Kekuasaan dan Kesholehan

Ali vs Mu’awiyah

Ali bin Abi Thalib, yang lebih memiliki klaim atas kekhalifahan sebagai penerus Ustman bin Affan. Karena nasab dan kesholehan. Dari nasab Ali sepupu sekaligus menantu rasullulah-Suami Fatimah binti Muhammad Rasullullah, dari segi keiman, kesholehan dan dedikasi terhadap Islam Ali jauh lebih unggul dibandingkan Mu’awiyah bin Abu Sufyan.

Ali memeluk Islam tidak berselang lama setelah Rasullullah mendakwahkan Islam. Ali ikut dalam perang Badar, Uhud, Khandaq dan hampir seluruh perperangan. Ali juga yang menggantikan tempat tidur rasullullah saat dikepung oleh kaum kafir Quraish lalu rasullulah berhasil keluar dari kota Mekkah menuju Yastrib. Sedangkan Abu Sofyan-Ayah Mu’awiyah baru masuk Islam detik-detik menjelang Fattul Makkah karena takut kehilangan nyawa dan kehormatannya dari kaum Quraish. Lalu masuk Islam dan menyerahkan Puteranya-Mu’awiyah sebagai juru tulis kepada rasullulah.

Berbeda dengan Ali. Muawiyyah, digambarkan sebagai sosok yang sangat cerdik dan pandai bersiasat (baca politik di era sekarang).

Kecerdikan Mu’awiyyah dalam bersiasat terlihat dengan dalil menuntut kematian sepupunya-Ustman bin Affan berusaha merongrong kekuasaan yang sedang digenggam Ali. Terjadi rentetan peristiwa berdarah mulai dari Perang Jamal (Perang Unta) yang menyeret Ibunda Ummul Mukminin ke medan perang berhadapan dengan Ali. Seterusnya perang Shiffin–Perperangan Pihak Ali berhadapan dengan Pihak Mu’awiyah yang konon khabarnya sejarah mencatat korban nyawa pihak Ali sebanyak 35.000 jiwa sedangkan Mu’awiyah 45.000 jiwa.

Imam Ali yang zuhud dan lurus harus berakhir dengan kekalahannya dalam “takhim dan terpaksa melepaskan kekuasaan pada Mu’awiyyah setelah Imam Ali syahid di tangan Ibnu Muljam. Sikap zuhud dan memegang teguh ajaran agama juga diperlihatkan oleh barisan Ahlul Bait pada masa awal hingga mereka kehilangan klaim kekuasaan. Hasan dan Husein) hingga kekuasaan berpindah kepada bani Umayyah.

Penempatan Amr ibn Ash sebagai ahli strategi untuk berhadapan dengan Abu Musa al Asyari dalam tahkim misalnya, jelas menggambarkan bagaimana kelihaian dan kecerdasan Mu’awiyyah membaca situasi. Kekalahan pihak Imam Ali, bukan semata mata karena dicurangi, tapi lebih tepat dikatakan kalah dalam hal strategi.

Dan berakhir dengan kemenangan Mu’awiyyah, hingga kekhalifan beralih menjadi dinasti Umawi yang bertahan selama delapan puluh sembilan tahun (661 750), merupakan sebuah kenyataan sejarah bagaimana politik kekuasaan selalu dijalankan atas strategi politik kekuasaan bukan oleh tingkat kesalehan apalagi kezuhudan.

Abdullah bin Zubair vs Abdul Malik bin Marwan.

Dalam berbagai kisah diceritakan strategi politik yang saling berlawanan antara Abdullah bin Zubair digambarkan sebagai orang yang taat dalan menjalankan agama ia sangat berhati-hati dalam mengelola dana Baitul hingga ia tidak sudi memberi orang Iraq hadiah atas kesetiaan mereka. Sikap hati-hatinya masalah uang ternyata dimaknai oleh sebagian besar orang (penduduk Iraq) sebagai sikap pelit alias kikir. Meski saudaranya yang ia tunjuk menjadi pemimpin di Iraq–Mushab ibn Zubair membelanya dengan mengatakan, “Mereka tidak membencinnya (Abdullah bin Zubair), mereka hanya membenci kebenaran” . Artinya dari sudut pandang keagamaan sikap Abdullah sudah benar, sekaligus menunjukan kezuhudannya. Namun dalam bingkai politik, kebenaran dan sikap zuhud, seringkali menjadi petaka.

Celah ini dimamfaatkan oleh Abdul Malik ibn Marwan-seteru Abdullah bin Zubair. Abdul Malik menyadari dirinya memiliki klaim kekuasaan yang sangat lemah (baik dari sudut nasab maupun kesholehan). Dan kelemahan harus itu ditutupi dengan strategi yang tepat. la pada membeli kecintaan pengikutnya dengan harta (yang sesungguhnya dikumpulkan dari pengikutnya juga). Di sini Abdul Malik menggunakan harta rakyat untuk kepentingan rakyat. Tidak terlalu penting dipikirkan apakah kepentingan itu termasuk kepentingan mendesak atau tidak, tepat sasaran atau tidak. Yang pasti dengan cara ini Abdul Malik ibn Marwan telah berhasil merebut hati rakyat sekaligus pada saat yang sama menanamkan ketidaksukaan terhadap Abdullah ibn Zubair.

—-

Dalam lakon Jean Paul Sartre berjudul Les main Sales (Tangan-Tangan Kotor) Seorang pemimpin partai direncanakan dibunuh. Ia dianggap menyimpang dari garis partai. Ia membuat aliansi dengan partai lawan ketika sama-sama menghadapi rezim fasis yang menindas. Heoroder mama pemimpin itu membela diri di hadapan pemuda yang akan membunuhnya dengan mengakui ia memang telah membuat langkah tercela. Tapi tidak ada langkah lain untuk mencapai tujuan partai yaitu kekuasaan. (Jika ditarik ke jaman sekarang ibarat koalisi PKS dengan PDI-P pada Pilgub Sulawesi Selatan).

“Tanganku memang kotor sampai ke siku. Aku telah mencelupkannya dalam darah dan tahi” katanya. “Tapi bisakah orang berkuasa tanpa berkubang najis?”, ia meneruskan.

Bagi Hoedorer, jawabnya “tak bisa”, baginya, keadaan “tanpa berkubang najis”, tanpa “dosa”, berada di luar orang-orang “berkuasa”. Dengan kata lain tangan kotor dilihat sebagai hakikat politik dan kekuasaan.

Ucapan Ketua Hoedorer dalam lakon Les Mains Sales karya Sartre itu kini dikenang sebagai perumusan kembali petuah Machiavelli dari abad ke-15 “siapa saja yang masuk ke kancah kekuasaan harus siap menyentuh najis”. Pengertian Les Mains Sales, ”tangan yang kotor”, telah jadi kiasan abad ke-21 bagi sebuah kondisi ketika cita-cita yang baik terpaksa dicapai dengan cara yang tak baik.

Kedua peristiwa sejarah dan lakon Sarte di atas memperlihatkan kepada kita bahwa kekuasaan sering tidak segaris dengan tingkat ketaatan apalagi kezuhudan. Karena kekuasan (politik) membutuhkan strategi serta biaya yang tidak sedikit tentu saja bertolak belakang dengan kezuhudan.

Maka dari itu mungkin saja orang yang alim lagi zuhud sepeti Abdullah bin Umar bin Khattab, Urwah bin Zubair bin Awwan atau Abdullah bin Amr bin Ash. Mereka adalah sahabat-sahabat muda yang mempunyai nasab serta kompetensi untuk berlaga di panggung kekuasaan di kala itu. Namun mereka memilih menyingkir dari panggung kekuasaan menjauh dari badai fitnah yang sedang menerjang dunia Islam.

Hari ini kita menyaksikan banyak orang sedang tersedot oleh spektrum panggung politik-kekuasaan, mereka berlomba-lomba mengejar agar dapat mengenggam kekuasaan. Sebagian tanpa bekal ketaatan dan kezuhudan seperti sahabat-sahabat Rasullullah.

Rasa-rasanya badai fitnah dalam kekuasaan yang melanda Umat Islam hari ini termasuk di negeri ini tidak lebih kecil jika dibandingkan dengan peristiwa yang dialami oleh para sahabat Rasullulah. Maka dari itu segelintir sosok mengikuti langkah yang dipilih oleh Abdullah bin Umar, Urwah bin Zubair. Mereka menjauh dari hingar-bingar panggung politik, menhindar dari sengkarut politik-kekuasaan.

****

Al Albana, Andalas, 08 Rabiul Akhir 1439

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close