Catatan Tentang Film Ayat-Ayat Cinta 2

Setelah gagal berkali-kali akhirnya kemarin saya berhasil menonton Film Ayat-Ayat Cinta 2. Ada menyisakan sedikit penyesalan setelah menonton film ini. Menyesal bukan karena telah menonton film yang buruk. Bukan. Justeru sebaliknya, karena film ini sangat bagus. Ganjar dengan bintang lima pantas untuk film garapan Hanung Bramantyo ini.

Dalam catatan saya, ada dua kelompok yang sebaiknya tidak ikutan menonton film ini ; (1) Pertama lelaki yang sudah punya isteri dan masih beristeri dan kelompok yang kedua (2) Anak perawan yang belum menikah dan punya niat menikah.

Kenapa begitu?

Fahri yabg digambarkan seorang lelaki yang nyaris Perfect ; seorang terpelajar (Dosen), tampan, berpegang teguh pada keyakinan (agama), berperilaku terpuji, Kaya (pebisnis sukses). Ini yang terpenting tetap setia pada isteri yang hilang saat menjadi relawan di Palestina di tengah gencaran wanita-wanita cantik baik yang agresif ala wanita eropa maupun dengan cara elegan (malu-malu) budaya timur. Ia (Fahri) menolak dengan cara yang elegan dan sopan.

Wanita mana yang tak terpikat oleh lelaki seperti Fahri, terlebih akhwat yang mendambakan suami yang sholeh, kaya, tampan, setia dan pandai menghargai wanita. Akhwat-akhwat yang punya pemikiran seperti ini manusiawi. Mereka memang butuh lekaki yang mampu memberikan rasa “aman” dan “nyaman” Makanya sering banyak status galau “Kapan ketemu imamku?”, “Siapa yang akan jadi imamku kelak?”, “Wahai calon imamku….”

Kadang saya tak tahan ingin menimpali dengan celetukan “Jangan lupa imam yang baik makmumnya banyak”. “Hanya lelaki biasa-biasa saja yang sholatnya di rumah makmumnya hanya satu (isteri) dan anak-anak”.

Jadi jelaskan maksudnya soerang suami sehebat Pak Mario Teguh sekalipun akan merasa kecil jika sudah mengenal Fahri dalam Ayat-Ayat Cinta 2. Apalagi laki-laki yang mengaji a-ba-ta namun sudah pasang kuda-kuda untuk berpoligami.

Sedangkan untuk poin kedua. Setelah menyaksikan Fahri dalam Ayat-Ayat Cinta 2 Saya curiga, saya kwatir setiap ada laki-laki yang datang untuk melamar anda akan membanding-bandingkan dengan Fahri lelaki perfect itu. Akibatnya bukan Imam yang ada tunggu tak datang-datang tapi Iman seperti Fahri yang tak kunjung tiba. Sudah pasti anda mesti memperpanjang masa jomblo.

Namun bagi yang sudah terlanjur menonton saya punya catatan sedikit agak serius. Bahwa semua amal sholeh berupa kebaikan terhadap sesama manusia tidak selalu segaris dengan kemudahan menjalani hidup. Ini terlihat dari rentetan cobaan hidup yang dialamk Fahri mskipun ia sangat baik boleh dibilang sempurna dalam menjalankan nilai-nilai agama yang segaris dengan nilai humanisme. Namun ada hal yang jauh lebih penting dari sekedar menjalani cobaan-coban hidup yaitu Kelapangan Hati dalam menghadapi kesulitan demi kesulitan. Jadi semua amal sholeh dan kebaikan Fahri Allah membalasnya dengan kelapangan hati Fahri dalam menjalani hidupnya.

****

Al Albana, Andalas 09 Rabiul Akhir 1439.

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close