Photography ; Diantara Yang Terlihat dan Tersirat

Orang yang expert pada bidang seni rupa, dapat mengetahui ekpresi yang berkecamuk dalam jiwa perupa pada saat melukis serta pesan yang disampaikan oleh perupa. Karena saya tidak paham dunia seni rupa, maka percaya saja itu. Sama seperti seni rupa saya juga tidak paham photography walaupun saya menyukai photo seperti menyukai lukisan. Jika lukisan saya tidak paham sama sekali hanya sekedar senang melihat sehingga tak berani berkomentar. Sedangkan photo walaupun tak paham, karena saya orangnya sok tahu maka saya suka-suka sendiri menafsirkan maksud dari photo termasuk photo dibawah Photo ini hasil karya sahabat saya Syasura Hendra yang ikut berpartisipasi pada aksi damai 212 yang dihadiri jutaan orang yang memutihkan silang monas. Soal angka yang diperdebatkan saya kesampingkan. Biarkanlah menjadi bahan perdebatan mereka yang mengemari hal itu. Saya hanya fokus kebeberapa photo ini saja. Sudah cukup. Jujur saya tidak berpartisipasi pada ketika itu, karena takaran saya (akal dan hati) fifty-fifty antara ikut dan tidak. Saya tak mampu mencerna isu yang berhembus terlalu kencang. saya abstain. Jika aksi ini gerakan politik mestinya rezim sudah tumbang. Coba bayangkan jutaan menyemuti silang monas yang berlokasi percis di depan istana. Berpakaian putih-putih, sebagian berasal dari luar Jakarta bahkan luar Jawa. Mereka urunan untuk menyewa bis dan logistik. Ibu-ibu, anak-anak, Bapak-Bapak. Semua tenggelan dalam lautan putih-putih. Jumlah masa pada aksi ini jauh lebih besar Jika besar daripada aksi 98. Jika ini gerakan politik, rezim mestinya sudah tumbang. Namun kenyataanya masih exis sampai hari ini. Kalau soal penistaan agama saya juga tidak yakin. Ujaran kebencian, caci-maki, hujatan saling mengkafirkan yang berkelindan di sosial media. Saya melihat, semua itu, bukanlah cara-cara yang Islami. Aahh. Andai saja saya tidak membuka akun sosial media sebelum aksi itu. Saya mungkin saja ada ditengah kerumunan massal itu. Seperti sahabat saya yang mengambil photo ini. Kembali ke topik photograpy Dari hasil jepretan sahabat saya ini, saya mengira begitu pulalah gambaran jiwanya saat mengambil photo-photo itu. Sementara mata bergerilya mengamati momen yang mesti diabadikan, sedangkan hatinya terus berzikir dan bermunajat kepada Allah untuk kebaikan dan keberkahan negeri ini. Ia tak pernah marah-marah dan berteriak meluapkan kebenciannya kepada penista di sosial media. Dan tidak pula menghakimi orang yang tidak sejalan dengan cara pikirnya. Tidak pula , berselfi ria, atau share location dan aktifity ketika ikut aksi. Mungkin saja dia tidak merasa telah membela islam usai ikut aksi. Tak ada raut di wajahnya apalagi stempel di jidatnya merasa sebagai Pembela Islam. Dugaan saya dia merasa telah menunaikan kewajiban dalam menjaga harkat dan martabat islam sebagai seorang muslim. Ada banyak orang yang ikut aksi damai 212 seperti hasil photo dan photograper sahabat saya ini. Saya bangga dan senang menyaksikan orang-orang seperti ini dalam mensyiarkan Islam. Thank Da Hen atas photonya yang luar biasa. Objek apapun yang dilakukan yang diniatkan kepada Allah bisa menjadi ladang dakwah. **** Al Albana, Andalas, 24 Rabiul Awal 1439

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close