Berhias atau Mengelabui

Mesir. Musim panas mencapai puncaknya. Seorang yang tengah berbahagia karena dikunjungi oleh sahabat lama. Ubaid, sahabat Rasulullah yang sudah lama bertugas di di ujung utara Benua Afrika, jauh dari masa kecil dan sahabat lama tentu punya rasa sepi sendiri.

Kunjungan sahabat lama meluapkaan rasa suka. Mulai dari topik perbincangan masa kecil, keadaan ummat, politik kekuasaan hingga penanpilan lahiriyah merasa layak dikomentari oleh sahabat dekatnya itu.

“Kenapa rambutmu berantakan seperti itu padahal engkau seorang pejabat” tanya sahabatnya itu.

Ubaid menjaawab “Sesungguhnya, Rasulullah melarang kita untuk mengurusi rambut setiap hari”

“Kamu juga tidak pakai terompah”, timpal sahabatnya lagi.

“Bukankah Rasulullaah menyuruh kita untuk sekali-kali tidak pakai terompah” balas Ubaid lagi.

Rambut dan sepasang terompah hanya simbol kecil dari suatu kemewahan jika kita memperlakukan berlebihan. Lebih banyak lagi barang-barang lainnya yang kita gunakan selama ini bukan hanya karena nilai guna(kemamfaatan), tapi lebih untuk memperlihatkan kepada orang banyak siapa kita. Tak perlu menunjuk cukup rasakaan; untuk apakah kita selama ini berpakaian. Berhias. atau Berdandan. Terlebih kaum hawa.

Budaya dan interaksi antar sesama manusia, melahirkan eksperimen-eksperimen baru dalam soal keindahan, atau imajinasi-imajinasi liar keindahan yang liar dan ilusif. Semua itu bermuara pada fase kehidupan yang menyukai kepalsuaan. Operasi plastik misalnya bagi yang punya cukup uang. Atau kamera 360 bagi yang berkantong cekak.

Industri yang didasarkan kepada jiwa kriminalitas melahirkan revolusi mitos, revolusi citra dan segala apresiasi kapitalis berbasis keindahan semu. Sebab di belakang industri selalu ada uang. Industri kapitalis tidak akan pernah lepas dari namanya untung dan rugi. Tidak peduli, bermamfaat untuk nilai-nilai keluhuran manusia. Sejauh mendatangkan keuntugan hajar terus. Karena itulah kapitalis tak pernah merasa rugi dengan menggelontorkan milyaran rupiah untuk ajang atau kontes kecantikan.

Di topang oleh industri penunjang kecantikan ada banyak orang menemukan ke’aku’annya dalam puja-puji.

Orang yang benar-benar beriman baik laki-laki atau perempuan mengerti betul fungsi keindahan. Dengan tidak menghabiskan semua umur dan uangnya untuk bersolek. Ia tidak menghabiskan waktunya untuk mengencangkaan kulit, ia tidak membuang usianya untuk melentikan bulu mata, ia tidak membuang waktunya untuk membentuk alis. Apalagi merubah bentuk asli yang telah Allah ciptakan untuknya. Ia mengerti, mana batas keindahan dengan kepalsuan. Ia paham batas kepatutan dan ketawadu’an.

.

Seorang mukmin, baik laki-laki maupun perempuan menyadari bahwa ia punya ruang di dalam diri untuk selera keindahan. Ia punya naluri (kadar asli) untuk untuk merapikan dan berhias. Ia juga mencintai keindahan karena Allah mencintai keindahan. Terlebih lagi kebersihan. Bahkan ia harus punya caranya sendiri dalam menempatkan semuaa cita rasa keindahan fisik maupun bathin. Sebagai cara halal untuk merawat cinta kepada pasangan yang halal. Tapi ia tidak akan memenuhi seluruh langit jiwanya dengan nafsu berdandan. Ia tidak mengantungkan obsesinya pada kecantikan dan ketampanan.

Ia paham betul, bahwa kecantikan dan ketampanan tidak semata soal wajah dan seluruh fisik sempurna yang terlihat. Tapi juga perangai dan tindak tanduk, tutur kata, sikap terhadap orang lain.

Hari ini kita menyaksikan dunia yang berlumur gincu. Menyatu dengan perangai-perangai kita yang palsu. Nyaris tidak ada keaslian yang berkilau. Dalam banyak hal. Apa yang kita saksikan di luar tidak sama dengan kenyataan sesungguhnya yang terjadi di dalam. Kita akan mudah menyaksikaan semua itu pada pada perangai banyak orang pesohor. Selebritis yang melenggok-lenggok di layar televisi, politisi dengan segunung kesepakatan palsu, pengusaha yang berlagak kaya dengan segudang utang. Atau aktifis yang merasa pakar pada seluruh ranting ilmu.

.

Betapa kita hidup dikepung kepalsuan. Apalagi jika kepalsuan itu ada dalam diri kita sendiri. Padahal sejatinya kepalsuan menimpakan segunung beban berat ke atas kehidupan manusia. Semua aksesoris untuk kepalsuan membutuhkan biaya mahal.

Dibutuhkan cara pandang keimanan yang mampu menembus batas-batas materi. Kita melihat keindahan dunia, akan tetapi matahati kita harus melihat jauh kesana–keaslian kampung akhirat. Dan itu tidak mudah bagi kita–manusia yang memiliki sifat ambigu.

Tetapi setidaknya kita bisa belajar dari hal kecil. Seperti Ubaid-sahabat yang mulia. Ubaid tidak sedang melawan kepatutan dalam berhias. Apalagi bertemu dengan sahabat lama yang dirindukan. Ubaid bahkan seoranh pejabat. Ia bukan oranh biasa atau orang tak punya. Ia punya. Ia bisa. Tetapi. Ia tidak sedang melawan kepatutan dalam berhias, namun ia lebih mengerti keaslian.

****

Al Albana, Andalas, 28 Rabiul Tsani 1439

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close