Tentang Perempuan-Perempuan AAC (1) dan AAC 2

Setelah menonton Ayat-Ayat Cinta 2 kemarin. Mengimpresi saya untuk mereview ingatan kembali tentang Film dan Novel Ayat-Ayat Cinta (1) yang pernah saya baca dan tonton sepuluh tahun silam.

Para pembaca dan penonton AAC(1) harus jujur, film ini dipenuhi tokoh-tokoh perempuan lemah nan rapuh yang patut dikasihani. Maka inilah yang membuat sosok Fahri sempurna dan luar biasa. Ada Maria Kirgis–Gadis Koptik Mesir penyakitan. Ada Noura yang tak berdaya. Ada juga Nurul yang tidak memiliki cita-cita hidup lain selain dikawini Fahri. Mereka ini tidak lebih dari, “kembang yang hanya bersinar bila disentuh” Fahri.

Maka, kita saksikan betapa mereka bergelimpangan begitu mendengar Fahri mengawini Aisha. Cinta Maria kepada Fahri bagaikan api dalam sekam yang secara pelan namun pasti memakan kesehatannya sendiri. Dan mesti berbulan bulan di rumah sakit sampai akhirnya Fahri atas permintaan Aisya–dengan melepaskan cincin kawinnya sebagai mahar dalam menyembuhkan Maria dengan Ijab-Kabul. Nurul menjerit histeris dan membanting jilbabnya. Noura lebih parah lagi: ia kini tidak hanya tidak berdaya, tapi juga ‘tidak berhati’ dan tidak bernalar—dengan melancarkan fitnah pada Fahri.

Aisya adalah pengecualian dari ‘Perempuan-Perempuan Tak Berdaya itu’. Bukan karena ia perempuan dengan karakter baja, namun karena ia terlihat seperti bidadari yang diturunkan Allah dari surga untuk Fahri saja. Ia lebih dari sempurna. Dalam beberapa hal, Aisya made in Kang Abik ini lebih sempurna dari Aisya binti Abu Bakar, istri tercinta Rasulullah. Ia cantik sekali, kaya, dan dengan kemauan sendiri, meminta dimadu. (Dua hal terakhir yang dimiliki Aisya istri Fahri tidak dimiliki oleh Aisya istri Rasullullah. Sedangkan Aisya binti Abu Bakar tidak kaya dan, seperti disebutkan dalam banyak sumber, hampir selalu bermasalah dengan permaduan Rasulullah. Ada beberapa riwayat yang mengkisahkan bahwa Aisyah binti Abu Bakar sering terlibat gesekan dengan Isteri Rasullullah yang lain, apalagi kalau perempuan itu sangat cantik. Satu-satunya madu yang dekat dengannya adalah Ummu Sa’udah-isteri Rasullulah yang gemuk dan sudah tua.

Makanya, ketika mengetahui bahwa Aisya yang sangat cantik itu ternyata juga kaya—karena bisa menyewa flat mewah dan penerus kerajaan Bisnis dari pengusaha Turki. Saya yang saat menonton dengan teman-teman kantor ada belasan orang. Di tengah sebagaian besar teman-teman wanita yang telah menghabiskan berlembar-lembar tisu seorang teman laki-laki–yang kala itu sedang bermasalah dengan percintaannya, tak berhenti nyerocos dengan logat surabayaan “jancuk, khayal iki!,ngaco si Hanung, mana ada perempuan seperti itu di dunia, ini khayalan Kang Abik dan Hanung semata” Saya sepakat jika cerita ini khayalan Kang Abik dan Hanung namun saya tidak sepakat jika mereka (Kang Abik dan Hanung) dibilang ngaco. Ya memang mengkhayal kerjaan mereka. Jika tidak Aisya bukan buah khayalan Kang Abik dan Hanung justeru ini berbahaya. Mereka (Kang Abik dan Hanung) harus rapat-rapat merahasiakan keberadaan Aisya (atau perempuan sejenis Aisya). Sebab, saya yakin, semua laki-laki pasti akan memburunya. Termasuk teman saya yang tengah ‘nyerocos’ itu.

Salah satu masalah terbesar dari AAC ada pada tokoh-tokohnya. Mereka tidak dipungut dari dunia nyata, namun diambil dari kepala dan cita-cita penciptanya(Kang Abik dan Hanung). Perempuan-perempuan dalam AAC, seperti juga Fahri, adalah tokoh-tokoh ide. Tokoh-tokoh yang diracik dari angan-angan dan bukan dari kenyataan. Mereka diciptakan untuk memenuhi tujuan-tujuan ideal tertentu. Mereka ini biasanya dibebani misi untuk mendidik, mengajar, atau memberi tauladan. Konsekuensi logis dari tokoh-tokoh seperti ini biasanya rata seperti meja setrika. Flat, tanpa geronjalan. Ia tidak punya sisi lain. Kalau baik, baiknya gak ketulungan. Kalau jahat, jahatnya melebihi setan. Ia tidak punya warna abu-abu. Ia harus putih sekalian, atau hitam legam sekalian. Ia tidak memberi ruang untuk beda persepsi.

Setidaknya Pada AAC 2 hanya Aisya saja yang ditokoh laksana bidadari; lebih sabar dan ikhlas. Ia (Aisya) menyembunyikan identitasnya agar bisa dekat dengan Fahri bukan semata-mata karena malu akan wajahnya saat ini yang rusak. Dan bukan pula ia takut Fahri ‘berhati malaikat’ tidak bisa menerima keadaanya saat ini. Karena ia tidak ingin sedikitpun merusak hati dan pikiran Fahri akibat melapetaka yang menimpa dirinya. Itulah alasan ia pilih jalan itu. Menjadi asisten rumah tangga untuk tuan Dr. Fahri Abdullah.

Sedangkan perempuan lain sewajarnya saja ; seperti Brenda-Gadis Melayu yang tengah berusaha merebut hati Fahri pada frame terakhir saat bertemu dengan Hulya–sepupu Aisya yang juga sedang mencoba peruntungan untuk meraih predikat sebagai Nyoya Fahri. “kamu keliru jika menganggapku sebagai kempetitor, kompetitormu sesungguhnya massa lalu Fahri” ujarnya sambil mempersilakan Hulya masuk ke Apartment Fahri.

Perempuan-perempuan selain Brenda seperti Kiera, Karyawati Fahri di swalayan dan dua Mahasiswinya juga tidak seperti perempuan-perempuan di AAC(1). Mereka tidak jatuh sakit seperti Maria, atau histeris seperti Nurul dan tidak pula menjadi perempuan jahat yang tidak tahu terima kasih seperti Naura. Ketika Fahri mengambil keputusan menikahi Hulya.

Selain Aisya, perempuan pada AAC 2 bersikap wajar seperti manusia biasa. Jika di AAC (1) kesempurnaan Fahri dikarenakan di kelilingi perempuan-perempuan lemah dan rapuh yang terpaksa hurus dikasihani,maka pada AAC 2 kesempurnaan Fahri dikarenakan nilai-nilai kemanusian yang ditempuhnya. Sedangkan ia bisa memilih jalan lain seperti Kiera yang membenci semua (tanpa memilah) kelompok yang telah menyebabkan kehilangan orang yang dicintainya.

Tapi. Ya itu kok ada perempuan seperti Aisya.

****

****

Al Albana, Andalas 13 Rabiul Akhir 1439

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close