Ketahuilah!

Jika kamu punya waktu, saya akan ceritakan dua orang yang ada dalam photo ini.

Photo ini diambil sekitar satu dekade silam. Pertengahan 2006. Seingat saya liburan sekolah. Meski bulan Juni tapi bukan tentang kisah ‘Hujan di bulan Juni’ milik Sapardi Joko Darmono, walaupun kisahnya sedikit agak mirip. Dan bukan pula cerita tentang pengunjung yang tertahan masuk Dufan karena tak memiliki tiket atau tertipu akibat membeli tiket palsu dengan harga miring.

Perempuan yang berkalung surban, upps maaf maksudnya berkerudung putih ini sahabat saya semasa kuliah, disebut sahabat “dekat” dengan tanda kutip juga tidak, sahabat jauh juga bukan. Ya sahabat. Yang jelas nomor BP sebagian orang bilang stambuk kami berdekatan. Sehingga beberapa kali kami satu kelompok dalam beberapa praktikum.

Perempuan berkerudung putih itu sangat terampil dan mahir dalam praktikum, mulai dari kalibrasi alat, menakar, menimbang,mengaduk, mencampur hingga stadarisi berbagai larutan apalah namanya saya sudah lupa. Itu karena memang dia sudah terbiasa. Ia lulusan SMAK (SMK Kimia).

Sedangkan laki-laki tak berkerudung di sebelahnya yang kala itu masih ceking dengan rambut sedikit agak panjang. Laboratorium adalah hal yang membuat dia anyang-anyangan. seorang yang lebih berminat kepada hal-hal yang sublim dan abstrak, tentu saja pembuktian-konkrit di laboratoriun kurang menarik hatinya. Maka dari itu dia lebih memilih menjadi juru tulis alias tukang buat laporan sambil mancaliak-caliak jauh teman kelompok yang sedang bekerja. Baginya bersentuhan dengan zat kimia seperti saat ; menakar, mencampur, mengaduk atau terhirup gas sungguh hal menakutkan. Maka dari itu setiap pulang praktikum dia rajin beli susu kental manis sasetan untuk diminum sesampai di kosan. Atau sekali-kali membersihkan alat-alat setelah praktikum usai itu pun karena dipaksa.

Dua-duanya pernah terlibat satu scene dalam penelitian di Balitbang Gadut. Mereka berpartner dalam penelitian yang berjudul Pengolahan Alang-Alang menjadi Pulp. Hampir seluruh tahap-tahap dari proses penelitian dilakukan sepenuhnya oleh perempuan berkerudung putih itu, sedangkan lelaki ceking itu lebih sering makan nasi ampera dan minum ektra joss di warung seberang jalan. Penelitan yang melelahkan itu akhirnya selesai juga dalam waktu empat bulan dengan jeda sebulan sesaat menjelang dan pasca lebaran.

Usai penelitian, mereka pernah menyatukan ide untuk bekerja sama mengaplikasikan hasil penelitian dalam skala industri. Perempuan berkerudung putih itu memiliki gagasan yang visioner. Ia berencana mengaplikasikan penelitian itu dengan mendirikan Pabrik Kertas berbahan baku Alang-alang untuk memenuhi kebutuhan kertas dunia. Ya, kertas dengan harga terjangkau. Karena bahan baku dari Alang-alang yang selama ini hanya sebagai gulma yang tidak bernilai ekonomis. Menyediakan kertas dengan harga terjangkau berarti mereka turut berpartisipasi dalam dunia literasi. Otomatis ikut andil dalam mengembangkan Pendidikan Nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan demikian mereka juga berperan dalam mengurangi penebangan pohon untuk bahan baku kertas. Duh, cita-cita yang mulia.

Namun ide itu tidak berada pada titik kulminasi yang sama. Berbeda dengan perempuan berkerudung putih dengan ide visioner, justeru lelaki yang tidak berkerudung itu terlalu sederhana visinya. Ia hanya ingin mendirikan pabrik kertas yang memproduksi kertas warna-warni dan artsy dengan pasar segmented seperti kertas origami untuk anak-anak PAUD dan TK atau Kertas untuk diary muda-mudi.

Begitulah waktu memanjangkan sulur-sulurnya hingga mereka bertemu lagi, salah satunya seperti di photo ini. Gagasan mereka boleh kandas dalam mendirikan Pabrik Kertas dari Alang-alang karena visi yang berbeda, namun dalam lain hal mereka bersepakat. Dan saat ini perempuan berjilbab putih tengah membesarkan seorang putera yang sangat dicintainya. Sembari mengurus sebuah toko– ‘anak ideoligis’–yang diimpikannya sejak awal menikah 9 tahun lalu.

Saya menjadi saksi dan ingatan itu tidak pernah menjadi ‘kemarau’ di kepala ketika perempuan berjilbab itu mengungkapkan kegalauannya saat awal menikah ; “Saya lebih senang suami berniaga daripada kerja di Bank Niaga”. Alhamdullilah setelah 8 tahun keinginan itu terwujud. Lepas dari cengkaraman riba dan kapitalis.

Sementara lelaki tak berkerudung itu menempuh jalan sunyi menjadi Ronin, sembari terus melatih jurus-jurus Ninja-nya. Sesekali mengintip kesempatan dan berharap menjadi Stand Man Iko Uwais. Jika pun tidak, menjadi sansak Joe Taslim juga tak mengapa, karena posturnya yang bulat buntal memang cocok untuk itu.

***

Al Albana, Andalas 09 Rabiul Awal 1439

Ps ; kedua orang di photo itu aseli bukan mahkluk astral dan kisah nyata, namun karena yang menulis suka mengarang-ngarang seperti Oom Frederick Yunadi maka kisahnya sudah ‘dibumbui’ agar sedap dibaca. Tapi Alhamdullilah ‘sengarang-ngarangnya’ tidak bawa bakpao agar orang percaya, mau percaya monggo kalau tidak no problemo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close