Cendikiawan Minang

Pada peralihan abad ke-19, pasca perang Paderi berakhir. Setelah berakhirnya Tanam Paksa sebagai kompensasi Pemerintah Kolonial Hindia Belanda menerapkan Politik Etis. Dengan membangun sekolah untuk pribumi, tentu saja akses masih terbatas hanya untuk kalagan terbatas yaitu para priyayi dan putera dari ambtenaar (Pegawai) Pemerintahan Hindia Belanda.

Kesempatan ini digunakan oleh orang-orang Minangkabau yang terkenal egaliter-opportunis yang bekerja untuk pemerintahan Hindia Belanda mengantarkan putera ke sekolah-sekolah agar mendapat pencerahan dari pemikiran Barat (Eropa) yang rasionalis Empiris.

Hasilnya pada awal abad ke-20 etnis Minangkabau menghasilkan banyak cendikiawan meskipun dikenal sebagai saudagar ulet dan ulung di berbagai kota di Indonesia bahkan juga di mancanegara, selainya itu walaupun tidak seperti pulau jawa tempat menjamurnya pesantren, etnis minang juga dikenal menghasilkan Mubaligh terkenal seperti; Ahmad Khatib Al-Minangkabauwi, H. Rasul (inyiak Doktor), Ulama-Sastrawan Buya Hamka, Politisi santun M. Natsir, Ekonom-Hatta.  Diplomat cerdik H. Agus Salim dan Sutan Sjahrir.

Memang susah untuk menyangkal bahwa etnis Minang kurang menonjol pada dunia militer dan seni, namun Selain unggul bidang diatas, etnis Minang juga memberikan sumbangan yang besar pada dunia kesusteraan dan jurnalistik Indonesia. Sebutlah nama ; dua orang bersaudara Muhammad Yamin dan Djamaluddin Adinegoro, Marah Rusli, Rustam Effendi, Abdul Moeis, Sutan Takdir Alisyahbana, Chairil Anwar, Ahmad Rivai, Asrul Sani, Rosihan Anwar, AA Navis dan lain sebagainya. Bahkan tokoh berhaluan kiri sekelas Tan Malaka.

Jika diamati tokoh-tokoh tersebut memiliki karakter yang berbeda-beda dengan ideologi yang berbeda-beda pula ; Nasionalis, Pan Islamis, Sosialis bahkan Komunis. Karena terkenal egaliter dan tebiasa dengan iklim kompetisi, mereka berhasil menjadi diri sendiri tanpa mengekor kepada tokoh yang sudah jadi, sangat jauh dari budaya feodal yang cenderung mengkultuskan seorang tokoh. Dan pada saat sekarang nilai itu sudah semakin luntur. Masyarakat Minang nyaris tidak ada bedanya dengan suku lain. Terseret dalam politik oligarki.

Saya menyakini keunggulan etnis Minang pada awal abad ke-20 salah satu faktor pentingnya adalah ; mereka antusias menerima sistim pendidikan yang baru diterapkan pemerintah Kolonial Belanda sedangkan etnis lain masih alergi terhadap hal yang berbau Kolonial Belanda (sekolah Belanda), sehingga mereka enggan, setidak sedikit terlambat menerima sekolah-sekolah yang didirikan Pemerintah Kolonial Belanda. Ini hanya salah satu faktor penunjang saja.

Masih banyak faktor lainnya, seperti Budaya Merantau yang sudah mengakar kuat di masyarakat Minang. Sehingga melahirkan sikap kritis sekaligus terbuka terhadap pembaharuan yang datang dari luar.

Selainnya itu setidaknya pergulatan tiada henti tiga budaya ; [1] Reformis Islam [2] Budaya Matriakat, [3] Semangat pencerahan (sains dan Ilmu Pengetahuan) Eropa. Inilah faktor tak kita hadapai dalam masyarakat Minang saat itu. Dialektika ketiga budaya itu seakan-akan telah selesai.

Dalam pergulatan itu,sebagian terus melakukan kritisi dalam pergesekan Islam-Budaya semisal masalah hak waris seperti yang dilakukan H. Abdul Karim Amrullah-Ayah Buya Hamka. Ada pula yang meninggalkan Kampung Halaman untuk menghindari perdebatan seperti yang dilakukan Syekh Ahmad Chatin Al Minangkabawy. Semangat pencerahan Ilmu pengetahuan pula telah mengantarkan Tan Malaka, Sjahrir, Rustam Effendy dan pemuda lainnya kebelahan bumi Eropa.

Mereka para cendikiawan merupakan produk sintetis dari dialektika tiga kebudayaan pada masa itu.

Beruntung Restaurant Padang (minang) masih menjamur diseluruh nusantara, mulai dari kota besar sampai pelosok desa bahkan manca negara sehingga masyarakat masih mengenal etnis minang. Seandainya tidak mungkin orang hanya mengenal etnis minang di buku-buku perjuangan pra dan Pasca kemerdekaan. Seperti kita mengenal kebesaran bangsa Mongol.

Di era globalisasi saat ini mungkin pergulatan ketiga kebudayaan itu sudah berhenti setidaknya sudah mereda, atau kita memang tidak pernah memikirkannya lagi sama sekali ?
dengan demikian menurun pula intelektual yang dilahirkan dari etnis Minang.

Generasi Minang sekarang sangat membanggakan mereka, namun hanya sedikit sekali yang menyelami pemikiran mereka yang terbuka sekaligus kritis. Sedangkan kita saat ini lebih banyak bersikap anti ini-anti itu, pro ini-pro itu. Kita membanggakan namun tidak meneladani mereka.

 

Padang, 21 Safar 1439

Kategori Esai, Telaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close