Minang Kiri ; Titik Temu Islam dan Komunis Dalam Menentang Kapitalie dan Kolonialisme

Minang Kiri Menantang

Tokoh yang berperan dalam membawa dan mengembangkan PKI di Sumatra Barat adalah Haji Datuk Batuah. Setelah lulus sekolah dasar Belanda, dia menuntut ilmu ke Mekkah selama enam tahun. Sekembalinya ke Sumatra Barat, dia menjadi murid Haji Rasul-ayah Buya Hamka. Dia dianggap sebagai salah satu murid Haji Rasul yang pintar dan dinamis sehingga menjadi asistennya di Perguruan Sumatra Thawalib selama tahun 1915.

Pada 1923, Haji Datuk Batuah mengadakan perjalanan keliling Sumatra dan Jawa. Dia bertemu Natar Zainuddin di Aceh. Di Jawa, dia bertemu dengan para pemimpin PKI termasuk Haji Mohammad Misbach, anggota Sarekat Islam berpengaruh di Surakarta, yang sekeluarnya dari penjara pada 1922 memilih bergabung dengan PKI.

Misbach berpendapat bahwa dengan memilih bergabung dengan pihak komunis berarti dia “membuktikan keislamannya yang sesungguhnya.” “Tokoh muslim ini jelas sangat besar pengaruhnya terhadap Datuk Batuah,” tulis Audrey R. Kahin dalam Dari Pemberontakan ke Integrasi: Sumatra Barat dan Politik Indonesia, 1926-1998.

Pandangan Haji Misbach menarik minat Datuk Batuah. Sekembalinya ke Sumatra Barat, dia menyebarkan pandangan itu di Perguruan Sumatra Thawalib dan di koran Pemandangan Islam yang didirikannya bersama Djamaluddin Tamim. Pemandangan Islam dan Djago-djago yang didirikan Natar Zainuddin sama-sama menyuarakan kesamaan antara Islam dan komunisme dalam perjuangan menentang kapitalisme dan kolonialisme.

Belanda menangkap Datuk Batuah dan Natar Zainudin pada November 1923. Setelah ditahan di Padang, keduanya diasingkan ke Timor dan kemudian dipindahkan ke Boven Digul pada awal 1927. Djamaludin Tamin juga ditangkap pada Desember 1923.

Setelah penangkapan orang-orang radikal di Sumatra Thawalib, Sekolah Rakyat didirikan di Padang Panjang mengikuti pola sekolah yang didirikan Tan Malaka di Semarang. Organisasi kepemudaan PKI, seperti Sarikat Rakyat dan Barisan Muda berkantor pusat di Sekolah Rakyat. Organisasi ini menyebar ke seluruh Sumatra Barat. Barisan Muda kemudian berganti nama menjadi Internationale Padvinder Organisatie (IPO) atau Organisasi Pandu Internasional dengan slogan “Pemuda sedunia bersatulah!”

“Dengan demikian, basis utama PKI dan Sarikat Rakyat di Padang Panjang adalah di sekolah-sekolah. Para guru dan murid-murid sekolah, khususnya di perguruan agama-modernis, percaya bahwa komunis sesuai ajaran Islam,” tulis Kahin.

Selain di Padang Panjang, gerakan komunis juga tumbuh di Silungkang. Saudagar Sulaiman Labai mendirikan cabang Sarekat Islam di Silungkang pada 1915. Ketika berubah menjadi Sarikat Rakyat pada 1924, sebagian besar anggotanya ikut dengan para pemimpinnya menjadi anggota komunis.

Di Padang, Sutan Said Ali mendirikan PKI pada 1923. Belanda segera menangkapnya. Kendati demikian, Padang tetap penting bagi gerakan komunis, sebab PKI menargetkan kota ini sebagai pusat pengembangan komunis di Sumatra Barat.

Menurut Kahin, gerakan komunis di ketiga pusat utama di Sumatra Barat ini saling bertalian. Di Padang Panjang, tulang punggung gerakan adalah para ulama dan murid-murid perguruan Islam dengan tokoh panutan adalah Tan Malaka. Di Silungkang, para saudagar dan pengusaha kecil menjadi tokoh-tokohnya. Mereka menjalin hubungan yang kuat dengan buruh-buruh tambang di Sawahlunto, dan tetap berpedoman kepada kepemimpinan di Padang Panjang. Gerakan komunis di Padang memang mendapat dukungan para ulama dan perguruan-perguruan Islam, tetapi lebih mengandalkan pada komunitas pedagang. Selain itu, hubungannya lebih dekat dengan para pemimpin PKI di Jawa.

*****

Sementara itu, sebelum pemberontakan pecah, pada September 1926 Tan Malaka yang menentang pemberontakan memerintahkan agar semua pengikutnya meninggalkan Sumatra Barat. Sebab, apabila pemberontakan gagal, Belanda akan menumpas gerakan komunis secara keseluruhan. Arif Fadlillah, ketua PKI seksi Padang Panjang, melaksanakan perintah itu dan menentang keras keinginan PKI seksi Silungkang dan seksi Padang ikut pemberontakan.

“Larangan Arif Fadlillah agar tidak ambil bagian dalam pemberontakan menyebabkan Silungkang memutuskan menunggu terlebih dahulu hasil dari pemberontakan di Jawa,” tulis Kahin.

Persiapan pemberontakan menjadi kacau ketika Belanda menangkap Mohammad Nur Ibrahim, ketua PKI seksi Padang pada 14 November 1926. Belanda juga menangkap sekira 20 orang aktivis terkemuka.

Orang-orang komunis di Sumatra Barat mengetahui dari suratkabar bahwa Belanda berhasil menimpas pemberontakan di Batavia, tetapi pemberontakan terus berlanjut di Banten. Mereka juga menyadari sebagian besar pimpinan PKI ditangkap atau melarikan diri. Namun, seorang pemimpin PKI Sumatra Barat yang kembali dari Jawa membawa pesan bahwa pemberontakan akan dilakukan pada 1 Januari 1927.

Pemberontakan pun pecah di kurang lebih 18 nagari di sekitar Silungkang. Peristiwa paling berdarah terjadi pada 3 Januari 1927. Para pemberontak membunuh sekira 24 orang antara lain sejumlah guru, pegawai jawatan pertanian, pandai emas, dan kepala stasiun kereta api, termasuk Mr. Leurs, mandor Belanda yang bertugas di departemen pekerjaan umum.

Pertempuran-pertempuran kecil dan pembunuhan tokoh-tokoh tertentu terus berlanjut selama beberapa hari, bahkan di beberapa tempat sampai berminggu-minggu. Belanda melakukan pembalasan dengan menangkap ribuan tersangka. Dari sekira tiga ribu orang yang ditangkap, beberapa ratus orang dilepaskan. Tiga pemimpin pemberontakan, Kaharuddin Manggulung, M. Jusuf Sampono Kayo, dan Ibrahim Melawas, dihukum mati. Persidangan berlangsung sampai pertengahan tahun 1928. Orang-orang yang hukumannya di bawah dua tahun di penjara di Sawahlunto, sedangkan lainnya dikirim ke penjara-penjara di Jawa seperti Glodok, Cipinang, dan Ambarawa, dan banyak pula yang dibuang ke Boven Digul.

“Dampak terbesar dari pemberontakan tersebut adalah Belanda punya alasan untuk menumpas tidak hanya para anggota PKI tetapi juga semua aktivitas politik di daerah ini. Itu juga menjadi faktor yang membuat Tan Malaka berpisah selamanya dari PKI, yang memintanya bertanggungjawab atas kegagalan pemberontakan itu,” tulis Kahin.

Menurut Dawam Rahardjo, aliansi Islam dengan komunisme di masa lalu tidak didesain secara sengaja. “Islam dan komunisme itu ketemu di jalan,” katanya dalam acara diskusi “Islam dan Marxisme” di Komunitas Salihara, Jakarta, 11 Desember 2013.

Pemberontakan PKI di di Sumatra Barat 1927, kendati mengalami kegagalan dan mendapatkan tuduhan dari Tan Malaka sebagai “demam revolusi”, telah mencatatkan diri sebagai perlawanan pertama terhadap pemerintah kolonial dalam sejarah modern di Indonesia.

*****

Kategori Historia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close