Empat Pemuda Dengan Cita-Citanya

Dear Alwi

Konon khabarnya menurut ahli parenting, nasehat yang baik adalah dengan memberikan teladan. Namun dalam hal ini saya bukanlah contoh yang tepat. Maka dari itu saya akan ceritakan kepadamu sebuah kisah empat pemuda-sahabat muda Rasullulah dengan cita-cita masing-masing.

Dikisahkan sore itu, matahari memancarkan benang-benang cahaya keemasan di atas Baitul Haram, menyapa ramah pelataran yang suci. Di Baitullah, sekelompok sisa-sisa shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tokoh-tokoh tabi’in tengah mengharumkan suasana dengan lantunan tahlil dan takbir, menyejukkan sudut-sudutnya dengan doa-doa yang shalih.

Di dekat rukun Yamani, duduklah empat remaja yang tampan rupawan, berasal dari keluarga yang mulia lagi terpandang. Seakan-akan mereka adalah bagian dari perhiasan masjid, bersih pakaiannya dan menyatu hatinya.

Mereka adalah tiga bersaudara ; Abdullah bin Zubeir, Mushab bin Zubeir dan Urwah bin Zubeir serta seorang kerabatnya Abdul Malin bin Marwan putera dari Marwan bin Hakam.

Salah seorang di antara mereka mengusulkan agar masing-masing mengemukakan cita-cita yang didambakannya. Sebagaimama remaja tanggung saat ini, maka khayalan mereka melambung tinggi menjulung tinggi ke atas langit yang menaungi Ka’bah serta dan berputar mengitari taman hasrat mereka yang subur.

Mulailah Abdullah bin Zubair angkat bicara: “Cita-citaku adalah menguasai seluruh Hijaz dan menjadi khalifahnya.”

Saudaranya, Mus’ab menyusul “Keinginanku adalah dapat menguasai dua wilayah Irak dan tak ada yang merongrong kekuasaanku serta menikahi Sakinah binti Hussein bin Ali dan Aisyah binti Thalhah bin Ubaidillah

Giliran Abdul Malik bin Marwan berkata, “Bila kalian berdua sudah merasa cukup dengan itu, maka aku tidak akan puas sebelum bisa menguasai seluruh dunia dan menjadi khalifah setelah Mu’awiyah bin Abi Sufyan.”

Sementara itu Urwah bin Zubeir diam seribu bahasa, tak berkata sepatah pun. Semua mendekati dan bertanya, “Bagaimana denganmu, apa cita-citamu kelak wahai Urwah?” Beliau menjawab, “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberkahi semua cita-cita dari urusan dunia kalian, aku ingin menjadi alim [orang berilmu yang mau beramal], sehingga orang-orang akan belajar dan mengambil ilmu tentang kitab Rabb-nya, sunah Nabi-Nya dan hukum-hukum agamanya dariku, lalu aku berhasil di akhirat dan memasuki surga dengan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Tahukah kamu Nak ?, apa yang terjadi di belakang hari?

Waktu pun memanjangkan sulur-sulurnya. Hari-hari berlalu, masa berganti. Ikrar yang mereka ucapkan di rukun yamani menjadi kenyataan.

Abdullah bin Zubeir, menghimpun kekuatan ditengah gonjang ganjing politik kekuasaan pasca terbunuhnya Hussein bin Ali. Dengan kekuatannya Ia mendeklarasi diri sebagai pemimpin Hijaz (Makkah & Madinah) mengadapi Khalifah Bani Umayah Yazid bin Muawiyah. Namun akhirnya ia terbunuh oleh pasukan Hujaj bin Yusuf-Panglima pasukan Abdul Malik bin Marwan-Khalifah keempat Bani Umayah di dekat Ka’bah tidak jauh dari tempat mereka mengikrarkan cita-cita masing-masing.

Sedangkan Mus’ab bin Zubeir ditunjuk oleh Abdullah sebagai pemimpin di Iraq untuk menghadapi pasukan Abdul Malik bin Marwan. Mus’ab berhasil menggenggam harapannya dan juga berhasil menikahi Sakinah binti Hussein dan Aisyah binti Thalhah.

Namun akhirnya sebagaimana kakaknya-Abdullah bin Zubeir, Mus’ab juga terbunuh oleh pasukan Abdul Malik bin Marwan-Sahabat mereka sendiri.

Abdul Malik pun mencapai impiannya jauh lebih tinggi dari Abdullah dan Mus’ab jika diukur dengan kacamata dunia. Ia berhasil menjadi Khalifah Umayyah ke-4 setelah menggantikan Muawiyah II-Muawiyah bin Yazid bin Muawiyah bin Abu Sofyan karena merasa tidak berkompeten dan berminat menjadi Khalifah.

Kekuasaannya meliputi seluruh dunia Islam. Namun badai fitnah yang tak kunjung padam pasca terbunuhnya Ustman bin Affan memaksa ia berhadapan dengan sahabatnya yaitu ; Abdullah dan Mus’ab bin Zubeir yang terus mengerogoti kekuasaanya di Hijaz dan Iraq.

Kamu tahu Nak? Apa yang dilakukan oleh Urwah bin Zubeir dan bagaimana dengan cita-citanya?

Meskipun kedua saudaranya Abdullah dan Mus’ab terlibat dalam konflik politik dengan Bani Umayyah (Abdul Malik bin Marwan) namun ia (Urwah) tidak melibatkan diri dalam badai fitnah itu. Ia tenggelamkan dirinya ke dalam Samudera Ilmu.

Demi merealisasikan cita-cita yang didambakan dan harapan kepada Allah yang diutarakan di sisi Ka’bah yang agung tersebut, beliau amat gigih dalam usahanya mencari ilmu. Maka beliau mendatangi dan menimbanya dari sisa-sisa para shahabat Rasulullah yang masih hidup.

Beliau mendatangi rumah demi rumah mereka, shalat di belakang mereka, menghadiri majelis-majelis mereka. Beliau meriyawatkan hadis dari Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Zaid bin Tsabit, Abu Ayyub al-Anshari, Usamah bin Zaid, Sa’id bin Zaid, Abu Hurairah, Abdullah bin Abbas, Nu’man bin Basyir dan banyak pula mengambil dari bibinya, Aisyah Ummul Mukminin. Pada gilirannya nanti, beliau berhasil menjadi satu di antara fuqaha sab’ah (tujuh ahli fikih) Madinah yang menjadi sandaran kaum muslimin dalam urusan agama.

Bahkan Para pemimpin yang shalih dari Bani Ummayyah-yang telah membunuh Saudara Kandungnya pun banyak meminta pertimbangan kepada beliau baik tentang urusan ibadah maupun negara karena kelebihan yang Allah berikan kepada beliau. Seperti Abdul Malik bin Marwan, Umar bin Abdul Azis.

Begitulah Urwah bin Zubeir beliau tidak menjadi ‘orang penting’ tetapi memilih menjadi orang yang berguna bagi banyak orang, baik itu ‘orang penting’ apalagi orang awam.

****

Al-Albana, Andalas, 02 Rabiul Akhir 1439

Kategori Esai, Tokoh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close