Al Qur’an Tak Butuh Endorse dan Bukan Pula Endorsment

Sebagai muslim, sama seperti anda dan muslim lainnya, tentu saya menyakini kebenaran Al-Quran mutlak di atas segalanya. Dengan demikian, menurut saya (anda boleh tidak setuju) kurang bijak memperlakukan Al-Quran seolah-olah butuh endorsment dari sain atas segala kebenaran yang dikandungnya

Maka dari itu tak perlulah membesar-besarkan temuan sains yang berkorelasi dengan kebenaran kandungan Al Qur’an. Misalnya keharaman Babi ? Walaupun secara sain telah membuktikan bahwa daging Babi mengandung cacing pita yang berefek buruk terhadap kesehatan. Atau Babi punya pola hidup yang jorok bahkan memakan kotoran sendiri. Jika nanti ada yang membantah dengan analogi bahwa lele yang makan kotoran manusia kenapa tidak haram?, atau kenapa non muslim yang makan daging Babi tetap sehat dan masih hidup. Bisakah anda menjelaskannya?. Atau anda didesak menjelaskan secara sain ilmiah peristiwa Isra’ Mi’raj. Mampu?. Jika saya tidak. Jika saya ditanya kenapa Babi haram, Saya akan menjawab dengan singkat “Agama saya (Islam) telah mengharamkannya”, tanpa perlu penjelasan Sain ilmiah. Wa sami’ na wa ata’na seperti yang telah dicontohkan oleh para sahabat dan generasi terdahulu.

Beragama kok sok-sok ilmiah-ilmiahan. Jelas dasar beragama (Islam) karena iman melalui hidayah yang ditancapkan Allah dalam hati dengan cara yang diinginkan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Banyak tulisan di forum internet yang mengkisahkan mengenai ilmuwan yang beralih memeluk Islam karena membuktikan kebenaran ayat-ayat dalam Al Qur’an. Dan benar kenyataan memang seperti itu mereka beralih ke Islam setelah membuktikan kebenaran Al Qur’an. Namun ada juga yang tidak. Ini nanti akan jadi bumerang jika anda terlalu membesar-besarkan hal-hal seperti itu.

Jacques Cousteau adalah Marinir Prance dan Peneliti yang menemukan sungai air tawar dibawah laut seperti yang tercantum dalam Surah Al Furqon 53.

Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al-Furqan: 53)

*

Jacques Cousteau hingga akhir hayatnya tidak jelas agamanya namun saat meninggal pada 25 Juni 1997 disemayamkan di Ketendral Notre Dame Paris. Jenazahnya tidak diselenggarakan secara Islam. Tapi dikabarkan telah beralih ke Islam oleh media daring dan dibagikan di media sosial yang sering menyampaikan berita tak terverifikasi untuk memburu ‘like’ dan ‘Share’ dalam mengumpulkan pundi-pundi fulus dari google ads.

Dan sebaliknya Al Qur’an yang maha tinggi menjadi pedoman hidup bagi muslim jangan direndahkan dengan menjadikannya setara dengan artis dengan menjadikan Al Qur’an sebagai endorsment produk yang anda jual. Al Qur’an bukan Ayu Tingting, Aw Karin atau Ria Ricis yang seenak anda utak-atik dan comot untuk mengenjot omset.

Mari kita berniaga sesuai syariat agama (Islam) bukan menjual Agama (Al Qur’an) dalam berniaga. Cukuplah politisi saja yang mejual ayat-ayat Al qur’an dalam mengejar syahwat politiknya.

****

Al Albana, Andalas 14 Rabiul Awal 1439

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close