ELFONSO TAK INGIN PINDAH KE MEIKARTA

Sebagai warga yang sadar hukum dan tertib adminitrasi tentu saja Elfonso yang baru pindah melapor kepada ketua RT, lurah dan catatan sipil setelah beberapa hari sampai di kota yang baru. Berbekal surat-surat yang yang sudah di urus di kota sebelumnya Elfonso menjambangi rumah ketua RT. Dengan sedikit basa-basi lalu menyerahkan surat-surat tadi serta mengisi dan menandatangi formulir yang disodorkan Pak RT selesai urusan dengan ketua RT.

Selanjutnya Pak RT menyuruh Elfonso meneruskan urusan tertib adminitrasi itu ke Kantor Lurah. Sama halnya seperti urusan dengan Pak RT yang tanpa kantor urusan di kantor lurah juga lancar dan mulus bak tol Cipularang, Elfonso riang bukan kepalang. Ternyata setelah bertahun-tahun meninggalkan kota kelahirannya sudah banyak perubahan. Kota ini tengah berbenah tidak hanya mendandani infrastruktur namun juga suprastruktur terlihat dengan semakin baik pelayanan birokrasi.

Tibalah saatnya Elfonso mesti melapor ke Catatan Sipil yang berkantor di ex gedung SMA 1 Padang– dulu ketika SLTP Elfonso bercita-cita sekolah di sana, namun ya begitu deh kenyataannya. Elfonso dilayani oleh seorang perempuan yang mungkin usianya sudah mendekati pensiun. Tapi Elfonso tidak tahu ia sudah punya cucu atau belum karena tak berani menanyakan hal itu. Bagaimana mungkin? Untuk menanyakan perihal surat-menyurat yang Elfonso submit saja dijawab dengan jutek dan judes “tunggu saja khabar selanjutnya, nanti diberitahu” jawabnya dengan wajah jutek. “Apakah kami akan menerima SMS untuk informasi selanjutnya bu?”, pungkas Elfonso. “Jaringan sedang lelet, sedangkan berkas yang harus diinput menumpuk” balasnya sambil menggandakan kejutekan tanpa menolehkan wajah sedikitpun kepada Elfonso. Padahal Elfonso sudah mandi dan sikat gigi sebelum berangkat.

Elfonso yang sensitif walaupun tak pernah ‘M’ sangat pandai membaca gelagat dengan lansung balik badan dan pergi sambil bergumam “kenapa sih orang harus jutek untuk sesuatu yang sebenarnya tidak perlu. Jika tidak siap ketemu orang(melayank), ya ngumpet aja di rumah. Main ular tangga atau main catur sendiri seperti Beruang di serial Marsa.

Hingga hari ini setahun berlalu setiap keluar rumah Elfonso selalu menenteng sebuah stopmap berwarna biru percis seperti anak tamatan SMK sedang melamar kerja yang membedakan; jika anak tamatan SMK stopmap berisi berkas lamaran sedangkan stopmap Elfonso berisi KTP sementara yang berukuran kertas quarto tentu saja tidak dapat dimasukan ke dalam dompet alasan Elfonso. Selainnya itu jika anak tamatan SMK dalam melamar kerja pakai kemeja putih dan celana warna hitam atau blueblack sedangkan Elfonso kadang cuma pakai celana pendek dan kaos oblong.

Mengingat itu, Alfonso jadi sedih. Dan ia rasanya ingin pindah ke Meikarta.

Disclaimer ; ini bukan iklan Meikarta.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10202869972185933&id=1700900820

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close