PENDIDIKAN SEJARAH

Setiap ada sebaran artikel di media sosial yang menarik dan sesuai minat setelah membaca artikel kadang saat iseng saya lanjutkan membaca kolom komentar. Dalam komen-komen saya bisa temukan informasi baru, sudut pandang baru, kelucuan, sekaligus kebegoan dan kejahilan ini yang lebih sering dan banyak maupun campur aduk semuanya.

Kadang saya terhibur, bahkan tak jarang memberikan sudut pandang yang berbeda dengan yang saya pahami selama ini. Namun sering juga saya malah merasa prihatin (SBY Style) terhadap kualitas intelektual dan literasi dari mereka yang berpendidikan tinggi secara formal. Setidaknya aktivitas mereka di Media Sosial bertolak belakang dengan gelar akademis yang mereka sandang. Tidak tahu real life bagaimana? semoga saja cara berfikirnya berbeda dengan dunia maya. Ada orang aselinya sangat terbuka terhadap hal baru dan perbedaan pandangan, asyik berdiskusi namun menjadi garang dan bersudut pandang sempit saat di dunia maya.

Dari membaca komen-komen di media sosial soal sejarah. Tidak cuma sejarah prahara 65, sejarah lain juga misalnya tentang ; Indonesia bagian dari Samedera Atlantis yang hilang, Gajah Mada dan Majapahit yang diyakini oleh sebagian orang merupakan Kerajan Islam, Candi Borobudur yang diduga peninggalan Nabi Sulaiman dan lain sebagainya. Bahkan ilmu pasti sekalipun seperti flat earth yang ramai diperdebatkan belakangan ini. Belum sempat membaca, memahami, mempelajari,mengumpulkan literasi apalagi meneliti kita sudah buru-buru menyanggah berdasarkan literasi tunggal yang pernah kita dapatkan di sekolah dulu. Sebenarnya sah-sah saja dan wajar jika tidak setuju dengan teori yang datanh belakangan. Tapi jangan keras-keras. Tak perlu juga berteriak kencang menolak lalu menyebarkan agar orang lain juga menentang teori baru.

Segala hal yang sudah dianggap final adalah musuh utama pikiran waras. Tapi, kita memang suka yang final-final. Tidak mau berfikir lagi. Malas memikirkan sesuatu. Kemalasan seperti ini tentu bisa berakibat tidak baik. Apalagi jika menyangkut kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Apalagi jika menyangkut hajat hidup orang banyak. Anti itu membunuh nalar.

Kegelisahan saya awalnya hanya pada satu hal yakni cara berfikir kebanyakan kita. Tapi sepertinya tidak bisa sesederhana itu. Kegelisahan saya terhubung dengan satu hal yang kompleks. Ini adalah soal kualitas pendidikan negara ini. Ini bukan kelalaian satu- dua rezim penguasa terakhir. Hal Ini sudah terlalu lama menjadi kebiasaan. Kira-kira seberapa serius para pakar menyusun materi pendidikan dasar? Beliau-beliau itu saat menyusun materi pendidikan buat kita-kita jaman kecil, bener-bener dilandasi niat mencerdaskan bangsa atau buat memenuhi kewajiban saja? Atau ada kepentingan lain dibalik cara penyusunan kurikulum itu.

Selama ini cara kita belajar sejarah sejak SD adalah mempercayai tulisan dan kata-kata (orang). Cara seperti ini untuk mengawali belajar sejarah tak bisa dibilang salah juga. Karena basis pelajaran sejarah memang dari mendengarkan cerita dulu.

Tapi setelah sampai SMA, pendidikan sejarah adalah soal mendengarkan cerita melulu. Tak ada ilmu pengantar “cara mendengar cerita”. Alhasil, dari kids of yesterday evening hingga Om-om jaman now memandang sejarah sebagai sebuah kebenaran yang fixed, tunggal. Tidak boleh ada versi lain, apalagi versi milenial. Kita tidak dilatih untuk memperbarui kacamata jika ada data baru, dan juga tidak dilatih mengantisipasi bahwa mungkin kelak ada data yang lebih baru lagi. Padahal itulah fondasi science, yang baru akan merevisi yang lama. Bukan hanya merevisi bahkan dalam kondisi tertentu mengeliminasi yang sebelumnya.

Sejarah bukanlah serupa kitab suci. Kitab suci tak akan berubah kata-katanya, hanya tafsirnya yang mungkin bergeser setelah melintasi zaman dan kebudayaan. Sedangkan sejarah, jangankan tafsir, materinya saja bisa ganti kalau ada data baru yang lebih tervalidasi.

Repotnya sejarah selain science juga adalah alat yang sangat ampuh untuk kekuasaan. Karena itu tafsir sejarah, wajar sekali, dipegang penguasa. Baik penguasa legal politik maupun penguasa wacana publik. Sejarah itu adalah semacam keris sakti yang diperebutkan dunia persilatan. “Barangsiapa memegangnya, ia akan menguasai dunia persilatan”.

Jadi bagaimana seharusnya sejarah diajarkan?

Bagaimana jika kita sudah asyik-masyuk sama satu versi, lalu ada versi terbaru yang membuat kita tidak nyaman? Are we educated to deal with that?

****

Al Albana, Andalas 29 Saffar 1439

Kategori Telaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close