Kebingungan Berjamaah

Pada Pilkada serentak 2018, akan terjadi pandemik kebingungan Berjamaah yang berujung pada naiknya angka golput.

Apa penyebabnya?

Hampir semua pasangan calon adalah hasil koalisi partai yang di cap pembela agama dengan partai yang distempel pembela penista. Kalaupun tidak masuk dalam koalisi inti, Setidaknya mendukung pencalonan dari masing-masing kubu karena tidak punya calon kuat yang diprediksi bisa menang.

Di Sumatera Utara, Golkar dan Nasdem masuk dalam Koalisi PKS-Gerindra yang mengusung Edy Rahmady-Musa Rajeckshah. GN-PF MUI Sumut sudah mendesak agar mengeluarkan Golkar dan Nasdem dari Koalisi. Di Sulawesi Selatan PKS dan Gerindra bermesraan dengan PDI-P mengusung Nurdin Abdullah-Andi Sudirman.

Hubungan PKS-Demokrat yang sempat memanas pasca menendang Dedy Mizwar. Seperti ABG labil yang baru jadian putus terlihat dari twitwar Bang Jeck (Dedy Mizwar) Vs HNW rujuk di mesra lagi di NTB. Mereka sepakat mengusung Zulkiflimanayah-Siti Rohmi. Sedangkan Gerindra sekutu PKS malah berkoalisi dengan PDI-P mengusung pasangan Akhyar Abduh-Mori Hanafi untuk menjegal langkah Zulkiflimansyah-Siti Rohmi.

Belum puas sampai disana. Di Jawa Timur. Koalisi PKS-Gerindra-PAN gagal mengusung Poros Tengah untuk menghadang laju Syaifullah Yusuf atau Chofifah, akhirnya memilih jalan terbaik masing-masing. Gerindra menyusul kompatriotnya PKS yang telah dulu bergabung mendukung Koalisi PDI-P – PKB mengusung Syafullah Yusuf, sedangkan PAN merapat ke kubu Khofifah-Emil Dardak yang diusung Golkar, Demokrat, Hanura, Nasdem dan PPP.

Sebenarnyaa manuver-manuver politik seperti ini–meleburkan sekat-sekat karena stigma yang menempel di partai akibat hasil rekayasa oleh segilintir orang untuk kepentingan meraka ada mamfaatnya. Yaitu untuk pembelajaran politik kepada masyarakat supaya tidak terjebak dalam polarisasi, akibat kecenderungan menyerderhanakan politik sebagai sesuatu yang hitam-putih laksana papan catur.

Dan saya percaya, teriakan “kafir”, “anti kebinekaan”, “anti pancasila”, “anti NKRI” pada Pilkada mendatang jauh lebih sedikit dibanding Pilkada DKI lalu. Jika itu terjadi mereka sama saja menepuk air di dulang. Bukankah dulu mereka memberikan ultimatum dengan menyebarkan meme yang berisikan “Jangan pilih calon yang diusung oleh partai X,Y,Z. Toh belakangan terpaksa mendukung calon hasil koalisi partai X,Y,Z dengan partai yang mereka elu-elukan.

Politik adalah seni untuk mengelola berbagai kemungkinan. Dalam politik, kelenturan adalah keahlian yang wajib dimiliki setiap politisi. Segala hal selalu bisa dinegosiasikan di ruang-ruang tertutup. Sikap kaku dan keras kepala hanya akan menjadi boomerang yang dapat menghancurkan karir politik di tengah jalan.

Politik seperti karet gelang yang mudah ditarik ulur sesuai kepentingan semua bisa berubah sewaktu-waktu.

Jika angka golput tidak naik. Animo masyarakat tetap tinggi berbondong-bondong ke TPS untuk memberikan suara. Berarti ada yang salah pada masyarakat, satu diantara dua ini, akibat disuguhi sampul(seolah-olah) politik yang berlebihan, yaitu ; (1) Annesia akut sehingga mereka lupa akan ultimatum yang telah mereka ucapkan. Jika tidak, (2) benar banyak orang munafik di negeri ini,mereka tidak menepati janji yang telah mereka ikrarkan. Lantas apa beda mereka dengan politisi?

Mungkin inilah masanya penyakit kebingungan berjamaah tengah melanda negeri ini.

Mari kita berdo’a agar tidak ada duet Jokowi-Gatot pada Pilpres 2019 agar kebingungan berjamaah tidak berlanjut.

****

Al Albana, Andalas, 23 Rabiul Akhir 1439

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close