Tanah Air

Setelah menonton Film Surat Dari Praha yang ditayangkan ulang oleh Trans TV beberapa malam yang lalu. Lika-liku kehidupan Mas Jaya dan para eksil lainnya yang berdiaspora di luar negeri memberikan impresi kepada saya untuk mendefenisikan ulang lagi, apa itu Tanah Air? Celakanya sebagai mana halnya cinta tanah air (Nasionalisme) tidak dapat diurai maknanya, mendefenisikannya (Tanah Air dan Cinta) justeru akan merusak maknanya.

Tak pernah ada yang tahu bagaimana seseorang memaknai tanah air bagi dirinya sendiri. Kadang tanah air datang sebagai pelengkap dalam lagu-lagu kebangsaan yang dinyanyikan sebagai bagian dari rutinitas. Diputar dari toa ketika upacara kenegaraan, dengan intro, nada dasar, tanda ketuk, dan penutup yang sama serta seragam.

Kadang tanah air dibangkitkan oleh keinginan-keinginan remeh, saat menonton sepak bola, saat teriak ramai-ramai, “Ganyang!”, namun lebih sering hadir saat segala sesuatu yang kita klaim milik dan warisan budaya kita diambil alih oleh bangsa lain. Ketika orang membutuhkan dukungan untuk agenda dan rencana pribadi. Kenapa saya katakan remeh? Karena setelah peluit tanda pertandingan selesai, kerumunan bubar entah dengan makian karena kalah taruhan atau tawa dan saling mengajak syukuran karena menang. Lalu “tanah air” kembali mengisi ruang yang selama ini ia tempati-halaman diktat-diktat pelajaran dan buku-buku tebal tentang negara yang menumpuk di perpustakaan, kalah pamor dari kumpulan cerita humor dan novel populer.

Apa makna tanah air sebenarnya?

Yang jelas ia bukan sebuah petak yang dengan mudah berpindah tangan setelah dinamika dan perebutan kekuasaan. Tanah air sebuah entitas yang berbeda.

Dan tanah air bukan lagi sekadar tempat orang makan, tidur, cari kerja,kawin, punya anak, dan mati. Tanah air lebih sebagai sebuah pencarian akan sebuah nilai yang makin lama makin dijernihkan. Seperti melihat dari kamera yang pelan-pelan diatur fokusnya, makin terang, makin jelas, meskipun tak sepenuhnya tuntas.

Mungkin karena dalam dunia akhir-akhir ini, kebenaran dan kualitas telah didefinisikan oleh iklan, beberapa potong foto dan cuitan di sosmed. Jati diri bahkan juga iman seseorang ditegaskan dan dinilai dengan seberapa kencang teriakannya dan seberapa banyak penonton ketika ia beribadah.

Tanah air memang bukan sebuah wilayah dengan batas teritorial dan luas tertentu. Ia bukan usaha cuma sekumpulan orang yang punya pedang, besi, dan senapan, melainkan juga sebuah proyek dalam ruang batin, kerja, serta keringat masing-masing orang. Di sana ada ikhtiar untuk menjadi berarti, untuk mengetuk, dan meningkatkan hidup orang lain. Hanya saja ikhtiar itu bukan pekerjaan yang buru-buru dan harus segera selesai. Ia butuh seribu dunia dan sepuluh ribu kehidupan sampai dapat ditemukan, mungkin lebih. Sayangnya tak semua orang bisa sabar menantikannya.

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close