Perihal Friendlist

“Di dunia ini, ada dua jalan agar seseorang bisa jadi kaya. Dia harus punya banyak uang, atau dia harus punya banyak teman. Harus memilih satu karena mustahil untuk memiliki keduanya.”

Kalimat itu yang diucapkan Alfred Heineken-miliarder pembuat bir- kepada penculiknya.

Berdasarkan nasehat itu, karena cara pertama sepertinya agak berat, maka saya akan menerima semua permintaan pertemanan di Facebook. Kecuali yang namanya aneh-aneh, seperti chah ayoe manies manja, Chyantique Chayank Celhalhu, atau nhenk imoet inkin dichayank. Bukan apa-apa saya curiga mereka masih dibawah umur yang belum pantas membaca yang saya posting meski tidak vulgar. Atau mungkin usia sudah matang namun mental masih lembek seperti bubur.

Bahkan belakangan agar timeline facebook tidak terlalu ‘nyesak‘ oleh berita-berita yang beraroma politik saya berinisiatif mengirimkan permintaan perteman kepada praktisi kuliner dan Bakoel Hijab dan Gamis Syar’i. Walaupun sekedar melihat-lihat aneka makanan lumayanlah cukup mewarnai timeline dengan aroma ‘pedas, asin, gurih, kriuk dan asem’, kapan-kapan order. Mesti hingga hari ini saya belum mendapat hidayah untuk berhijab, setidaknya bisa nyambung ketika isteri minta komentar mengenai pakaian yang akan dikenakannya. Tidak seperti selama ini dengan comment pendek-pendek ; “Bagus”. “Cocok”. “Terserah”.

Apalagi hubungan pertemanan yang sudah ada di friendlist Facebook , saya berusaha untuk tidak memutuskan pertemanan meskipun berbeda bahkan bertolak belakang dalam mensikapi segala isu di dunia maya ini. Bagi saya selagi tidak menggunakan kata-kata kasar, kotor dan caci-maki saya tidak akan mengunfriend apalagi memblokir seseorang. Tapi kalau sudah menggunakan kata-kata kasar, kotor dan caci maki tentu saja saya–sebagai penyuka kata indah dan halus-tidak nyaman melihatnya maka dengan berat hati akan mengunfollow.

Pernah juga saya mengunfriend sebuah akun tapi tidak banyak, itu juga karena akun tersebut sering ‘mentag’ nama saya dalam berjualan MLM, produk Asuransi dan Money Game. Sebenarnya saya tidak tega juga, namun harus bagaimana kalau cuma diunfollow ia akan tetap bisa mentag nama saya. Begitulah risiko nama depan yang diawali dengan abjad ‘a’. Setidaknya anda dengan nama depan diawali huruf ‘z’ beruntung tidak mendapat invite game crush saga dan semacamnya.

Begitu juga sebaliknya, saya juga pernah diunfriend . Tapi saya maklum setiap orang berhak untuk tidak melihat apa yang tidak disukainya. Mungkin saja postingan saya tidak disukai hingga mengganggu kenyamanannya . Biasanya yang mengunfriend saya akun-akun ‘NKRI Death Price’ atau Agama garis Keras.

Lapi pula hubungan dunia maya hanya relasi antar akun. Biasa saja jika; putus-nyambung. Jika pemilik akun memang teman, saudara, tetangga atau kerabat di dunia nyata akan tetap seperti biasa. Beda dunia nyata dan maya, meskinya disikapi juga dengan cara yang berbeda.

Ada berapa akun yang ada di friendlist saya gemar bangat menyebarkan berita hoax. Dalam hal ini kecepatan jempolnya melebihi Tendangan Tanpa Bayangan milik Sinto Gendeng. Bukan sekedar gemar lagi tapi sudah seperti kecanduan bahkan kebutuhan. Seperti pemakai dengan shabu, politisi dengan korupsi, ABG alay dengan selfie . Relasi mereka dengan hoax seperti hubungan ikan dengan air. Ikan akan mengap-mengap jika dipisahkan dengan air begitu pula mereka, jika melewati hari tanpa menyebarkan hoax.

Awal-awal dulu pernah saya nasehati, namun karena saya bukan seperti Joseps Goebbel-ahli propaganda Nazi- tentu saja tidak mempan dan berubah, terpaksa saya biarkanlah mereka sesuka hatinya hingga tertelan oleh kebencian sendiri.

Setiap jam, setiap hari, berpekan-pekan lamanya, hanya membagikan topik politik semata. Saya menduga penyebabnya: tak ada soal lain yang menarik di sekitarnya, tak bisa menuliskan aneka ragam kisah-kisah, atau tak percaya diri untuk keluar dari keramaian dan keriuhan dunia politik beralih topik mengundang sepi.

Dunia maya ini sungguh lapang untuk berkabar apa saja dan menulis aneka rupa. Sayang jika hidup dan pikiran terpenjara di padang maya yang luas tiada batas. Dunia maya seperti savana yang pinggir rumputnya nun jauh di kaki cakrawala. Hanya langit ujungnya.

Namun belakangan saya pikir-pikir ada juga gunanya mempertahankan akun-akun penyebar hoax itu. Jika ada suatu khabar atau peristiwa saya akan cek di timeline mereka ; jika mereka (akun-akun penyebar hoax) ikut membagikan berarti benar khabar hoax atau sebaliknya, jika akun-akun itu tidak menyebarkan, berarti info aseli bukan hoax.

Contohnya peristiwa pemboman dan penembakan yang terjadi pada sebuah Masjid di Semenanjung Sinai-Mesir pada Jum’at pekan lalu. Mereka–akun² penyebar hoax tidak ada yang membagikan. Berarti info valid, sah pengeboman itu benar terjadi.

Begitu pula Pidato Sang Jendral yang lagi naik daun pada sejak setahun lalu puncaknya September lalu bahkan sampai mendapat lebel Umar Bin Khattab jaman now oleh warganet pada Munas Partai Nasdem yang secara ekplisit menyiratkan dukungan kepada Jokowi, padahal selama ini umat menaruh harapan di pundaknya untuk menkudeta Jokowi. Saya kaget membaca tautan tersebut dari sebuah situs online lalu melakukan crosceck ke akun-akun penyebar hoax tak seorangpun yang membagikan. Berarti shohih berita itu benar. Berbeda dengan photo-photo Ahok sedang berenang di laut yang beredar setelah dia di penjara atau berita penyanderaan di Papua. Hampir seluruh akun-akun penyebar hoax di friendlist saya menyebarkan.

Begitulah dunia bekerja tidak ada satupun ciptaan Allah yang tak berguna apalagi manusia-mahkluk ciptaan Allah yang sempurna.

Pepatah Minang yang sampaikan oleh Alm Tiar Ramon mengajarkan kepada kita.

Oi sanak …
Kok cadiak usah mambuang kawan
Kok gapuak usah mambuang lamak
Cando papatah urang nan tuo …

Nan buto paambuih lasuang
Nan pakak palapeh badia
Nan lumpuah pahalau ayam
Samo paguno kasadonyo …

Iko kato oi kanduang nan sabananyo
Jadi sabutan sajak dahulu …
Kok satitiak jadikan lauik …
Alam takambang manjadi guru
Kok satitiak jadikan lauik …
Alam takambang manjadi guru.

****

Al Albana, Andalas 15 Rabiul Awal 1439

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close