Telembuk ; Dangdut & Kisah Cinta Keparat

“Lara ning ati ditinggal laki / Rasane sedih tanpa permisi / Diurus beli, dipegat beli / Batin disiksa, digawe lara / Alias nambang dawa //”

Sakitnya hati, ditinggal laki/ Rasanya sedih, tanpa permisi / Diurus tidak, dicerai juga tidak / Batin disiksa, dibikin sakit / Alias nambang dawa //

(Nambang Dawa, Ini Damini)

****

“Dunia ini hanya bayangan dari wujud yang sesungguhnya. Jadi, hidup ini sebetulnya fiksi. Kita mau tidak mau mesti mengolah-paksa hasrat duniawi kita untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki. Kecuali, kita tetap ingin bertahan di dunia bayangan ini.”

Nasihat-nasihat semacam ini sering diucapkan Ayah ketika saya menginjak usia remaja. Dia menganalogikan bahwa wayang itu adalah gambaran hidup dunia, atau cerminan hidup dari diri kita. Saya hanya mengangguk waktu itu, meski saya sebenarnya tidak benar-benar paham. Kemudian saya jadi teringat masa-masa kecil saya dulu, ketika pertama kali saya mengenal wayang dan – tentu saja – Dangdut.

Sekitar usia lima tahun, saya mulai mengenal pagelaran kesenian wayang kulit di kampung Ayah saya, desa Nunuk. Sejak bunyi tetalu memanggil-manggil penonton, saya sudah rewel dan menarik-narik tangan Kakek saya untuk segera berangkat menonton wayang. Pada kesempatan pertama saya melihat pagelaran wayang kulit, saya langsung takjub dan jatuh cinta. Bagaimana seorang dalang dengan sangat piawai memainkan peran setiap tokoh dalam pewayangan. Selain itu, saya juga terkesima dengan suarasinden yang seperti mengusap-usap hati. Betul-betul membuai dan menyejukan seorang anak berusia lima tahun seperti saya.

Di tengah-tengah pertunjukan wayang kulit, di tengah kantuk orang-orang, tiba-tiba bunyi kendang seperti mengetuk-ngetuk jantung saya, membuat melek mata saya, dan menajamkan telinga saya. Malam itulah, saya mengenal dangdut untuk pertama kalinya, dengan segenap kesadaran saya sebagai anak ingusan. Pertunjukan wayang yang semula membuat penonton lesu darah, kini jadi kembali segar dengan alunan musik dangdut. Tapi yang menarik dari fenomena ini, alunan lagu dangdut itu ditempatkan saat adegan peperangan. Tokoh-tokoh pewayangan itu bergoyang terlebih dahulu sebelum bertarung, dan ketika memenangkan pertarungan tokoh-tokoh itu pun kembali bergoyang. Bahkan antara syair lagu dangdut dan peristiwa peperangan pun tidak sinkron sama sekali. Lagunya patah hati, peperangannya masalah politik. Seolah-olah hal ini dilakukan dengan sengaja, atau katakanlah bagian dari konsep sang dalang.

Bagi saya, peristiwa peperangan ini bukanlah adegan kekerasan. Semua dikemas dengan apik. Sampai sekarangpun, fenomena ini bisa Anda lihat jika ada pagelaran wayang kulit di kampung-kampung di Indramayu, baik di acara adat seperti Munjung, Mapag Sri, Sedekah Bumi, atau di rumah-rumah yang berhajat ketika musim panen usai.

Perkenalan saya dengan dangdut dan wayang kulit ini terjadi sekitar awal tahun 1990-an. Pada tahun-tahun ini, dangdut tarling sedang banyak digemari. Tarling sendiri berasal dari penggabungan kata ‘gitar’ dan ‘suling’. Namun pada perkembangannya tidak hanya gitar dan suling, tapi juga melibatkan alat-alat musik yang lain seperti kendang, organ, drum, dan lainnya. Sekitar tahun 1950-an, tarling pertama kali dikenalkan oleh RRI Cirebon dalam acara Irama Kota Udang. Kemudian sekitar tahun 1960-an, tarling mulai dikenal masyarakat dan sudah mulai dimasuki unsur-unsur drama. Acara tarling biasanya mementaskan drama musikal yang melankolis. Contoh yang paling melegenda yaitu ceritaBaridin-Suratminah karya H. Abdul Ajid.

Baridin-Suratminah jauh lebih populer dibandingRomeo and Juliet bagi masyarakat Cirebon-Indramayu. Kisah percintaan ini dimulai dengan jatuh cintanya Baridin kepada Suratminah ketika ia hendak pergi weluku (membajak sawah – red) di sawah milik Mang Bunawas. Baridin sendiri seorang pemuda desa pemalas dan miskin. Ia hanya mempunyai seorang Ibu, sementara Ayah ia tak punya. Sementara Suratminah, seorang anak kaya raya dan kembang desa di kampungnya. Ia anak dari tuan tanah bernama Bapak Dam. Bapak Dam sendiri sudah tidak mempunyai istri. Ia mengurus Suratminah sejak kecil hingga menginjak remaja.

Banyak orang kaya melamar Suratminah, tapi semua lamaran ditolak. Di sini karakter Suratminah dikesankan congkak dan sombang. Namun, sebetulnya Suratminah tidak ingin terburu-buru menikah. Ia tidak mau menjadi perempuan kebanyakan di kampungnya. Karena itulah, penolakan Suratminah dengan nada ketus kepada setiap laki-laki yang melamarnya memang dikesankan sombong. Termasuk pertemuannya dengan Baridin.

Setelah pertemuannya dengan Suratminah, Baridin tidak jadi weluku. Ia kembali pulang ke rumahnya. Rupanya, Baridin jatuh cinta pada Suratminah. Pemuda miskin itu meminta Ibunya untuk melamarkannya ke Bapak Dam. Mbok Wangsih, Ibu Baridin itu, sempat menasihatinya untuk tahu diri. Namun Baridin bersikukuh ingin dilamarkan dengan anak semata wayang Bapak Dam. Sesuai prediksi, lamarannya ditolak. Mbok Wangsih dituding sebagai orangtua yang tidak tahu diri oleh Bapak Dam. Hal tersebut membuat hati Mbok Wangsih sakit. Ia pulang dengan membawa kesedihan. Di rumah, Baridin sudah menunggunya. Begitu ia bertemu Ibunya, ia langsung menanyakan bagaimana hasil lamarannya. Ketika ditanya seperti itu, Mbok Wangsih malah nguntap. Ia mengatakan Baridin anak tidak tahu diri, hanya mengirim Ibunya untuk dipermalukan. Dengan perkataan seperti itu, Baridin tidak tega melihat Ibunya sakit hati. Ia pun pergi dari rumahnya.

Hingga suatu hari, temannya menawarkan bantuan. Kawannya ini mempunyai mewarisi ilmu Jaran Goyang dari Ayahnya. Konon, ilmu Jaran Goyang akan membuat perempuan yang dipeletnya tergila-gila. Syarat ilmu Jaran Goyang sendiri, harus berpuasa tidak makan dan minum selama empat puluh hari. Baridin menyanggupi syarat ritual itu.

Ketika menjelang akhir tirakatnya, Suratminah sudah terkena pelet Jaran Goyang. Ia seperti orang gila, berhari-hari tidak makan dan minum, kepikiran terus akan Kang Baridin. Gadis itu kemudian kabur dari rumahnya untuk mencari Baridin. Sampai kemudian, ketika hari terakhir Baridin bertirakat, Suratminah akhirnya menemukan keberadaan Baridin. Namun Baridin menolak cinta Suratminah. Karena kondisi kesehatan Suratminah buruk, akhirnya ia meninggal persis di depan Baridin. Baridin merasa bersalah dan terguncang jiwanya. Maka, ia pun meninggal karena tekanan batin dan ilmu Jaran Goyang yang diamalkanya itu.

Kisah Baridin dan Suratminah konon merupakan kisah nyata yang dipercaya masyarakat desa Jagapura Kulon, kecamatan Gegesik, Cirebon. Menurut Jadid, kuncen makam Baridin, peristirahatan terakhir Baridin dan Suratminah terletak di pelataran rumah keluarganya sendiri. Sampai sekarang, makam Baridin dan Suratminah bisa ditemui di Blok Baridin RT/RW 01/03, Jagapura Kulon, kecamatan Gegesik, Cirebon.

Drama tarling Baridin-Suratminah ini dipopulerkan oleh kelompok tarling Putra Sangkala pimpinan H. Abdul Ajid, seorang maestro tarling asal Cirebon. Sekitar tahun 1975, menurut pengakuan Duniawati, salah seorang seniman tarling desa Celeng, drama tarling Baridin-Suratminah sudah populer di kalangan masyarakat Indramayu-Cirebon dan sering diperdengarkan lewat pemutaran pita kaset yang disewa saat musim hajatan di kampung-kampung. Menurut pengakuan Mang Mutaqin, salah seorang pamong adat di Cikedung, jika yang berhajat tidak mampu mengundang grup tarling, maka mereka biasanya menyewa tape deckdengan koleksi kaset-kaset drama tarling.

Pada tahun 1980-an, kesenian tarling terdesak oleh maraknya dangdut dari Ibukota. Akhirnya, para seniman tarling berinisiatif memasukan unsur dangdut di dalam pertunjukan mereka. Maka, sejak saat itu nama tarling berubah menjadi dangdut tarling, dan lagu-lagu yang muncul di drama tarling itulah yang kemudian disebut lagu dangdut tarling. LaguNambang Dawa, yang saya kutip di atas, adalah lagu dangdut tarling yang nge-top pada era 1980-an. Sampai sekarang pun lagu Nambang Dawa masih banyak dinyanyikan artis dangdut, salah satunya Anik Arnika.

Selain di panggung dangdut tarling, lagu-lagu dangdut tarling juga bisa ditemui di pagelaran wayang kulit. Menurut pengakuan Ayip, seorang seniman tarling Duniawati, hal tersebut dilakukan untuk menarik massa, supaya kesenian wayang tetap digemari, ada inovasi, dan selalu mempunyai daya tarik. Bahkan, sekarang ada grup wayang kulit yang memberi kesempatan seseorang untuk menyawer di tengah-tengah pagelaran. Saya pernah melihatnya sendiri di Balai Desa Cikedung Kidul. Orang itu naik ke atas panggung, melewati nayaga yang sedang memainkan alat musiknya, kemudian dengan setengah mabuk ia melolos uang lima puluh ribuan yang ada di tangannya dan memberikannya pada sindenberulang kali. Bagi saya, fenomena ini sudah kebablasan. Biasanya para penyawer hanya menaruh uang dan list lagunya di dalam amplop, lalu memberikannya pada sangsinden.

Perkenalan saya dengan dangdut dan wayang kulit betul-betul membekas pada diri saya, merasuk ke dalam diri saya seperti candu. Dulu, saya pernah hafal tokoh-tokoh pewayangan lengkap dengan cerita-ceritanya. Baik cerita carangan atau cerita pakem wayang kulit. Tapi itu dulu, sewaktu saya belum kenal dengan dangdut tarling dan organ tunggal.

Kasidah, Organ Tunggal, dan Bukan Lagunya Yus Yunus

Menginjak usia tujuh tahun, saya dan orang tua meninggalkan Desa Nunuk dan pindah ke Desa Cikedung, desa kelahiran Ibu saya. Rumah yang semula kami tempati di Nunuk kosong. Suwung. Saya tidak tahu pasti kenapa orang tua saya memutuskan pindah ke Cikedung. Saya kira, itu tidak begitu penting saya ceritakan. Di Cikedung, saya mulai belajar mengaji di musala keluarga. Kebetulan keluarga dari ibu adalah keluarga santri. Di sinilah saya mengenal baca-tulis Al-Qur’an.

Menurut Ibu saya, dulu musala ini berbentuk rumah panggung. Tapi kemudian mengalami banyak renovasi dan sudah tidak seperti bentuknya semula, saat pertama musala ini dibangun. Di sana, saya dididik baca Al-Qur’an oleh Kaki Kosim, yaitu adik dari Nenek saya. Di sana pula saya mengenal musik kasidah yang dipimpin oleh Paman saya sendiri dan dua temannya. Pada tahun 1990-an, lagu-lagu kasidah Nasida Ria sedang banyak digemari oleh anak muda. Dari sinilah grup-grup kasidah mulai banyak bermunculan, terutama di Desa Cikedung sendiri. Saya sebagai anak ingusan hanya mengekor di belakang mereka jika mereka show ke kampung-kampung. Saya mulai menikmati pertunjukan musik kasidah ini, meskipun dengan gerak monoton ke kiri dan kanan. Saya memasuki dunia baru tanpa saya sadari. Cita-cita saya menjadi dalang wayang perlahan memudar akibat gempuran kasidah dan lantunan suara orang mengaji setiap hari.

Menginjak usia sembilan tahun, saya pindah mengaji ke musala Kang Zaenudin, yang berjarak sekitar 1 kilometer dari rumah nenek saya. Pada saat itu, Ayah sekaligus menitipkan saya pada Kang Zaenudin. Kang Zen sendiri lulusan pesantren Rajasinga, Terisi, sekitar 5 kilometer dari desa Cikedung. Selain mengaji, di sana kami diajarkan menghafal doa-doa, dzikir setelah shalat, dan Qira’ah. Kami juga dikenalkan dengan jenis-jenis gaya berceramah. Seperti menirukan gaya berceramah KH. Zainudin MZ, sampai menghafal isi ceramahnya lengkap dengan cengkok dan gerak tubuhnya. Selain ceramah, kami juga diberi tugas untuk adzan sesuai jadwal yang sudah disepakati. Dengan begitu kami mesti mencari referensi adzan yang ada di radio dan TV.

Hingga suatu malam, selepas pulang mengaji, saya diajak teman melihat pentas dangdut tarling. Kebetulan, tempatnya tidak jauh dari jalan yang saya lewati ketika pulang mengaji saban hari. Semula saya menolak – namun, suara dangdut itu membangkitkan memori masa kecil saya, dan akhirnya saya mengiyakan ajakan teman saya itu. Dalam perjalanan ke sana, saya kadang tersenyum sebentar. Rasanya seperti mau berjumpa teman karib yang lama tidak ketemu. Kami pun bergegas menuju area belakang panggung. Kami tidak melewati jalan normal, yaitu jalan yang dipenuhi para pedagang dan lalu lalang orang. Ketika panggung organ tunggal itu nampak, saya kembali tersenyum. Seolah-olah panggung organ tunggal itu pun ikut tersenyum menyambut saya.

Pada tahun 1995-1996 ini, fenomena organ tunggal sudah mulai dikenal warga Indramayu. Kisah tepatnya saya kurang tahu pasti. Aas Rolani sendiri mendirikan grupnya sekitar tahun 1994, kemudian disusul Eka pada tahun 1995. Berkembangnya musik organ tunggal ini mempengaruhi muda-mudi bahkan sampai anak-anak di kampung saya. Misalnya, ada salah satu kawan saya di Sekolah Dasar, dengan setengah dipaksa oleh ibunya ia disuruh menyanyi dangdut ketika acara perpisahaan di sekolah. Tidak hanya itu, cara berpakaian sehari-harinya pun sudah seperti orang dewasa, mirip penyanyi dangdut. Meskipun sekarang saya pikir itu terkesan norak, kisah kecil itu menunjukkan bahwa menjadi penyanyi dangdut adalah sebuah kebanggaan tersendiri.

Akhirnya, kami menonton persis di pinggir panggung. Di situlah saya pertama kali melihat goyangan yang meliuk-liuk, suara manja, dan pesona penyanyi dangdut ketika tersenyum. Namun kemudian saya dikejutkan oleh suara di telinga saya: “Ikut aku!” ujar temanku. Saya pun mengikutinya dari belakang. Kami berjalan menuju belakang panggung. Lima puluh meter dari kami, terdapat warung remang-remang. Ada perempuan yang sedang dipangku seorang laki-laki, dan mereka berceloteh jorok. “Ini yang paling asyik! Mumpung tidak ada yang melihat, ayo!” katanya lagi, sambil menunjuk sebuah lubang yang menuju area bawah panggung. Kami pun masuk ke lubang itu. Saya tersenyum. Lantas, kami duduk sambil melihat goyangan penyanyi dangdut yang naik turun. Kami melihat roknya yang mengembang ditiup-tiup angin. Nampaklah celana dalam berwarna merah berputar-putar di atas kami. Bagi saya, ini dunia yang asyik di luar kegiatan saya mengaji.

Dari Pesantren, Untuk Dangdut

Menjelang tahun 1997, ketika usia saya menginjak sebelas tahun, saya bertekad nyantri di pondok pesantren Krapyak, Yogyakarta. Keinginan itu atas kemauan saya sendiri. Sebetulnya Ayah saya ingin supaya saya mesantren di Cirebon saja – pertama, karena jaraknya tidak terlalu jauh dan kedua, Ayah bisa sering menjenguk saya. Tapi tekad saya bulat, sebab guru mengaji saya bilang, kalau kamu ingin menjadi Kiai, kamu mesti mesantren di tempat yang jauh dari tempat kelahiranmu. Bagi seorang bocah berusia sebelas tahun, Jogja sudah lumayan jauh. Niscaya, keinginan saya menjadi Kiai akan terlaksana.

Ketika saya mesantren di Krapyak, kehidupan dangdut menjauh dari saya. Seperti ada sesuatu yang terlepas dari diri saya. Saya menjadi orang yang sangat tertib, disiplin. Itu semua saya lakukan demi mencapai cita-cita saya sebagai Kiai. Keusilan saya perlahan berkurang, tidak seperti waktu di kampung dulu, ketika saya bersama teman-teman saya menyogok-nyogokkan lidi ke pantat penyanyi dangdut yang sedang bergoyang naik turun. Lantas dengan suara yang masih manja, penyanyi dangdut itu mengomel kepada kami yang terbirit-birit karena takut. Saya tertawa mengingat hal itu. Saya pikir, kegiatan semacam itu tidak bisa saya lakukan lagi. Saya sudah baligh, dan itu mempengaruhi cara pandang saya. Sangat berbeda dengan waktu saya masih kanak-kanak dulu.

Saya mudik setiap libur Caturwulan. Kesempatan mudik ini saya gunakan untuk menambah wawasan mengaji saya. Saya membawa salah satu kitab dari pesantren, yaitu kitab Taqrib. Saya mengaji ke guru ngaji saya dulu, Kang Zaenudin. Kemudian, saya juga terlibat bersama Ikatan Remaja Masjid di kampung. Semua itu saya lakukan untuk memenuhi cita-cita saya, jadi Kiai. Dan kegiatan semacam ini saya lakukan berkali-kali ketika liburan.

Tapi, kemudian saya merasa kegiatan ini mulai membosankan! Saya seperti terkungkung pada suatu tempat, dan tidak mendapat pengalaman segar. Saya jenuh dan gelisah. Akhirnya, untuk menambal kejenuhan, saya kembali menemui teman masa kecil. Saya nongkrong bersama mereka, lantas saya dibawa ke tempat-tempat hiburan saat musim hajatan tiba. Kami berkeliling dari kampung ke kampung hanya untuk berburu dangdut tarling atau organ tunggal. Di situlah, saya merasa mendapat dunia yang segar. Dunia yang dulu sempat terlepas dari diri saya.

Pada tahun 2000, tepat ketika saya baru saja masuk SMA, saya masih memutuskan lanjut mesantren di Krapyak. Meski cita-cita menjadi Kiai mulai mengendur dalam diri saya — lebih tepatnya mulai dilupakan. Apalagi, ketika itu saya sudah mengenal teater dan sastra di pesantren. Saya merasa, pilihan hidup saya lebih tepat di kedua bidang ini. Tapi, saya menyadari bahwa hidup bersama satu golongan saja akan sangat menjemukan bagi seorang remaja yang berada di pesantren. Maka, satu-satunya ruang untuk memupuk keinginan saya yaitu ketika liburan Caturwulan.

Ketika pulang liburan, saya kembali bergabung dengan kelompok bajingan kampung. Dari merekalah, hidup saya jadi lebih berwarna. Dari mereka pula kehidupan gemerlap dangdut saya dapatkan. Ketika lepas musim panen, saya berkeliling bersama teman-teman saya untuk mencari tanggapan dangdut tarling. Namun, tahun-tahun ini bukanlah tahun-tahun yang baik. Sekitar tahun 1999-2001, seringkali terjadi perang antar kampung. Jujur saja waktu itu saya takut, tapi karena darah muda saya masih bergejolak – ” target=”_blank”>seperti kata Bang Rhoma – saya memberanikan diri terjun dalam lingkaran mereka. Setiap ada tanggapan organ tunggal atau dangdut tarling, hampir dipastikan terjadi keributan yang kemudian berbuntut perang antar kampung. Pemicunya biasanya sepele: gengsi antar kampung. Itu saja!

Terkadang, api itu sengaja dipantik dengan berbagai macam dalih. Sampai kemudian, petaka pun tiba: organ tunggal dan dangdut tarling dilarang oleh pemerintah Indramayu. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi korban akibat peperangan dan menjaga stabilitas daerah Indramayu sendiri. Waktu itu, yang boleh ditanggap hanya wayang dan sandiwara, itupun dengan syarat tidak boleh ada dangdutnya. Akhirnya ketika musim hajatan tiba, para petani hanya bisa menanggap wayang atau sandiwara.

Akibatnya, para penyanyi dangdut di Indramayu tidak mendapatkan pemasukan selama tahun-tahun tersebut. Beberapa dari mereka terpaksa berdagang asongan di bis-bis Pantura untuk menambal kebutuhan sehari-hari. Sampai kira-kira tiga tahun kemudian, pelarangan tersebut akhirnya dicabut. Masyarakat kembali dapat menikmati suara kendang dan nyanyian penyanyi dangdut. Hingga kemudian pada tahun 2004, menjelang Pilkada, pelarangan panggung dangdut kembali muncul selama 40 hari masa kampanye. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari keributan di masa kampanye. Untuk melewati masa-masa sulit seperti ini, beberapa penyanyi dangdut menengah ke bawah kembali berdagang asongan di bis-bis Pantura, yang berangkat menuju Jakarta.

Panen Dangdut

Hampir setiap desa di Indramayu punya lebih dari 5 grup organ tunggal. Bayangkan: kalau di Indramayu ada 309 desa, berarti ada kira-kira 1545 grup organ tunggal di Indramayu saja! Betul-betul jumlah yang fantastis. Namun, tak semua organ tunggal punya perlengkapan seperti panggung, sound, dan alat musiknya sendiri. Kebanyakan dari mereka menyewa. Termasuk grup organ tunggal milik Paman saya – yang pernah mendirikan grup kasidah itu. Kelompoknya bernama Jabang Bayi, dan persis namanya, grup organ tunggal itu sudah mati duluan sebelum sempat dewasa.

Persaingan antar grup organ tunggal sangat terasa, terlebih grup yang hanya memiliki nama dan tidak punya panggung serta peralatan sendiri. Grup yang punya panggung dan alat musik ini hanya dimiliki penyanyi-penyanyi Dangdut yang sudah mapan di daerah Indramayu dan sekitarnya. Dan merekalah yang biasanya bertahan lebih lama.

Bisa dibilang, yang menghidupi para seniman di Indramayu adalah para petani. Setelah musim panen, akan tiba musim hajatan. Seperti kawinan, sunatan, dan rasulan. Hampir setiap harinya jika musim hajatan, akan selalu ada tanggapan. Entah itu singa dangdut, yaitu sisingaan yang diringi dangdut, organ tunggal, tarling dangdut, dan wayang kulit. Dari sinilah penghasilan seniman diperoleh. Untuk menanggap organ tunggal, perlu mahar sekitar 5 juta sampai 10 juta rupiah, tergantung grup organ tunggalnya. Namun, penghasilan terbesar mereka justru didapat dari saweran orang-orang di atas panggung.

Jika musim kemarau atau paceklik, beberapa penyanyi dangdut akan main di kafe-kafe dangdut yang ada di kota atau warung remang-remang sepanjang jalan Pantura. Sementara di kampung, mereka akan berkeliling menyanyi dengan memakai gerobak lengkap dengan sound, organ, kendang, gitar, dan suling. Mereka akan meminta saweran kepada para pengguna jalan, warung, dan masyarakat yang rumahnya persis berada di tepi jalan. Kebanyakan yang menyawer biasanya bos beras, PNS, dan pegawai kepala desa, yang memang selalu ada pemasukan tetap.

Saya sendiri mempunyai pengalaman pribadi dengan dangdut keliling ini. Ketika bulan Ramadan tiba, dangdut keliling ini akan beroperasi menjelang tengah malam. Di saat suara-suara orang tadarus sudah mulai senyap, dangdut keliling ini yang akan menghibur malam Ramadan di kampung kami. Orang-orang keluar dari rumahnya untuk melihat sang biduan menyanyi. Suarasound itu sudah terdengar dari jarak lima ratus meter, dan mereka disambut oleh orang-orang yang menunggu di pinggir jalan. Termasuk saya sendiri.

Di tengah keasyikan saya mendengar lagu dangdut, tiba-tiba ayah saya memanggil. “Ini!” serunya, seraya memberikan uang lima ribu rupiah. “Tidak semua orang mendapat nasib beruntung.” Kemudian saya berjalan menuju penyanyi dangdut dan memberikan uang lima ribu rupiah itu. “Kanggo A Roman sing paling ganteng dewek se-Cikedung,” (“Untuk kak Roman yang paling ganteng sendiri se-Cikedung,” – red) sebut penyanyi dangdut itu. Kemudian saya melihat Uwaksaya maju ke arah penyanyi dangdut sambil memberikan uang ribuan berkali-kali dan disebut namanya berkali-kali.

Di malam bulan yang suci itu, orang-orang berjubel mengerubungi penyanyi dangdut keliling dengan keluguan dan kepolosan mereka. Di kampung saya, dangdut keliling ini tidak sama dengan organ tunggal. Tidak ada pakaian seksi, tidak ada goyangan, dan aroma alkohol. Setelah orang-orang berhenti menyawer, dangdut keliling tersebut akan kembali berangkat, berkeliling untuk mendapat saweran dari warga kampung setempat.

Suasana semacam ini sudah tidak saya temukan lagi beberapa tahun belakangan. Bulan Ramadan tahun ini, saya sudah tidak lagi melihat dangdut keliling beroperasi. Entah apa penyebabnya. Tapi, lagu dangdut seakan-akan tak pernah lelah. Ketika saya mudik, hampir 24 jam sehari saya mendengar lagu dangdut dari tetangga saya. Kecuali pada saat-saat tertentu, misalnya jelang adzan Subuh.

Saya tidak tahu apakah ada tempat lain yang seperti ini. Bayangkan, pukul 2 dini hari Anda akan mendengar lagu dangdut dengan suara yang keras, tapi tak satupun tetangga yang merasa terganggu. Suasana semacam ini akan Anda temukan setiap harinya. Setiap hela dan hembusan napas Anda adalah dangdut. Obrolan Anda akan diiringi dangdut. Lamunan Anda akan diiringi dangdut, dan bahkan bokerAnda juga diringi dangdut. Seakan-akan, laku hidup masyarakat Indramayu tak lepas dari dangdut(isme). (*

Buku Kedung Darma Romansha, “Telembuk: Dangdut & Kisah Cinta yang Keparat“, terbit tahun 2017 melalui penerbit Indie Book Corner. Buku ini masuk 10 Besar kategori Fiksi di Kusala Sastra Khatulistiwa 2017.

Kategori Sastra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close