Tidak Cukup Hanya Pintar Tapi Juga Mengerti

Lelaki itu bernama Barbaria. Sosok intelektual muda di masa Bani Israel. Ia Pintar dan rajin. la senantiasa membaca Al Kitab dan mengajarkan ilmunya kepada masyarakat. Sang cendekiawan muda itu benar-benar menyibukkan diri di tengah masyarakatnya. Tapi di balik itu semua, ternyata ia hanya menggunakan kepintarannya untuk memburu harta dan keuntungannya. Bahkan dia menciptakan hal-hal yang menyimpang dan aneh dalam beragam bentuk. Dengan itu, dia mendapatkan hadiah dan kehormatan di tengah musyarakat. Pebuatan itu ia lakukan terus sepanjang waktu. Hingga usianya pun berlalu dan ia dapati dirinya sudah tua.

Pada suatu malam saat sedang berbaring. di atas tempat tidurnya, tiba-tiba Barbaria tersentak memikirkan keadaan dirinya. Dia sendiri. “Memang, manusia tidak tahu kesesatan yang kuciptakan. Tapi bukankahAllah mengetahuinya? Sementara ajalku semakin dekat. Maka alangkkah baiknya jika aku bertaubat”.

Akhirnya, di puncak pilihannya untuk bertaubat. Ia melubangi tulang selangkanya. Lalu memasukkan rantai dan mengikatkan rantai itu di salah satu tiang rumah ibadah Bani Israil di zamannya. Dia mengatakan “aku akan tetap berada ditempat ini sampai Allah menurunkan ampunan-Nya dengan menerima taubatku atau biarkanlah aku meninggal seperti dunia yang akan binasa”

Barbaria adalah tragedi orang pintar yang tak kunjung menjadi mengerti. Kepintarannya sangat luar biasa. Kepandaianya adalah tipu daya dengan bekal ilmu pengetahuan yang dimiliki sebagai buah kepintaran.

Tapi kelak beribu tahun kemudian–hari ini kita menemukan penerus kepintaran Barbaria di negeri ini. Mereka orang-orang terpandang bertitel, bergelar. Mereka pejabat yang menggenggam kekuasaan. Mereka punya uang, harta dan juga punya massa (orang-orang yang bisa dikendalikan). Mereka adalah Barbaria Melayu sebelum taubat. Mereka memburu harta, mengejar kehormatan dan seringkali menyesatkan.

Tapi kesudahan Barbaria–sang intelektual Bani Israil itu berakhir tragis. Imam Ahmad meriwayatkan. Setelah beberapa waktu Barbaria mengikatkan di di rumah ibadah Bani Israil, turun wahyu kepada salah seorang nabi Bani Israil, tentang nasib lelaki seolah-olah pintar, namun sesungguhnya bodoh. Allah berfirman “Sesungguhnya jika kamu melakukan suatu dosa antara aku dengan dirimu, tentu aku akan menerima taubatmu. Apapun dosa itu. Tapi bagaimana dengan hamba-hamba-ku yang telah engkau sesatkan, lalu aku memasukan mereka ke dalam neraka, setelah mereka meninggal dunia?”.

Pemahaman(kemengertian) adalah alat utama hidup seorang muslim. Ilmu pengetahuan memang memberi seseorang kepintaran, tapi kemengertianlah yang menjadikan ilmu itu berguna. Memberi mamfaat sebagai alat untuk memilih sikap yang baik. Melakoni perilaku yang luhur dan menjalani hidup di atas rambu-rambu-Nya yang lurus.

Orang shalih terdahulu, mulai pelajaran dari aspek mental. Maka kepintaran bagi mereka adalah harga diri, kebersihaan jiwa, pilihan hidup yang terhormat. Ilmu yang mereka pelajari di majelis-majelis guru berfungsi mengasah jiwa,memperkaya dimensi hikmah yang bisa mereka jadikan sebagai renungan, penghayatan, serta penguat untuk mendekatkan diri kepada sang khalik. Itulah sebabnya mereka tidak hanya semakin pintar namun juga semakin mengerti.

Tapi hari ini, orang-orang memulai menuntut ilmu dengan tujuan agar pintar sehingga hanya berujung pada kemudahan dalam menjalani hidup di dunia yang fana ini. Orang tua menyuruh anaknya rajin sekolah agar pintar sehingga bisa jadi Dokter, Pengacara, Pilot, Pejabat. “Dengan demikian hidupmu tidak sengsara bisa kaya-raya” begitulah yang sering diucapkan orang tua agar anaknya rajin belajar.

Kita saksikan hari-hari ini dialektika kepintaraan semakin menjauhi dari kemengertian. Akibatnya kepintaran hari ini melahirkan ide-ide liar, lalu pembenaraan terhadap ide-ide yang keliru. Lantas ditupang pula oleh ‘industri istilah‘ yang membanjiri kehidupan.

Kita mengenal istilah koruptor untuk maling, uang terima kasih untuk suap, selingkuh untuk zina, bunga untuk riba, lembaga pemasyarakatan untuk penjara, narkoba untuk candu/madat, ekpresi seni untuk cabul dan banyak lagi istilah lainnya. Semua istilah itu untuk menghilangkan kesan buruk dari perbuatan-perbuatan tercela itu.

Begitulah Barbaria mendapat pengikut sepanjang masa. Kepintaran yang tidak mengantarkan pemiliknya kepada kematangan jiwa, ketinggian budi pekerti, kemulian akhlak. Pada akhirnya kepintaran hanya menenggelamkan pemiliknya kepada kesenangan duniawi belaka.

Dengan menjadi pintar seseorang memang bisa hidup. Tapi hanya orang yang mengerti (paham) saja yang memiliki kehidupan. Sebab bila sekedar hidup manusia manusia hanya butuh penupang biologis ; makan, minum, udara, sex dan sarana penunjang lainnyaa yang bersifat kebendaan. Tapi kehidupan selain memerlukan penupang biologis juga membutuhkan penupang jiwa ; filosofi,kesadaran tujuan akhir terjauh kehidupan, pusaraan penghambaan kepada Allah. Itu semua hanya bisa dicapai oleh orang-orang yang mengerti. Mereka yang hanya pintar tak akan bisa mencapai semua itu.

Allah menyindir Barbaria dan pengikutnya yang pintar-pintar, “Katakanlah adakah sama orang yang mengerti dengan orang yang tidak mengerti” Q.S Az Zumar : 9

Di negeri ini terlalu banyak Barbaria. Dalam konteks intelektual berbasis agama, maupun intelektual berbasis ilmu pengetahuan umum. Apa yang terjadi di negeri ini menyisakan kepiluan yang sangat mendalam. Betapa banyak tokoh-tokoh penting yang dahulu kita kagumi, ternyata di kemudian hari ada di balik jeruji dalam kasus yang memalukan.

Di negeri ini ketidakmengertian orang pintar telah memakan banyak korban. Saat ini kejahatan tidak lagi didominasi oleh kaum berkerah coklat (preman,bertato, bajingan berwajah seram) tapi kejahatan juga banyak diproduksi oleh kaum berkerah putih; cendekiawan,intelektual,orang-orang pintar yang bisa berkelit dengan dalih-dalih ilmiah, dengan argumen-argumen seolah-olah legal, bersembunyi di balik undang-undang (hukum formal) namun sesunggah sedang berdiri telanjang di lapangan terbuka jika dilihat dari sisi moral dan norma sosial. Mereka orang-orang pintar yang tak kunjung mengerti. Masih lebih baik Barbaria meyadari ketidakmengerian-nya di ujung ajal.

Sufyan Ats Tsuri–tabiin terkenal pernah berucap “jika engkau dapati seorang ahli ilmu merengek di depan pintu penguasa, ketahuilah ia maling, dan jika engkau ketahui mereka merengek di depan pintu orang-orang kaya maka ketahuilah mereka sedang mencari keuntungan”.

Menjadi pintar berbeda dengan menjadi mengerti. Sebab pintar hanyalah alat. Dengannya kita bisa mengerti dan dengannya pula bisa membodohi atau mengakali.

Alangkah banyak orang pintar namum hanya sedikit yang mengerti. Tapi di dasar sanubari tidak terbohongi. Bertanyalah pada diri sendiri, dengan kadar kepintaran seperti apapun. Adakah kita melewati hari hanya sekadar menambah kepintaran saja, atau insyaallah keduanya bertambah pintar sekagus semakin mengerti.

****

Al Albana, Andalas, 25 Rabiul Akhir 1439

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close