Dari Sedikit Riba Yang Tersisa

Ketika meninggalkan Riba dua tahun silam, saya berusaha membersihkan seoptimal mungkin daki riba yang masih melekat ditubuh; Asuransi otomatis tutup tiga bulan setelah resign. Alhamdullilah saya tidak tersangkut dengan pinjaman yang mengandung riba sewaktu masih menjadi karyawan, karena memang memasang target untuk keluar dari Bank. Dan pula mindset ketika itu cukuplah penghasilan saja dari riba jangan lagi ditambah dengan membelanjakan dengan cara riba. Kartu kredit saya gunting. Namun celakanya masih ada satu Kartu Kredit yang tersisa yang biasa saya gunakan untuk transaksi online ; beli tiket pesawat dan belanja online.

“Ayah gunting saja semua kartu Kredit, pakai kartu debit saja” isteri saya menasehati. Ketika itu saya masih ngeyel “selama ini kartu Kredit jarang digunakan kok,insyaallah Ayah juga bukan tipikal pria konsumtif yang kalap ketika melihat barang-barang bagus sedang promo jika ada ‘Kartu Bagak‘ di dompet” balas saya sekenanya untuk mempertahankan kartu kredit yang diterbitkan oleh Bank tempat saya mburuh dulu.

“Tapi kan riba juga” balasnya.

“Iya sih kalau bayarnya tidak full, bunganya besar banget setahun bisa 35%, tapikan Ayah pakainya Kartu Kredit sangat jarang, tagihan hanya ratusan ribu serta pembayaran selalu full. Selama ini tidak pernah kena bunga maupun biaya keterlambatan. Jadi seperti ngutang biasa tak ada kelebihan (riba)” papar saya.

“Tapi akadnya riba walaupun kenyataanya tidak pernah kena bunga dan biaya keterlambatan bagi yang disiplin dan berkomitment dalam pembayaran” tukasnya.

****

Hari ini saya merasakan getahnya, saya dikerjai oleh utang riba. Memang sih tidak merugikan secara finansial namun akibatnya pagi ini saya telah membuang waktu sia-sia selama dua jam lebih.

Begini ceritanya.

Kartu Kredit yang ditersisa satu, saya gunakan untuk belanja di lazada sekitar tiga minggu lalu. Bill statement dikirim melalaui e-mail. Karena sagat jarang menggunakan Kartu Kredit ini, saya tidak melihat secara detail ringkasan transaksi. Lagi pula sebagai pengguna kartu kredit yang sangat tidak aktif (jarang transaksi) saya selalu hafal rincian transaksi; total tagihan, pembayaran minimun, tanggal jatuh tempo tanpa membaca bill statement. Dalam hal ini sejak dulu saya memang sangat disiplin agar kena biaya keterlambatan dan bunga.

Kemarin malam saya melakukan pembayaran melalui Go Mobile-layanan internet Banking CIMB. Setelah login aplikasi Go Mobile minta pembaharuan(update). Saya tidak familiar dengan tool yang baru karena ada perubahan dan pembaharuan untuk sistem keamanan.

Singkatnya demi keamanan, setelah login dan mendapatkan passcode melalui SMS, pengguna harus memvalidasi lagi dengan membalas SMS itu (pada aplikasi sebelumnya tidak ada). Sampai disini saya paham SMS validasi saya balas namun selalu muncul pesan Invalid. Belakangan (setelah di Customer service) saya baru ngeh ternyata saya membalas SMS validasi dengan Simcard 2 sedangkan SMS masuk (tentunya no. HP yang terdaftar di Go mobile simcard 1).

Tak ingin kena biaya keterlambatan karena jatuh tempo keesok harinya, saya minta bantuan isteri untuk membayar melalui internet bankingnya. Mungkin karena jaringan yang sedang bermasalah transaksi gagal. Lalu saya menyerahkan Kartu Kredit dan menuliskan nominal tagihan pada secarik kertas untuk dibayarkan melalui ATM esok pagi.

Pagi ini , setelah memasukan beberapa suap Nasi dengan Asam Padeh saya berangkat mengantar anak ke sekolah. Kebetulan tak jauh dari areal sekolah saya melihat jejeran box ATM, salah satunya ATM CIMB. Tak rela kena bunga (ciee, nama dipercantik, biar nggak seram kalau disebut) dan biaya keterlambatan seandainya isteri saya lupa. Saya lansung parkir di jejeran box ATM lalu mengeluarkan dompet dan mematut-matut Kartu Debit CIMB yang kondisinya sudah sekarat (hampir terbelah dua).

Sambil berdo’a semoga Kartu Debit yang sekaratnya masih bisa terbaca oleh mesin ATM untuk melakukan Pembayaran ‘Kartu Bagak’-Kartu Kredit. Saya girang ketika dilayar muncul pesan silakan masukan ‘PIN’, “waalaah, masih bisa to”, saya bergumam dalam hati. Dengan mengikuti semua intruksi saya sukses melakukan pembayaran. Tentu saja saya bersyukur karena tidak memberikan ‘sekuntum bunga’ (baca riba kepada CIMB).

Namun kegembiraan tidak berlansung lama, ketika muncul pesan di layar “apakah anda ingin melakukan transaksi lainnya”. Setelah menekan tombol “tidak” dan menunggu beberapa saat tidak terlihat tanda-tanda Kartu akan keluar. Saya lanjutkan memencet tombol “Cancel”, kartu tidak juga keluar. Setelah memastikan Kartu Debit yang sekarat sudah remuk di dalam mesin ATM saya tinggalkan box ATM itu. Lagi pula saya tak ingin wajah saya terekam mencurigakan oleh CCTV saat mencolok-colok mesin ATM untuk mengeluarkan Kartu.

Larut dalam kekesalan oleh Kartu Kredit yang telah menyusahkan termasuk meremukan Kartu Debit, alam bawah sadar menuntun saya untuk datang ke Kantor Cabang CIMB yang terletak di jalan Sudirman untuk menutup Kartu Kredit tersebut sekaligus untuk membuat Kartu Debit yang baru sebagai pengganti Kartu Debit yang telah remuk dalam mesin ATM.

Saya lebih kesal lagi ketika customer service memberitahu “Maaf Pak Kartu Kreditnya belum bisa ditutup karena ada kelebihan bayar”, namun saya yang sudah terlanjur kesal menangkapnya seolah-olah saya disuruh bayar terlebih dahulu sebelum menutup Kartu Kredit.

Sambil memperlihatkan bukti pembayaran saya atur emosi dan tekanan suara dengan sopan saya berucap “Maaf dik, mungkin saja belum masuk ke sistim, saya baru saja melakukan pembayaran 30 menit lalu, ini bukti pembayarannya”.

“Bukan begitu pak, benar Bapak sudah melakukan pembayaran pagi ini, justeru kelebihan bayar, karena Kartu Kredit Bapak juga dilengkapi dengan fasilitas autodebet dari rekening Bapak sendiri. Sudah dua bulan ini Bapak bayar manual namun autodebet juga berjalan. Bulan kemarin juga begitu”, ia menjelaskan dengan rinci dan penekanan suara melebihi kesopanan saya. Kapitalis memang lebih paripurna dalam melayani. Hal-hal seperti ini mustahil jika dihadapan saya seorang abdi negara dalam menjalankan birokrasi.

“Oh begitu kok bisa?, karena sudah lama tak menggunakan kartu kredit ini sampai saya lupa kalau saya menggunakan fasilitas autodebet dalam pembayaran”, balas saya sedikit agak malu.

“Setelah kelebihan bayar dikreditkan ke rekening Bapak baru bisa kami bantu proses penutupaan kartunya, Bapak silakan telpon ke call centre atau datang kesini lagi”. Ia menjelaskan.

“Terima Kasih dek atas bantuannya”, pungkas saya mengakhiri pembicaraan.

Sambil menunggu Kartu Debit pengganti dicetak saya berfikir, masa iya karena kelebihan bayar Kartu Kredit belum bisa ditutup, biasanya kalau ‘ngutang’ mesti lunas dulu baru bisa putus. Saya jadi teringat teman-teman lama di yang kerjanya siang-malam bahkan hari libur juga membujuk nasabah-nasabah agar tidak jadi menutup Kartu Kredit dengan berbagai konvensasi seperti voucer belanja di supermarket, voucher makan di resto, tiket nonton di XXI, atau mengratiskan iuran tahunan.

****

Buat yang sudah percaya riba haram, syukur Alhamdullilah namun masih menggunakan kartu kredit dengan alasan merasa mampu mengendalikan diri dengan pembayaran full payment dan tepat waktu dalam pembayaran ada baiknya merenungkan analogi yang ditulis Saptuari Sugiarto dalam buku ‘Kembali Ke Titik Nol’. Saya sudah lupa skript detailnya kurang lebih ringkasnya seperti.

Pada suatu seminar ketika jam istirahat tiba. Sekarang waktu break; istirahat, makan dan sholat. Harap kembali ke ruangan ini tepat waktu. Jika ada yang terlambat akan saya cium, setuju ibu-ibu?, tentu saja tidak. Tapi kalau yakin bisa kembali ke ruangan tepat waktu mestinya setuju. Begitupula halnya dengan Kartu Kredit, akadnya jika full payment dan pembayaran sesuai tenggat waktu tidak dikenakan bunga dan denda namun jika pembayaran hanya partial apalagi minimum serta sering terlambat akan kena bunga dan denda (mengandung unsur ribawi). Sudah jelas akad seperti ini terlarang dalam Islam alias Haram.

Di akhir tulisan ini, saya ingin menyampaikan penyesalan dan rasa bersalah karena telah ikut andil–dengan memberikan persetujuan dan rekomendasi dalam menjerumuskan sebagian orang kepada lembah ribawi. Terutama bagi nasabah-nasabah yang sesungguhnya belum layak namun atas nama target yang telah ditetapkan management harus disetujui.

****

Al Albana~Mantan Pemakan Riba~, Andalas 17 Rabiul Akhir 1439

Satu tanggapan untuk “Dari Sedikit Riba Yang Tersisa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close