Sibuk Mengkritisi Hingga Lupa Diri

Disadari atau tidak. Diakui atau tidak keriuhan Media Sosial terkadang dapat mengikis nalar sebagian orang.

Jempolnya terlalu lincah menari di keypad untuk menumpahkan semua yang disukai dengan puja-puji terlebih lagi yang tidak disukai dengan caci maki. Merasa paling tahu tentang segala hal yang orang-orang bicarakan. Tidak pernah ingin ketinggalan mengomentari sesuatu. Bahkan sesuatu yang sebenarnya gelap dan tak sedikit pun punya ilmu.

Terlalu bersemangat dalam mengkritisi tak jarang membuat lupa cara berfikir kritis. Di era kemudahan mengakses informasi saat ini, tidaklah sama mengkritisi dengan berfikir kritis apalagi mengkritisi diri sendiri. Logika berfikir seperti ini pelan-pelan harus diperbaiki.

Riuh rendah puja-puji mengiringi langkah Caisar saat meninggalkan panggung Joged–yang telah melambungkan namanya. Dari seorang tukang ojek yang hanya dikenal oleh keluarga dan teman-teman seprofesi menjadi selebritis yang dikenal dari Aceh hingga Papua dari Mingas hingga pulau Rote. Dari Bocah yang baru bisa ngomong hingga eyang yang sudah omponh. Dia memilih meninggalkan panggung dengan gemerlap lampu dan sorotan mata para penggila dunia showbiz menempuh jalan sepi tanpa sorak dan tepuk tangan pemirsa.

Tak berselang lama, tak cukup satu kali coblosan pemilu, dia kembali ke dunia hiburan yang telah membesarkan namanya. Entah karena alasan apa. Dan memang dia tak ada kewajiban menjelaskan alasan kepada publik kecuali kepada orang-orang terdekat yang terkait lansung dengannya.

Fans yang dulu memuja langkah saat hijrah meninggalkan panggung hiburan yang dulu memujanya berbalik mencibir dan mencaci-maki atas keputusannya kembali ke dunia entertainment. Segudang dalil dan hujjah digunakan untuk menghujat langkahnya. Dunia memang tak pernah ramah kepada orang yang tak istiqomah terlebih lagi jika anda seorang pesohor.

Ironis memang, barangkali juga tak pernah mengkritisi diri sendiri. Mereka yang menghujat Caesar, dengan bangga mengunggah photo-photo ketika mengantarkan sang buah hati dalam ajang pencarian bakat. Bernyanyi dan berjoged seperti Caesar.

Sejatinya tujuan menuntut ilmu adalah mendekatkan diri kepada sang Khaliq hal ini terpresentasi dari peningkatan ibadah dan amalan segaris dengan itu ilmu yang dipelajari mestinya memperbaiki diri sendiri dan keluarga. Ini akan terlihat dari akhlak dan tutur kata (tulisan jika di media sosial). Bukan bagian dari ilmu jika ditujukan untuk memperbaiki keimanan dan amalan orang lain apalagi orang-orang yang hanya kita kenal dari media sosial.

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close