Saya dan Jendela

Saya menyukai jendela. Saat kecil saya sering menghabiskan waktu berlama-lama dengan berdiri atau duduk pada sebuah bangku menghadap ke luar melalui sebuah jendela. Jendela dapur. Jendela tanpa teralis. Jendela dengan bukaan dua daun pintu sejajar, kedua daunnya dari papan tanpa kaca. Jendela dengan lebar masing-masing daunnya 40 cm dan tinggi sekitar 80 cm terpasang pada sebuah kusen yang berjarak sekitar 1 m dari lantai.

Ketika sore menjelang magrib, saat berusia 8 tahunan. Saat ibu bergegas mempersiapkan makan malam, saya sering menemaninya di dapur tapi sedikit sekali yang bisa saya bantu kecuali hal-hal kecil seperti membantu mengambil air, mengambil kayu bakar, meniup tungku agar api menyala, mengambil selembar daun kunyit dan sereh ke halaman belakang. Sekali-kali disuruh memanjat pohon cengkeh untuk sejumput daun dan buahnya atau pohon kayu manis untuk mengambil beberapa lembar daun kayu manis jika ibu memasak Rendang atau Soto Ayam. Kadang saya diberi tugas mencuci piring.

Saat seperti itulah saya sering berlama-lama di jendela. Saya mengambil sebuah bangku lalu berdiri di atasnya menghadap keluar jendela. Memandangi gelembung-gelembung air di sela-sela teratai dari sebuah kolam kecil yang terletak percis di ujung cucuran air yang turun dari atap dapur dengan air berwarna kehijauan akibat ganggang.

Di balik kolam. Pada bagian paling atas sebelum turun ke lereng menuju sungai dan persawahan sebatang Durian berdiri menjulang tinggi dengan gagah. Jika angin sedang bertiup kencang semakin terlihat keanggunan dan kecongkakannya, bagaimana tidak karena angin beberapa kali daun jendela dan pintu terbanting membuka-menutup sedangkan bagi pohon Durian itu hanya membuatnya terlihat seolah-olah sedang menari-meliuk melambaikan daun-daunnya yang hijau disertai sedikit bunyi ‘ciut’ akibat gesekan cabang bagian bawah dengan pohon Kelapa yang sedang mencoba menandingi tingginya.

Menurut nenek dan para tetua kampung pohon Durian dengan tinggi sekitar 30 m dan diameter pohon bagian bawah sekitar 2 m itu, sudah sebesar dan setinggi itu juga sejak mereka kecil. Barangkali pohon itu sudah berusia lebih seratus tahun. Sunggung besar sekali jasa penanamnya karena buah durian itu telah di nikmati oleh semua orang di kampung ini tanpa membeli. Karena aturan tidak tertulis di kampung ini ; setiap buah durian yang jatuh secara alamiah adalah milik siapa saja yang mendapatkannya pertama kali.

Dari jendela itu saya menyaksikan orang-orang berlalu-lalang di jalan setapak yang menghubungkan rumah-rumah pendududuk dengan sebuah sungai dan areal persawahan di bagian sebelah barat. Dari jendela itu saya menyaksikan orang-orang pulang-pergi ke sungai dan sawah, terkadang melintas ibu-ibu dengan seember pakaian di atas kepala setelah dicuci di sungai, lain waktu teman-teman sebaya terejeh-ejeh menenteng jerigen berisi air bersih dari sebuah pincuran. Sebelum azan magrib sering seorang lelaki setengah baya bergegas melintas dengan beberapa ekor Sapi setelah binatang peliharaannya itu kenyang memakan rumput di pematang sawah.

Dari jendela itu pulalah saya meyaksikan tupai berlompatan antar pohon dan mengerogoti buah ; Durian, Nangka, Pepaya dan Kelapa. Dan dari jendela itu saya membuktikan pepatah sepandai-pandai tupai melompat sekali-kali jatuh juga. Dari balik jendela yang sama mengamati segerombolan kalong yang menghitamkan seluruh cabang-cabang pohon durian saat bergelantungan menghisap serbuk sari dari cikal buah durian.

Melemparkan pandangan agak jauh terlihat sungai kecil di kaki bukit berliku-liku seperi ular. Sungai yang digunakan untuk mandi dan mencuci pakaian. Areal persawahan yang bertingkat-tingkat diseberang sungai sebelum masuk ke hutan yang lumayan lebat. Saya sering membayangkan dari hutan itulah hantu haru-haru yang konon katanya bisa membuat seseorang tidak tahu jalan pulang jika seorang anak masih berkeliaran di areal persawahan saat gerimis di sore hari.

****

Surau semi permanent berbentuk panggung, dengan lantai dan dinding papan. Memiliki satu pintu masuk dan empat jendela, dua jendela di sebelah utara dan dua lagi sebelah selatan. Di sebelah selatan terdapat lapangan kecil yang biasa digunakan untuk bermain sepak takraw oleh remaja yang sudah berusia belasan. Jika tidak digunakan oleh anak-anak kecil untuk bermain kelereng, gangsing, kasti, karet gelang, galah asin, patuak lele dan lain sebagainya. Tergantung permainan yang sedang musim dikala itu.

Sebagai seorang anak yang sedikit introvert dan tidak terlalu cakap dalam beraneka mainan saya lebih sering duduk di jendela dengan menjuntaikan kaki keluar. Mengamati kecerian teman-teman sebaya yang sedang bermain. Semangat dalam saling mengalahkan, pekik kemenangan, tangis kekalahan, dibumbui intrik-intrik ala bocah ingusan yang menyebabkan pertikaian kadang berujung perkelahian dengan adu jotos berakhir jika jika salah seorang menangis lalu pulang.

****

Dulu, waktu masih sekolah saya hampir selalu duduk di sisi jendela tidak penting duduk bagian depan atau belakang. Asalkan sisi jendela itu tidak mengapa.

Waktu kuliah, salah satu alasan kenapa saya betah berlama-lama di gedung perpustakaan yang terletak di lantai 4 itu adalah jendelanya yang besar-besar. Sisi bagian barat menghadap ke laut lepas adalah bagian favorit saya. Di bibir jendela itu saya sering duduk melamun, membebaskan imajinasi, sembari sesekali menulis. Sedangkan untuk membaca buku saya memang lebih suka melakukannya di kamar kos . Berada di dekat jendela terlalu puitik untuk dilewatkan dengan membaca buku, kala itu. Itu sebabnya saya segera jatuh cinta pada jendela-jendela besar tanpa teralis.

Sayang hanya sempat menikmati perpustakaan itu satu setengah tahun. Memasuki semester empat fakultas saya di pindahkan ketempat yang sama sekali tidak ada puitiknya karena tanpa perpustakaan dengan jendela menghadap ke Samudera Hindia.

“Dari jendela saya menyaksikan alam dan aktivitas segala isinya”

****

Sejak kecil saya selalu membayangkan punya sebuah ruangan dengan meja menghadap jendela tanpa teralis dengan hamparan rumput atau pepohonan teduh di luarnya, rintik dan tetesan air dikala hujan. Tentu saja lengkap dengan rak-rak buku yang menutupi seluruh dinding. Saya tidak ingat dari mana bayangan itu pertama kali muncul. Mungkin dari scene film atau ilustrasi buku yang pernah saya baca di masa lalu saat masih kanak. Saya benar-benar tidak ingat lagi persisnya.

Ah, betapa berartinya memang imajinasi masa kecil. Saya tak membayangkan mimpi masa kecil itu akan bertahan hingga kini. Dan entah kapan terwujud?

Padang, 23 Safar 1439

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close