Qais dan Rahasia Keunikan

#DearAlwi anakku!

Seringkali saya menyaksikan kamu terlihat tertekan, setiap kali mengerjakan LKS yang mengharuskan kamu menggambar. Sampai bunda, memarahimu “gambar saja sebisanya, tak perlu takut jika hasilnya tak bagus yang penting dikerjakan”, ia mendesakmu agar membuat gambar di LKS.

Pernah juga saya menimpali “semua gambar bagus, tidak ada yang jelek, tergantung penilaian masing-masing orang. Ada gambar yang menurutmu bagus tapi jelek kata orang lain atau sebaliknya. Jadi gambar sajalah semampumu” ucap saya menyemangati.
“Tapi ini buruk sekali”, balasmu.

“Kamu ingat, beberapa minggu yang lalu kita melihat di laman media sosial, lukisan kontemporer dengan judul ‘Untitled’ karya Jean Michael Basquiat yang dilukis pada 1982 terjual dengan harga Rp 1,5 triliyun. Menjadi lukisan termahal yang terjual pada tahun 2017. Katamu lukisan itu buruk, tapi orang yang beli bilang bagus. Dan pada awal 2016 ketika pameran di JCC kita masuk ke stan kakek tua–pelukis dari Bali yang beraliran fauvisme katamu lukisannya seperti lukisan teman-teman saya di TK ”. Saya berusaha meyakinkan dia lagi.

“Sudahlah tak cakap menggambar tak mengapa yang penting ada satu pelajaran yang kamu unggul dari yang lain, ini bisa kamu jadikan sebagai pembeda”, saya menghiburnya.

Belakangan kamu sering mengujiku soal penjumlahan dan perkalian. Ya jelas saya bisa jawab dengan cepat dibanding kamu anak kelas 2 SD. Kecuali kamu memberikan pertanyaan dengan perkalian dengan angka-angka ngagur yang Elon Mask pun tak mampu jawab tanpa kalkulator.

Semua keunikan itu. Apakah itu bakat bawaan dari lahir ataupun keahlian yang didapat dari ketekunan, semua itu tak ada gunanya jika tidak mengantarkanmu mendekat kepada Allah.

Saya akan ceritan kisah seorang sahabat Rasulullah kepadamu yang telah mendedikasikan keunikannya kepada Allah.

****

Namanya Qais. Lengkapnya Qais bin Saad bin Ubadah. Ia putra pemimpin suku Khazraj yang bersama saad bin Ubadah telah menjadi pemimpin, meski usianya masih muda. Orang-orang Khazraj mengatakan, “Seandainya bisa, pasti kami pinjamkan jenggot pada Qais, agar dia menjadi lebih berwibawa”. Qais seorang yang cerdik dan cemerlang otaknya. Ia mengatakan tentang dirinya, “Jika bukan karena Islam, niscaya aku akan membuat satu rencana dan makar yang tidak mampu dihadapi oleh orang Arab.” Ia memiliki banyak ide dan taktik.

Dia sangat pemurah lagi dermawan sampai-sampai Umar dan Abu Bakar mencemaskan sikapnya itu. Dengan kata lain, “Kalau anak muda ini kita biarkan dengan kedermawanannya, pasti barang orang tuanya akan habis”. Saat mengetahui hal itu, ayah Qais melaporkannya kepada Rasulullah saw, seraya mengatakan, “Siapa yang mencegahku dari mengikuti Abu Quhafah(Abu Bakar) dan Ibnu Khattab?”.

Qais seringkali memberi pinjaman kepada seorang datang kepadanya untuk berhutang. Akankah setelah jatuh tempo, ia mengatakan kepada orang yang berhutang “kami tidak akan mengambil kembali apa yang telah kami berikan”.

Qais meninggal sebagai orang zuhud, sekalipun ia kaya raya, takwa dan banyak membela kebenaran. Dialah sahahabat yang pernah berkata. “Sekiranya aku tidak mendengar Rasulullah saw bersabda bahwa makar dan tipu daya itu akan berada dalam neraka, niscaya aku orang yang paling ahli makar dari umat ini”.

Melihat potret Qais di atas, satu hal yang sangat mendasar perlu digarisbawahi , adalah seorang Qais yang hidup dengan keunikannya yang khas: seorang ahli strategi dan sangat kaya ide.

Keunikan yang kemudian ia gunakan untuk Islam. itu pula yang memberi dia argumentasi untuk memilih menjadi seorang dermawan. Tapi yang lebih penting dari itu ialah, bahwa keunikan itu sendiri tidak memberi arti apa-apa, jika ia tidak mengantarkan pemiliknya untuk memilih jalan hidup yang sah di mata Allah.

Seorang Qais, kalau mau, bisa menjadi tukang tipu, pakar makar yang mengerikan tanpa pilih tanding. Itulah keunikan yang dimilikinya. Tapi dia tidak mengambil jalan itu. Justru ide-ide cemerlangnya lebih banyak ia gunakan untuk kebaikan.

Seperti Qais, setiap kita lahir dengan keunikan yang berbeda. Tidak harus luar biasa dalam segala hal. Sebab menjadi unik saja itu sudah luar biasa. Itu semacam watak dasar, bawaan lahiriah, bakat bawaan. Dan semua kita pasti memilikinya. Tapi, Sebagaimana bibit, keunikan itu bersemayam (tersembunyi) sehingga hanya sedikit orang yang mengetahui bakat bawaan. Mereka itulah yang beruntung. Mengetahui bakat dari sejak usia dini.

Sebagaimana bibit, bakat bawaan-keunikan itu perlu disiram, dipupuk dan dirawat dengan cermat agar berkembang dengan baik dan berdaya guna bagi banyak orang.

Bibit itu bisa menjadi tanaman yang buruk. bisa juga menjadi tanaman yang baik. Sekali lagi segalanya tergantung pada diri kita masing-masing. Persis seperti penegasan Rasulullah, bahwa manusia itu seperti tambang. Yang paling baik di masa jahiliyah adalah juga yang paling baik di masa Islam, jika mereka mengerti.

Seperti seorang Umar, wataknya yang keras di masa sebelum Islam, menjadi keunikannya sendiri setelah masuk Islam. Ia menjadi sangat keras bila membela kebenaran. Begitu juga dengan sahabaat-sahabat yang lain. Maka keunikan adalah harga. Yang dengannya kita membeli banyak pilihan dalam hidup. Tetapi lebih jauh, keunikan itu harus menjadi harga yang dengannya kita memohon surga Allah swt.

Dengan menjadikan keunikan itu sebagai energi dan kekuatan pendorong yang dahsyat untuk kita memilih jalan yang diridhai Allah Maka menjadi orang yang lahir dengan watak keras tidak selalu salah. Terlahir dengan bawaan lemah lembut tidak selamanya keliru. Tumbuh menjadi orang berjiwa besar, haus prestasi, dan cinta keindahan tidak sepenuhnya salah. Asal, semua itu mampu mengantarkan pemilik untuk memilih jalan hidup yang benar, yang disukai Allah SWT.

Maka watak kerasnya harus digunakan untuk dibangun kebenaran. Seperti juga yang lembut hati dan rasa, harus menggunakan keunikan dirinya untuk mengukur tingkat sensitifitas terhadap keburukan. Ia pun cepat terhindar dari penyimpangan, meski baru di ujung permulaannya, sebab hatinya sudah memberikan sinyal tidak menyenangkan. Begitu pula yang cinta akan keindahan, berjiwa petualang, tidak pernah puas, dan rindu akan dedikasi yang bermutu, harus membuat semua watak khasnya itu untuk jalan kebaikan. Ia harus menjadi seorang muslim yang haus prestasi dan amal baik yang berguna bagi diri dan orang lain.

Begitulah seterusnya, muslim sejati bisa menjadi besar dengan keunikannya, dan bukan sebaliknya. Sebab di ujung pengharapannya, ia memohon kepada Allah. Mengharapkan surga-Nya, merindukan keridhaan-Nya. Itu pengharapan yang tak pernah usai hingga menutup mata.

Setiap kita lahir dengan keunikan masing-masing. Setiap kita lahir dengan kelebihan masing-masing. Tidak ada orang yang hidup kecuali dengan kelebihan masing-masing. Keterbatasan justeru menjadi pembeda kita dari orang lain. Manusia ada yang hebat, ada pula yang biasa-biasa saja. Tapi masing-masing adalah keunikan. Sebab menjadi unik tidak harus hebat yang penting bermamfaat.

Setiap kita pasti lahir dengan keunikan. Maka, siapapun kita menjadi besarlah dengan keunikan. Tapi orang yang membesarkan keunikannya kadang merasa sepi dan sendiri. Pada saat ia menekuni keunikannya menjadi keahlian. Sebab hanya sedikit orang yang benar-benar mampu menjadi ahli. Artinya ia menempuh jalan sepi. Itu harga yang harus ia bayar. Sedangkan yang lainnya (yang gagal) tidak kuat akan kesunyian memilah jalan yang banyak ditempuh orang.

Alangkah pengasihnya Allah yang telah memberikan keunikan yang berbeda dari yang lain. Tapi sudahkah kita mengerti keunikan kita?.

****

Al Albana, 22 Rabiul Akhir 1439

Kategori My Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close