Mesin Cukur Rambut Dan Sepenggal Kenangan

“Ayah. Ini pesanan dari Lazada sudah sampai”, ujar isteri sambil menyerahkan box yang berisi seperangkat mesin cukur rambut.

“Oh ya, sudah sampai ya?, tadi lihat di notifikasi e-mail pesanan sudah diterima”, jawab saya sambil menerima box lalu membuka dan memeriksa kelengkapan paket satu persatu. Setelah semua lengkap.

“Nanti akan diberi rating dan ulasan di kolom testimoni”, papar saya lagi.

****

Saat tangan menyentuh mesin cukur, saya merasa memasuki lorong waktu yang melemparkan ke masa silam. Masa belasan tahun lalu. Masa ketika hair stylist amatir menjadi side job selain aktifitas kuliah. Masa menjadi penghuni rumah kuning tua.

Sudah ratusan kepala pernah saya kerincangin. Setidaknya rekan sejurusan satu angkatan dan senior satu tingkat di atas saya pernah saya handle rambut yang tumbuh di kepala mereka. Kalau tidak semuanya, 70% kira-kira adalah yang mempercayai model rambutnya kepada saya. Dan puluhan junior yang sering mampir ke rumah kuning tua turut pula menjadi klien saya.

Ada yang berambut keriting halus, kribo, lurus landak, ikal bergelombang, tipis halus jarang hingga kasar setebal ijuk pernah saya papas untuk dibentuk sesuai keinginan empunya kepala tentunya juga mesti sesuai topograpy kepala dan jenis rambut. Model skin tipis, mandarin style ala Andy Lau, atau sekedar merapikan rambut-rambut liar bagi yang masih bersetia dengan rambut gondrong ala Rudy Cisara dan personel Band di penghujung abad 20.

Sebagai orang yang rendah hati dan gemar menolong sesama, saya memang tidak mematok tarif. Ya kurang lebih hampir sama-lah dengan Paranormal dan Penasehat Spritual jaman now. Sama-sama seikhlasnya. Namun jelas beda seikhlasnya Mahasiswa sebagian lagi Mahasiswa plus anak kos yang menjadi klien saya dibanding politisi, calon anggota DPR, calon Walikota, calon Gubernur atau calon Menteri bahkan calon presiden yang menjadi klien Penasehat Spritual dan Paranornal.

Seikhlas klien saya memang variatif; kadang sepiring Sate atau semangkok Bakso jika pedagang keliling itu melintasi rumah kuning tua pada saat saya sedang memangkas. Kadang kala sepiring besar putu bambu yang dapat mengganjal perut teman-teman yang sengaja menunda-nunda makan siang karena sedang diet upps salah sedang tak punya uang beli makan siang. Pada saat tidak ada pedagang keliling yang lewat biasanya klien saya berlari ke warung bu Ija untuk membeli sebungkus Indomie plus sebutir telor dan merebusnya lalu menyajikan kepada saya sebagai ucapan terima kasih karena telah bersumbangsih menaikan derajat kegantengannya. Sambil berharap dengan hasil karya yang telah saya torehkan di kepalanya dapat melepaskan kejombloan yang diratapinya, sehingga tak perlu lagi merampal gerundelan untuk mengutuk malam-malam yang sangat panjang setiap akhir pekan.

Ironis memang jika dibandingkan dengan seikhlasnya klien Penasehat Spritual dan Paranormal. Bagaikan siang dan malam. Langit dan Bumi. Seikhlasnya klien mereka ; satu unit Alphard, Pajero paling jelek sekelas Inova. Jika di-rupiahkan dapat membeli 3 truk Bakso plus puluhan gerobaknya atau jika dijejerin tusuk sate bisa menutupi sepanjang jalan Permindo.

Dan karena kliennya beda jelas hasil akhirnya juga beda. Jika saya, hasilnya jatah mingguan dari orang tua yang secukupnya bahkan kadang minim jadi mencukupi karena pengeluaran untuk makan berkurang akibat ditraktir oleh klien. Lain hal Penasihat Spritual atau Paranormal seperti Ki Joko Bodo, Ki Gendeng Pamungkas, Ki Kusumo atau Aa Gatot bisa memiliki rumah gedong dengan segala furniture lux dari Venesia yang disertai kolam renang.

Ahhh, deru mesin cukur ini, membuat dada ikut bergetar, terbakar rindu ingin mengacak-acak lagi kepala mereka seperti dahulu. Semoga saja mereka masih rela walaupun sudah mampu membayar ratusan ribu di Barber Shop atau salon. Yakinlah hasilnya pasti lebih keren karena sekarang pakai mesin cukur bertenaga listrik sedangkan dahulu cuma pakai gunting.

Sebenarnya relasi saya dengan gunting pangkas sudah cukup lama. Saat saya duduk di kelas 3 SLTP. Kelinci percobaan saya adalah seorang bocah yang meninggalkan sekolah setelah empat tahun tetap kelas satu dan belum juga bisa membaca hingga hari ini. Seorang anak dengan IQ mungkin di bawah 80, tapi berbeda dengan anak yang keterbelakangan mental lainnya. Pasien kedua sama dengan klien pertama, bocah yang mengalami down syndrome. Baru klien ketiga dan selanjutnya anak-anak normal hingga teman sejawat bahkan tak jarang orang dewasa.

Saat SMU karir saya di dunia perpangkasan semakin moncer. Hampir setiap hari minggu ada saja anak-anak tetangga dan teman-teman sekampung yang datang ke rumah untuk dipermak kepalanya. Bahkan teman-teman kakak saya yang terpaut jauh usianya juga minta dirapikan rambutnya.

Lain lagi ceritanya teman-teman SMU. Karena saya sekolah jauh di Kota Kabupaten yang berjarak 20 Km dari rumah, sehingga teman-teman sekolah hanya merasakan lakek tangan saya saat menjelang ujian semester. Sebelum ujian semester dilaksanakan terlebih dahulu diawali oleh pembagian nomor ujian dihari terakhir sebelum ujian diselenggarakan. Biasanya ujian diselenggarakan hari Senin maka hari Sabtu sebelumnya diselenggarakan pembagian nomor ujian dengan syarat adminitrasi yaitu tunggakan SPP harus lunas. Selainnya itu juga ada syarat lainnya. Guru BP dan Panitia ujian duduk di meja panjang untuk memeriksa beberapa persyaratan lainnya yaitu ; (1) Kuku tidak boleh panjang, harus bersih dan rapi, (2) Rambut tidak boleh melebihi batas kuping dan (3) Untuk Putera; Ujung Kaki Celana minimal 20 cm sedangkan untuk Puteri Minimal Ujung Rok 5 cm di bawah lutut.

Untuk memenuhi syarat nomor dua inilah keberadaan saya penting. Di pojok sekolah dibawah pohon sukun di samping WC. Yang mana dinding sebelah luar WC sudah diberi tempat injakan kaki yang sering digunakan siswa yang datang ke Sekolah setelah pagar terkunci alias telat. Kadang juga digunakan untuk cabut sebelum jam bel tanda pulang berbunyi.

Dengan sebuah gunting, sisir dan cermin kecil saya stand by di bawah pohon sukun untuk berjaga-jaga jika ada teman putera yang nyangkut di syarat nomor 2. Dengan sigap, cepat dan tepat gunting dan sisir berorkestra di kepalanya, sekali-kali saya berhenti sejenak dan mempersilakan klien mematut-matut bagian manalagi yang akan dikurangi. Selesai klien balik lagi mengikuti antrian pengambilan nomor ujian.

Sukses mendapatkan nomor ujian klien senang. Saya turut senang. Kadang kami rayakan dengan makan soto di Kantin Sekolah yang saya sudah lupa nama pemiliknya. Yang masih tersisa di ingatan uni dengan postur kurus bahu sedikit agak naik, berambut keriting. Satu lagi yang saya ingat harga soto Rp 400,- sama seperti harga sebotol Coca-cola dan Sprite kemasan botol 330 ml. Namun waktu itu saya lagi tergila-gila dengan Sprite karena rasa dan sodanya yang kuat terkesan laki-laki bangat. Sedangkan Fanta lebih digemari oleh remaja puteri karena warnanya merah manja yang tersisa di bibir dan rasanya yang manis dengan hanya sedikit soda memberikan kesan girly.

Tapi belakangan setelah selesai kuliah dan sering main playstation di rental yang dilengkapi lemari pendingin berisi aneka softdrink, saya malah keranjingan minum Fanta dan tidak pernah minum Coca-cola apalagi Sprite-yang diiklan Cak Lontong itu- sampai sepuluh tahun lalu berhenti total minum softdrink. Begitulah dalam hal selera saja selalu ada dialektika seiring perjalanan waktu. Maka dari itu setelah banyak mengalami banyaknya perubahan-perubahan rasa like dan dislike dalam hidup ini, mengajarkan kepada saya untuk tidak terlalu mutlak-mutlakan dalam mensikapi segala sesuatu. Berusaha sekuat mungkin untuk tidak Total-totalan dalam dukung-mendukubg, sehingga larut dalam pro-kontra, hanyut oleh gerakan anti ini-anti itu apalagi sampai berujung kepada pemujaan kepada benda atau makhluk ciptaan-Nya.

Setelah berpetualang di belantara Batavia, karir saya sebagai hair stylist amatir juga berhenti. Meskipun teman-teman sekantor yang sering mampir ke kosan, mereka belum bisa percaya kalau saya bisa menggunting rambut selainnya itu orang-orang Batavia juga selalu mempercayakan masalah rambut kepada ahlinya mulai dari dari Barber Shop yang hanya dilengkapi kipas angin tanpa AC milik orang Garut yang biasanya cukup bayar setara dengan sebungkus Nasi Padang sampai Salon berkelas dengan full AC serta fasilitas dan paket sudah seperti menu di Restaurant seperti creambath hingga cat rambut dan menipedi dengan bayaran ratusan ribu rupiah. Di Batavia ini hampir tidak pernah saya melihat remaja memangkas rambut di beranda atau di halaman seperti yang saya lakoni selama sekolah dan kuliah dulu. Awal-awal saya coba menyakinkan dua orang teman dekat bahwa saya sudah biasa memangkas namun mereka tetap tidak percaya. Akhirnya saya nyerah dan pensiun dari hair stylist amatir.

Sekali-kali saya berkunjung ke Jogja. Di sana saya punya dua orang keponakan laki-laki yang masih bocah di kala itu. Tek Ta yang sangat tahu rekam jejak saya dalam dunia perpangkasan tentu dengan senang hati menyerahkan kedua kepala anaknya sebagai sarana bagi saya untuk mengulang kaji lamo.

“Dan masa lalu laksana rak buku tua yang sudah reot, sedangkan kenangan itu bagaikan buku-buku lusuh dan berdebu yang semakin memberatkannya”.

****

Al Albana-Mantan Hair Stylist Amatir

Andalas, 27 Saffar 1439

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close