Mengenang Seorang Guru

Yasril namanya. Hanya satu kata tanpa nama belakang atau nama keluarga seperti nama-nama Arab dan Eropa. Lelaki pendiam namun perokok berat. Hampir tak pernah saya melihatnya tanpa sebatang rokok terselib di bibir atau jari saat berpapasan di luar kelas.

Beliau guru yang mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia dan menjadi walikelas saya saat kelas II. Ya II-4, kelas dua lokal 4 dari enam lokal saat saya bersekolah di SLTP N.2 Sungai Limau hampir tiga dekade silam.

Beliau adalah salah satu guru yang masih terkesan kuat dalam memori saya selain belasan atau puluhan guru lainnya yang telah berjasa membuka cakrawala berfikir saya.

Beliau bukanlah guru yang hebat dengan penuh kehangatan dalam manyampaikan materi pelajaran. Saya yakin itu, karena teknik mengajar hampir seperti monolog hanya sedikit sekali interaksi dengan siswa dalam sesion tanya-jawab sebagai formalitas sebelum menutup pelajaran dan itupun tidak ada siswa yang mengajukan pertanyaan. Namun beliau juga bukan guru killer yang menakutkan. Ekspresi dan intonasi suaranya datar tanpa tekanan .

Berbeda dengan Ibu Zahara-isterinya yang selalu ditunggu kehadirannya karena selain cantik dan imut seperti Yuni Sara lagi pula ibu Zahara mengajar mata pelajaran Keterampilan Jasa yang memang membuat suasana kelas menjadi ramai dan berantakan dengan aneka prakarya, Saya curiga tidak ada yang menunggu kehadirannya di kelas selain saya. Karena memang pada saat SLTP mata pelajaran favorit saya Bahasa Indonesia.

Itu terjadi setelah ada tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia yang beliau ampu, meminta siswa untuk menulis sinopsis dari film Sengsara Membawa Nikmat yang diangkat dari Novel Tulis Sutan Sati yang ditayangkan TVRI. Yang diperankan oleh Dessy Ratnasari dan Sandy Nayoan. Setelah sebelumnya menayangkan Siti Nurbaya, Tak berselang lama TVRI menayangkan lagi Salah Asuhan-Kisah cinta segitiga; Hanafi-pemuda terpelajar berpendidikan HBS dipaksa menikah dengan Rapiah-anak mamaknya sebagai bentuk balas budi yang telah membiayai pendidikannya serta Corri de Busse-gadis Indo-Prancis yang memikat hati Hanafi Karya Abdoel Muis.

Ketiga film itu membuat saya membongkar lemari tua untuk menemukan buku-buku karya sastra Balai Pustaka dan Pujangga Baru. Buku-buku dengan kertas berwarna kekuningan yang lusuh dan sebagian telah dimakan rayap seperti ; Siti Nurbaya(Marah Rusli), Sengsara Membawa Nikmat(Tulis Sutan Sati), Salah Asuhan(Abdul Muis), Azab dan Sengsara(Merari Siregar), Layar Terkembang, hingga Robohnya Surau Kami (A.A.Navis) dan Manusia Harimau (Mukhtar Lubis).

Salah satu pidatonya saat menjadi pembina upacara bendera masih tersimpan kuat dalam ingatan saya hingga hari ini. Karena setahu dan seingat saya hingga tamat SLTP hanya itulah satu-satunya ia berdiri di depan ratusan siswa untuk berpidato. Kalau berbicara di depan kelas memang itulah kewajiban seorang guru.

Ketika itu akhir bulan Oktober yang dikenal sebagai bulan bahasa. Mungkin karena beliau guru Bahasa Indonesia maka Kepala Sekolah memintanya menjadi pembina upacara sekaligus berpidato kepada seluruh siswa. Namun saya curiga Kepala Sekolah tidak hanya sekedar meminta tapi lebih tepat memaksa beliau untuk menjadi pembina Upacara penaikan bendera di senin pagi pada penghujung Oktober itu.

Tahap demi tahap upacara berlansung dengan lancar dan khidmat, tibalah pada saatnya protokol mempersilakan pembina upara untuk menyampaikan pidato. Ia mengambil posisi dengan maju dua langkah. Terdengar suara pemimpin upacara mempersilakan peserta upacara untuk mengambil posisi “istirahat di tempat grak”.

Keringat mulai bercucuran di sekitar wajah dan lehernya, “Baiklah siswa-siswa sekalian untuk pidato upacara bendera pagi ini pidato saya berjudul 6×1 lebih baik dari 1×6″ suaranya sedikit bergetar, ekpresinya sedingin es balok,kertas yang ada ditangan kanannya ikutan bergetar.

Saya heran karena baru kali ini pidato pembina upacara ada judulnya. Biasanya yang disampaikan pembina hal-hal normatif seperti ; tata tertib sekolah, kebersihan lingkungan kelas dan sekolah atau himbauan agar siswa lebih giat mengulang pelajaran di rumah karena waktu ujian semester semakin dekat. Bahkan kepala sekolah pun sekalian yang berpidato tidak pernah menyebutkan judul pidato di awal.

Beberapa menit berlalu terlihat ia semakin dapat mengendalikan diri, suara sudah tidak terlalu bergetar dan sekali-kali berani melemparkan pandangan kepada seluruh peserta upacara. Semakin lama pidatonyo semakin menarik dan berisi. Saya suka itu. Sesuatu yang baru. Bukan hal-hal normatif yang diulang-ulang. Saya yakin ia telah mempersiapkan teks pidato sejak jauh hari.

Sederhananya begini ; 6 kali mempelajari satu topik pelajaran dalam durasi yang pendek jauh lebih baik daripada mempelajari 6 topik pelajaran tapi hanya sekali dengan durasi yang panjang. Singkatnya mempelajari satu topik berulang-ulang jauh belih baik daripada sks (sistim kebut semalam).

Saya sungguh terkesan dengan pidato ini, mungkin karena disampaikan oleh guru yang saya kagumi sehingga dengan mudah saya dapat menerima pesan yang disampaikannya.

Sejak itu saya menggunakan formula yang dianjurkannya dalam mengulang pelajaran di rumah. Tapi tidak percis sama 6×1 seperti judul pidatonya, mana mungkin siswa di zaman saya belajar 6 kali (sepanjang hari) di rumah sepulang dari sekolah. Mungkin karena beliau guru Bahasa Indonesia menggunakan majas hiperbola (lebay) dalam memilih judul pidatonya. Saya modifikasi dari 6×1 menjadi 3×1. Siang, Malam dan pagi.

Setiap hari sesampai di rumah setelah sholat zuhur dan makan siang, lalu saya mengulang pelajaran dengan mengerjakan PR jika ada, jika tidak sekedar membaca ulang pelajaran yang telah disampaikan di sekolah. Tidak lama paling hanya berdurasi 10-20 menit. Kemudian malam selepas magrib dan makan malam. Mempersiapkan perlengkapan dan buku-buku yang akan dibawa besok. Kemudian melanjutkan dengan mengerjakan PR jika belum selesai siang tadi. Kemudian esok pagi setelah subuh membaca pelajaran yang akan di pelajari sekitar 10 atau 15 menit sebelum mandi.

Al hasil racikan ini memang mujarab, nilai raport menguras habis perbendaharaan kata pujian dari orang tua dan guru serta mendapatkan apresiasi dari sekolah berupa beberapa lembar buku tulis yang dapat digunakan untuk semester depan.

Belakangan formula ini saya terapkan kepada anak namun mengingat beratnya bobot kurikulum saat ini, membuat formula ini tidak mujarab lagi. Belajar 3×1 sehari dengan durasi 10-30 menit tidak akan dapat menuntaskan PR yaitu mengerjakan LKS setebal 120 halaman yang mesti selesai dalam jangka satu bulan. Sedangkan dalam satu semester ada empat LKS yang mesti dikerjakan tuntas sebelum ujian. Beratnya bobot pelajaran saat ini membuat saya pernah berbisik kepada isteri agar tidak kedengaran anak “seandainya saya sekolah pada jaman sekarang dan beban pelajaran seperti ini, mungkin saja saya sudah drop out dari bangku SD”.

Agar tulisan ini tidak melebar kemana-mana, di hari guru ini saya haturkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Yasril dan seluruh guru yang telah menyalakan pelita ilmu dalam kegelapan kejahilan saya jika mereka masih hidup sedangkan jika mereka telah mendahului kita bertemu Rabb-Nya Al Fathiah untuk mereka.

****

Al Albana~Seorang Murid/Pelajar/Siswa~

Andalas, 05 Rabiul Awal 1439

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close