Logika Hidup

Saya membayangkan bagaimana kita untuk saling mencintai sepanjang- panjangnya jika waktu dibatasi ; siang-malam. Bahkan tanpa matahari (siang-malam) sekalipun waktu tetap dibatasi dengan angka 60, 12, 24, 31, 30 dan 29.

Secara biologis mustahil manusia hidup setua, danau, sungai dan gunung atau batu.

Entah di usia berapa?, entah berapa jauh lagi langkah kita? Yang pasti semua kita sedang menuju kembali kepadanya. Kita mesti bertanya sejauhmana kita telah menempuh jalan dan seberapa banyak kita telah menabung bekal. Ini bukan soal dimensi usia dimana kita mengurutkan secara linear menjadi siang-malam dalam numerik 60, 12, 24, 31, 30 dan 29.

Dulu ketika remaja kita dengan congkak pernah berujar seperti yang ditulis di kaos Joger atau Dagadu “kecil dimanja-manja, muda foya-foya, dewasa kaya-raya, tua taubat nasuha dan mati masuk surga”. Ini murni sebuah kedunguan akibat kejahilan–jauh dari ilmu. Jauh dari tuntunan hidup kita sebagai muslim; Al Qur’anul Karim.

Sebab pada akhir dan ujung kesudahannya, hidup memang perlombaan mengejar surga, namun bukan seperti perlombaan pada perayaan 17 Agustusan–yang mana berlomba antar peserta. Namun dalam hal ini kita sedang berlomba dengan hal yang paling mengerikan bagi setiap yang hidup yaitu kematian.

Begitulah semestinya kita menjalani hidup. Di atas reruntuhan peradaban yang pahit untuk dikenang. Kita harus mengerti begitu banyak logika kehidupan. Seperti yang sering diingatkan oleh para penyeru bahwa kita hidup di dunia ini laksana musafir yang hanya mampir sejenak untuk minum atau berhenti sejenak untuk berteduh dalam melakukan perjalanan jauh.

Para bijak telah mengingatkan kita sedari dulu logika hidup adalah biduk kecil yang mengarungi samudera luas. Kita harus membawa bekal yang cukup dalam perjalanan. Tidak boleh kurang namun juga tidak berguna setelah sampai di tempat tujuan. Logika hidup adalah waktu dan bekal sepanjang perjalanan harus tepat.

Sejatinya hidup adalah perseteruan antara mimpi manusia yang panjang vs ajal yang memenggal. Begitu pula dengan logika hidup yang beradu dengan godaan, kehendak yang selalu memanjang tak pernah berujung, serta panggilan syaithon yang melambai sepanjang perjalanan.

Di atas semua rel logika perjalanan itulah , hidup sebagian kita tak ubah seperti kereta tua. Itu tak boleh terjadi. Sebab sepotong hidup hanya sekali datang, setelahnya secepatnya berlalu. Pagi datang dan segera disapu siang. Sore memburu siang. Tiba-tiba digulung malam.

Gerak dan pilihan terus melangkah adalah prinsip dasar yang harus kita pilih. Hidup ini selalu di ambang dua tuntutan. Pertama (1) tuntutan untuk terus berkompetisi secara waktu. “Dan bersegeralah kamu kepada surga Allah, yang luasnya seluas langit dan bumi,…”. Ke surga pun yang maha luas pastinya tidak akan penuh sebagaimana halnya ; bus, kereta api atau Pesawat Terbang bahkan Kapal Laut juga mesti bersegera. Kita memang tidak berebut bangku seperti di moda transportasi itu, namun kita sedang berlomba dengan ajal. Kita sedang berkompetisi dengan usia kita sendiri. Dalam hal ini kita tidak bisa berharap bantuan kepada orang lain.

Dan yang kedua (2) adalah soal dimensi kualitas, mutu, bobot dan apa yang harus kita lakukan sebaik mungkin. “Dan berlomba-lombalah kamu dalam kebajikan,…”, sebagaimana perlombaan selalu ada yang menang dan yang kalah. Karena dimensinya mutu maka menjadi cepat saja belum cukup. Dalam hal ini menegaskan keikhlasan atas segala amal perbuatan hanya mengharapkan imbalan dari Allah di akhirat kelak. Menghindar dan Menjauhkan diri dari riya, ujub terlebih nifak dalam meraih pujian dan apresiasi dari manusia-makhluk ciptaan-Nya. Puaskan diri kita dengan carimuka hanya kepada-Nya. Ikhlas itu tidak berbunyi. Bukankah surah Al Ikhlas tidak ada lafadz ‘Ikhlas’ di dalamnya. Ikhlas tidak berbunyi.

Namun sebagai manusia biasa yang sering mengalami ambigusitas. Kita terkadang bahkan kalah mau jujur pada diri sendiri bisa disebut sering melakukan hal yang berlawanan. Misalkan kita berharap ridho Allah agar masuk ke dalam surga-Nya, namun terkadang kita enggan atau kalau tidak mau disebut enggan bolehlah disebut sering menunda-nunda apa yang diperintahkan-Nya.

Di satu sisi takut dengan hal-hal yang sangat mengejutkan dari takdir Allah. Tapi di sisi lainnya kita merasa aman dari keputusan-keputusan Allah itu. Begitulah acapkali kita menjalani apa yang jelas-jelas kita sadari akan merusak. Sebagaimana sebaliknya, kita juga sering enggan berbuat–melakukan hal-hal yang sebenarnya bisaa memberi kita rasa aman dari keterkejutan. Kita rindu Allah, namun pada praktiknya kitaa sering melupakan-Nya. Inilah ambigusitas kita sebagai manusia.

****

Al Albana, Andalas 24 Rabiul Akhir 1439

Kategori My Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close