Syiasyah dan Fitnah di Dalamnya

Saya sedang mempertimbangkan, kepada pasangan calon manakah akan saya akan berikan suara pada Pilkada Kota Padang nanti. Sebagai warga kota ini (walapun masih KTP sementara) tentu saya juga punya hak untuk berpartisipasi pada ajang ‘Kepala Daerah Idol’.

Namun, beberapa hari belakangan mobil kampanye dari dua pasangan calon sering berlalu lalang di areal saya beraktifitas sehari-hari. Kedua mobil itu sudah didandani sedemikian rupa dengan photo pasangan calon dan tentu juga warna ikonik partai pengusung. Mobil dilengkapi dengan pengeras suara yang tak bosan-bosannya mengingatkan agar warga memilih pasangan calon yang ada photonya pada dinding mobil.

Keberisikan ini mengingatkan saya kepada buku Biografi Ali bin Abi Thalib yang ditulis oleh Sastrawan Otodidak-Ali Audah yang saya baca 5 tahun lalu.

—-

Tidak lama setelah dibia’at menjadi khalifah, Ali berencana untuk mengganti beberapa Emir (Gubernur) yang tunjuk pada massa Khalifah Ustman. Nama Zubeir bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah sudah masuk dalam radar Ali untuk menjadi Emir di Basrah dan Kufah. Reputasi dan dedikasi kedua orang sahabat Rasulullah itu terhadap Islam tak diragukan lagi. Mereka keduanya termasuk kedalam sepuluh Orang sahabat yang dijamin Rasulullah masuk surga.

Thalhal bin Ubaidillah, ia dijuluki Burung Elang Dari Uhud, karena sebelah lengan kehilangan jari untuk melindungi Rasulullah dari tebasan Pedang Kaum Quraish pada perang Uhud.

Zubeir bin Awwan, ia adalah anak bibi Rasulullah-Syaffiyah binti Abdul Muthalib, Rasulullah memberinya gelar Hawari yang punya arti Sang Pembela. Dia yang pemberani tak gentar membela Rasulullah dari Kaum Kafir Quraish. Zubeir pulalah yang pertama kali melepaskan anak panah menghadapi kaum Kafir Quraish. Beliau salah satu diantara 5 pemegang panji pasukan Rasulullah saat Fathul Makkah.

Malam,sehari sebelum dipanggil Ali bin Thalib,kedua Sahabat Rasullah ini berinisiatif mendatangi Ali untuk meminta jabatan. Zubeir minta menjadi dijadikan Emir(Gubernur) di Kuffah sedangkan Thalhah minta menjadi Emir di Basrah. Ali terperanjat dan marah, lalu membatalkan niatnya untuk menunjuk kedua sahabatnya menjadi Emir, dengan alasan tidak boleh meminta jabatan.

Sikap dan keputusan Ali, sesuai dengan hadist “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong).” HR Bukhori no.7146.

Belakangan hari, badai fitnah dan hura-hura yang semakin meluas sejak terbunuhnya Ustman, menyeret mereka berdua (Zubeir bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah) berada dalam satu kubu dengan Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar berhadapan dengan Ali bin Abi Thalib dalam Perang Jamal (Perang Unta).

Selama perang berkecamuk Ali tak henti-henti meminta kepada pasukannya untuk tidak mengarahkan anak panah dan pedang kepada mereka bertiga (Aisyah, Zubeir dan Thalhah dan juga berteriak kepada mereka bertiga untuk mundur ke belakang agar tidak terkena anak panah atau pedang pasukannya.

Namun apa daya badai fitnah yang terlalu besar telah membakar kedua kubu. Betis Thalhah terkena anak panah beracun dan memaksanya mundur dari medan perang. Beberapa waktu kemudian ia meninggal akibat luka yang dideranya itu.

Ali berhasil menebas kaki Unta yang ditunggangi Aisyah dan berhasil mengeluarkan Ummul Mukminin dari medan perang yang sedang berkecamuk. Belakangan Aisyah menyesali diri karena termakan fitnah yang telah menyeretnya ke medan perang. Sepanjang hidupnya ia menyesali kekeliruan itu. Sebagai seorang yang cerdas dan mempunyai pengetahuan yang luas di bidang kesusasteran, beliau mengeluarkan ucapan yang sangat indah atas penyesalannya itu, “Saya lebih bahagia seandainya tidak berada dalam perang itu daripada memiliki seratus anak laki-laki dari Rasulullah”. Kita tahu bahwa Rasulullah tidak punya anak laki-laki termasuk dari Aisyah. Dan betapa berharganya anak laki-laki dalam tradisi patriaki Arab, apalagi anak laki-laki dari Rasulullah.

Tidak cukup sampai disana penyesalan Aisyah, ia yang semula berencana-jika meninggal minta dikubur di samping makam Rasulullah membatalkan niatnya itu karena malu, telah terlibat dalam pusaran fitnah dan hura-hura kekuasaan. Bahkan ketika mendengar khabar Ali terbunuh, ia meronta dan larut dalam kesedihan dan penyesalan karena telah memerangi Ali.

Begitu pula dengan Zubeir, mungkin karena seruan Ali yang mengingatkan tentang persahabatan dan hubungan kekerabatan. Di tengah perang berkecamuk, ia sadar lalu meninggalkan medan perang untuk pulang ke Mekkah. Malang di tengah perjalanan pulang, saat istirahat ia dibunuh oleh orang yang tak dikenal. Dari kelompok yang tidak ingin terjadi perdamaian diantara umat Islam.

Begitulah syiyasah, politik yang berorientasi kekuasaan. Manusia mulia yang sudah dijamin masuk surga, mendapat pendidikan dan bimbingan lansung dari Rasulullah pun tak mampu terhindar dari fitnah yang ada di dalamnya. Apalagi manusia biasa seperti saya dan sebagian anda. Biarkanlah mereka yang merasa mampu saja menggelutinya. Jangan racuni kami yang tak mampu ini.

****

Al Albana, Andalas, 26 Rabiul Akhir 1439

Kategori Esai, Tokoh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close