di penghujung abad ke-20. Sebuah rumah kontrakan dengan warna kuning tua dengan sedikit kombinasi list merah bata. Rumah dua lantai yang dengan tiga kamar tidur yang sangat kecil di lantai dasar dan sebuah ruangan tanpa sekat berlantai papan di persada. Dilengkapi dua kamar mandi yang saling berhadapan di lantai dasar, serta dapur seadanya.

Ruang tamu tanpa televisi beralaskan karpet berwarna hijau sebagian sudah robek dengan bagian ujung-ujung selalu menggulung ke atas. Di sudut ruang tamu percis di bawah tangga kayu menuju persada terdapat sebuah meja kayu kecil berukuran tak lebih dari 50×50 cm dan tinggi 40 cm dialas dengan rajutan berwarna putih kekuningan karena jarang dicuci atau bahkan tak pernah dicuci. Di atasnya tergeletak dengan angkuh seperangkat pesawat telepon dengan warna putih yang sudah kusam. Telepon adalah simbol kos-kosan yang ramah bagi para pecinta. Derajat ke-philogynik-an seorang mahasiswa akan diukur dari intensitas dan durasi telepon yang diterimanya. Karena pada zaman itu telepon seluler adalah barang mewah, jangankan mahasiswa bahkan dosen hanya beberapa orang saja yang mampu mengantonginya.

Pada bagian depan rumah, halaman dengan lebar-sama dengan lebar rumah, kurang lebih 16 m, namun panjangnya tak lebih dari 1,2 m. Ditanami aneka kembang. Tapi yang membuat keren bukan kembang-kembangnya namun tanaman Anggur yang merambat di pagar hingga menutupi sebagian atap. Pada kala itu tanaman anggur masih sangat jarang ditanan di rumah-rumah, bahkan di rumah kontrakan ini pulalah saya untuk pertama kali mengetahui bentuk tanaman yang menghasilkan buah berwarna merah pekat itu. Dan walaupun belakangan saya membuktikan bahwa anggur tidak pernah berwarna merah pekat (maron) namun selalu hijau. Karena belasan pasang mata mengawasi sepanjang waktu, akibatnya anggur tidak sempat berwarna merah sudah dipetik. Tentu saja rasanya kelat.

Berpenghuni tetap sepuluh Mahasiswa, namun jumlah pendatang sepanjang hari bahkan menumpang menginap hingga beberapa minggu-minggu dan bulanan atau bisa juga disebut penghuni semi permanent lebih dari dua kalinya. Karena memang lokasinya hanya selemparan tombak Wiro Sableng dari kampus.

Rumah kontrakan tersebut berada pada Komplek Jundul Lapai no.9-C namun agar keren dan biar berasa kuliah di Harvard University. Para penghuni memberi nama serta setengah memaksa teman-temannya menyebut rumah kontrakan tersebut dengan Apartement Teknik kimia. Atau mungkin juga karena tanaman Anggur tadi.

Padahal jalan (pintas) menuju Apartemen tersebut benar-benar jalan tikus. Kecil. Sempit dan Bau. Bahkan Sepatu atau Sandal sering kotor karena jalan yang becek dan berlumpur akibat rumah-rumah yang saling berdesakan sepanjang jalan tidak memiliki drainase yang memadai sehingga air comberan meluap ke jalanan. Oleh karena itu dengan sengaja beberapa potongan Pohon Kelapa ditaruh ditengah jalan untuk dititi bagi yang bisa mengatur keseimbangan tubuh. Jelas bukan hal yang mudah, jika lagi apes, kepeleset bukan hanya sepatu dan kaki yang kotor tapi bisa lebih buruk lagi.

Pasti jalanan seperti ini tidak dapat ditempuh dengan motor apalagi mobil. Tapi sebenarnya ada jalan yang cukup bagus yang bisa dilewati mobil dan motor namun sedikit agak jauh dan melingkar, jauh dari dari Kampus, penghuni kost menimba ilmu. Mana mau mahasiswa teknik yang jago hitung-hitungan menempuh jalan berliku. Jangankan jarak, energi yang dibutuhkan untuk menempuh jalan juga tidak luput dari hitungan mereka. Bahkan juga mereka mampu menghitung selesih keringat yang dihasilkan dari kedua rute perjalanan itu.

Sama halnya dengan kontrakan Mahasiswa lainnya pasti banyak cerita-cerita lucu dan pengalaman konyol yang tergores disana. Misalnya cerita lauk yang dibekali orang tua saat balik dari kampung yang baru sekali makan tiba-tiba raib. Berebut kamar mandi karena salah seorang ingin mandi sebelum berangkat kuliah pagi dan yang lain kebelet buang hajat. Memasak air minum dengan rice cooker karena tidak mau dan tak mampu beli minyak tanah untuk menyalakan kompor. Shampoo yang cuma bertahan seminggu setelah itu isinya hanya gelembung air. Tagihan telepon membludak sehingga kedepannya pesawat telepon dikunci dan kuncinya dipegang oleh Pak Ketua, namun selalu ada yang berhasil mengakali. Berebut mengembalikan mangkok jika sekali-kali tetangga depan yang dihuni oleh empat remaja puteri bersaudara berbagi makanan. Atau cerita main judi dua hari dua malam non stop. Sebenarnya yang ikut main judi bukan penghuni tetap melainkan penghuni semipermanent. Yang paling konyol adalah cucian direndam sampai dua minggu, tentu saja mendatangkan aroma nauzubillah. Sejuta kenangan lucu dan konyol terukir di rumah itu karena semua penghuni memiliki karakter yang berbeda-beda. Tingkah yang konyol, kocak dan jenaka. Teman-teman yang mengesalkan sekaligus mengesankan. Sahabat-sahabat yang menjengkelkan tapi juga ‘ngangenin’.

Dari semua penghuni tetap dan semipermanen yang berada di puncak tiang tertinggi kekocakan dan kekonyolan adalah seorang ‘pemuda tinggi, gagah, badagok dengan rambut ala tintin, selalu senyum karena merasa keren dengan lesung pipinya, sering memasang anting di kuping sebelah kiri, anting tak ada artsy-nya, entah ia dapatkan dari mana, barangkali ia barter dengan sebiji permen dari anak kecil. Dan semua orang tahu beliau anak dari seorang Buya, dan kami semua sahabatnya juga tahu ia rajin sholat tahajud dan puasa senin-kemis tidak mungkin kuping ditindik.

Seorang pemuda yang sejak awal kuliah mendaku bahwa baginya kuliah hanya untuk status sosial agar menyenangkan hati orang tua dengan selembar ijazah Sarjana Teknik. Sedangkan bakat dan minatnya di bidang pertanian. Dan ia mengaku punya sawah dan ladang yang luas yang siap untuk digarap. Ketika ditanya kenapa tidak kuliah di Fakultas Pertanian dengan enteng ia menjawab “buat apa, saya sudah khattam tentang seluk-beluk pertanian karena sudah terjun sejak kecil walaupun masih sambil sekolah”. Dan itu dibuktikannya dengan membawa aneka macam hasil kebun setiap kali kembali dari kampung, seperti ketela, singkong, pisang, talas dan aneka buah-buah yang siap dibagikan kepada teman-teman di kos-kosan. Sbelum berbagi dengan teman-teman kost, ia pilih yang paling bagus buat adik perempuan yang sangat ia sayangi yang juga kos di tempat lain namun di kota yang sama. Ia adalah patron seorang laki-laki yang sangat sayang adik perempuan. Bayangkan ia laki-laki yang jago memasak. Setelah jadi hal pertama yang dilakukannya menyisihkan buat adiknya, baru teman-teman boleh mencicipi masakannya. Jika tak ada waktu luang, paling telat malam hari ia antarkan ke kosan adiknya.

Sebenarnya ia memiliki bakat teknik yang luar biasa, kalaupun tak ingin disejajarkan dengan Mc Gyver, setidak keterampilan tangan dan inovasinya dalam memberdayakan peralatan seadanya untuk menciptakan suatu perangkat yang berguna diatas kami rata-rata. Meskipun secara akademis ia sering keteteran. Ia pernah membuat jebakan tikus dengan menggunakan celana panjang, jago memperbaiki ranjang yang rubuh. ia mampu membuat layangan yang tidak hanya artsy tapi juga presisi dan simetris serta balance.

Bahkan atas kreativitas dan inovasinya dalam memperbaiki atau menciptakan pelbagai peralatan. “Seandainya Tim Inovasi Suzuki mengenal ang pang, pasti direkrut tanpa tes dan tak perlu ijazah, jadi tak perlu capek-capek mengerjakan Tugas Perpindahan Panas ” puji seorang sahabat.

Yang paling kocak dari semua itu, ia pernah menemukan cara penggunaan kaca spion untuk hal yang sangat konyol. (Ini bagian rahasia, maaf tidak dijelaskan disini).

Sahabat ini adalah seorang Center Back tangguh dalam sepakbola. Pola bermain sangat dingin tanpa kompromi. Posturnya yang menjulang dan kokoh membuat penyerang lawan kesulitan melewatinya. Baginya Bola atau Pemain lawan hanya boleh lewat salah satu yang lewat. Jika bola dapat melewatinya maka jangan harap ia akan bisa dilewati pemain lawan. Atau sebaliknya jika pemain lawan berhasil melewatinya maka intersep dan tacklingnya hampir selalu menghentikan bola.

Latihan sepakbola ketika itu setiap Selasa dan Kamis, sedangkan ia rutin puasa Senin dan Kamis. Maka setiap latihan Kamis ia dalam berpuasa, jarang sekali tidak berpuasa. Bahkan pernah suatu hari saat Pertandingan Persahabatan dengan kesebelasan dari Kampus lain, teman-teman memintanya untuk tidak puasa pada hari itu yang kebetulan hari Kamis, namun ia menolak dengan tegas. “Alun lai tandiang ko pulo ka malapehan puaso den” Dan itu pertandingan itu pun menang.

Setelah belasan tahun kemudian, penghuni tetap dan puluhan penghunjung tetap atau sebutlah penghuni semi permanen sudah tertarik oleh pusaran nasib masing-masing, tersebar ke berbagai kota di negeri ini. Pastinya juga menikah dan beranak-pinak. Tentu saja akhir pekan yang dulu berasa panjang dan menyiksa sehingga diratapi karena ke-jomblo-an tentu saja kini berubah menjadi waktu yang ditunggu-tungu dan berasa singkat untuk bercengkrama bersama keluarga tercinta. Begitulah peristiwa selalu berdialektika dengan waktu.

Dan rumah kuning tua itupun, sudah berapa lama kosong dan terbengkalai. Beberapa atap dan plafon bagian luarnya telah lepas.

Dan kerinduan terhadap para bajingan yang menyenangkan itu semakin membuncah setelah melintasi rumah kuning tua itu beberapa hari yang lalu.

Padang, 19 Safar 1439.

Alamin D–Mantan Penghuni Rumah Kuning Tua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close