Orkestra Sang Jenderal

Setahun terakhir Sang Jenderal tengah masyuk memainkan orkestra. Puncak september lalu “Saya yang perintahkan, mau apa?” Tantangnya ketika menginstruksikan kepada seluruh jajaran di bawah komandonyo untuk menonton film G-30 S/PKI”. Selanjutnya khabar simpang siur tentang import senjata ilegal.

Akrobatnya dengan melemparkan pernyataan yang beraroma politis ikut melumpuri wajah korp kepolisian memang sudah bopeng-bopeng yang tengah berhadap-hadapan dengan sekelompok rakyat sebagai ekses dari Pilkada Jakarta.

Belajar dari polemik Megawati Presiden kala itu dengan SBY-Menkopolsoshankam pada 2003. Yang mana akibat polemik itu berhasil mengantarkan SBY menjadi Presiden dengan mengalahkan Megawati pada Pilpres 2004. Jokowi tidak ingin masuk kedalam pusaran politik yang tengah dimainkan Sang Jenderal. Tak ingin terjebak dalam lantunan orkestra yang sedang dimainkan Sang Jenderal.

Nyaris tidak ada sahutan dari Jokowi dalam menanggapi orkestra Sang Jenderal. Dengan cerdik Jokowi meminta dua orang menterinya merespon dendang Sang Jenderal yaitu Wiranto-Menko Polhankam menanggapi isu import senjata ilegal dan Ramizard Rangkudu-Menteri Pertahanan merespon isu Kebangkitan PKI. Bahkan Jokowi yang sejak masa kampanye hingga saat ini dituduh sebagai anak PKI meresponya dengan ikut Nonton Bareng Film G 30 S/PKI. Bisa disebut tonil ini tidak berhasil, selain mengantarkan Jonru menjadi pesakitan.

Hingga akhirnya minggu lalu terdengar khabar pergantian Panglima TNI jabatan yang beliau emban. Kekuatan yang menopangnya.

Di arena percaturan politik, kita sedang menyaksikan fragmen diam, tanpa suara. Manuver Gatot ditanggapi dingin. Hingga akhirnya, kekuatan utama yang selama ini menopangnya diambil alih. Tindakannya yang menggalang kekuatan diputus di tengah jalan. Bahkan dia dilarang untuk mengganti sejumlah perwira tinggi TNI. Mau tak mau, dia dipaksa menari dengan langgam berbeda. Apakah dia akan sukses di arena yang baru?

Apakah bintang Sang Jenderal semakin bersinar hingga Pilpres 2019 dan sukses mengikuti pendahulunya; SBY atau meredup seperti seniornya yang lain Jenderal Moeldoko?

Menarik. Mari kita saksikan orkestra Sang Jenderal selanjutnya

****

AL Albana, 19 Rabiul Awal 1439

Kategori Esai, Tokoh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close