Menunggu Lonceng Berdentang

Semenjak pindah ke sekolah, berhubung masuk siang saya tidak setiap hari mengantarkanmu. Kamu diantar-jemput oleh Bunda. Kecuali hari Jum’at itulah saatnya saya yang mengantarkanmu ke sekolah. Selepas menunaikan sholat Jum’at kita bergegas berangkat agar tidak terlambat.

Pagi ini adalah hari pertama class meeting yang dilaksanakan setelah usai ujian semester. Acara class meeting dijadwalkan jam 7 pagi. Kamu sangat antusias karena ini hal pertama bagimu. Makanya dari selesai mandi pagi kamu sudah mendesak agar kita segera berangkat. Padahal jarum jam masih menunjukan pukul 06.30. Kita berangkat setelah makan pagi.

Sampai di sekolah masih sepi. Ada si gendut Abdul dengan temanmu yang lain–saya tidak tahu namanya berjalan di halaman menuju kelas. Kamu bergegas turun lalu berlari menyusul mereka menuju kelas.

Biasanya setelah mengantarkanmu saya lansung balik. Karena kita datang kepagian dan loncenh belum berdentang saya sengaja mengulur-ulut waktu untuk kembali . Ngaso di bibir halaman di teras kelas V.

Saya senang mengamati kamu dan teman-teman berlarian. Bolak-balik antara kelas dan halaman. Sekadar ingin mengenang bahwa saya pun pernah demikian.

Saya harus percaya, Nak, kalau ada hal yang tidak berubah tentang sekolah dari zaman saya-Tempoe Doeloe hingga Jaman Now itu adalah keenganan dan kegembiraan saat lonceng berdentang. Enggan saat lonceng tanda masuk sebagai tanda di mulai pelajaran karena ingin terus berlarian di halaman atau dalam kelas. Kebahagiaan ketika Lonceng tanda bubaran sekolah dengan berhamburan keluar kelas sesegera mungkin untuk bermain di halaman. Bundamu sering cerita kamu selalu minta waktu sekejab setiap diajak pulang setelah bubaran sekolah dan itu sudah terjadi sejak TK hingga saat ini.

Nikmatilah, karena mungkin di Sekolah Menengah nanti kamu akan bertemu seseorang yang membuatmu buru-buru datang ke sekolah tidak ingin bergegas pulang ke rumah bukan karena alasan saat ini (ingin dengan berlarian di halaman sekolah)

Pukul 07.30 lonceng berdentang. Bunyinya mengema ke seluruh kelas dan pojok halaman tempat kamu dan teman-teman asyik bermain. Sisa hujan beberapa hari ini, menyisakan tanah basah. Anak -anak dari kelas paralelmu satu-persatu sudah merapat ke halaman utama tempat seorang guru yang sejak lonceng berdentang tadi tak henti-hentinya memanggil murid-murid berkumpul dan memberitahukan acara segera dimulai. Beberapa murid dari kelasmu juga sudah bergegas menuju halaman, saya melihat Aliya-Teman sebangkumu ketika pertama kali masuk di sekolah ini, katamu dia selalu mengunyah dan malas bergerak. Tapi kamu belum muncul.

Lalu saya lihat ada tiga orang anak yang tidak lewat jalan setapak dan sengaja melintasi lapangan rumput yang masih basah. Ada Bilal, Abdul, satu lagi saya tidak tahu namanya dan yang berjalan paling belakang adalah kamu. Kamu tidak melihatku. Jadi saya biarkan.

Kamu sudah tahu risikonya lewat di situ, lumpur akan membuat langkahmu semakin berat, dan di ujung lapangan itu ada tanaman pagar yang harus dilompati. Saya tak mencegahmu karena kamu berhak memilih jalanmu sendiri, Nak. Saya hanya perlu memastikan bahwa tujuan kalian adalah halaman utama, di sana telah menunggu wakil kepala sekolah yang dari tadi menunggu.

Setelah memastikan kamu dan teman-temanmu masuk barisan sesuai kelas masing-masing, saya pun beranjak pergi.

Saya menunggumu membawa cerita tentang hal yang menjadi pengalaman pertama bagimu. Mungkin juga cerita yang sama pernah saya alami dulu namun sudah lama dan lupa. Atau cerita yang berbeda yang tidak pernah saya alami bahkan tidak pernah mendengar. Lomba-lomba kekinian. Zaman yang bergerak.

Oh ya, tadi sembari menyaksikan kalian bermain sebelum lonceng berdentang, saya membersihkan kulit telapak tangan yang mengelupas terutama di bagian jari. Kamu ingatkan? Beberapa bulan sebelum resign dua tahun lalu, seluruh kulit telapak tangan dan juga kaki mengelupas, ketika itu kamu sebut berganti kulit seperti Ular sebagai persiapan untuk menghadapi kehidupan yang baru.

Aktifitas melepaskan kulit yang mengelupas di jari membawa saya menelusuri sidik jari sendiri. Selama ini, jempol ini sering saya pakai untuk mengetik banyak hal di handphone, menyebar tulisan di media sososial seolah-olah saya paling tahu tentang segala hal yang orang-orang bicarakan. Tidak pernah ingin ketinggalan mengomentari sesuatu. Bahkan sesuatu yang sebenarnya gelap dan tak sedikit pun saya punya ilmunya.

****

Al Albana, 21 Rabiul Awal 1439

Kategori My Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close