Calon Presiden Mendatang ; Dari Playing Victim, Blusukan hingga Marah-Marah Mesti Berkolaborasi Dengan Via Vallen dan ааии Kharisma

Playing Victim

Syahdan, daratan Eropa rentang waktu Januari 1943 hingga Mai 1945 terjadi pembantaian massal terhadap etnis Yahudi. Konon khabarnya 2/3 dari sembilan juta etnis Yahudi yang berdiam di Eropa dibunuh oleh Nazi yang dikomadoi oleh Adolf Hitler.

Gerakan Zionis international mengklaim dari enam juta Yahudi yang terbunuh ; satu juta anak-anak, dua juta wanita dan tiga juga pria. Begitulah sumber yang layak dikemplang melaporkan.

Data siluman inilah yang digoreng gerakan Zionis International untuk mendapatkan belas kasihan dunia agar dapat mendirikan Negara berdaulat di Palestina. Tujuan itu tercapai pada 14 Mei 1948 Negara Israel berdiri di Palestina.

Playing Victim ilmu sosial menyebutnya. Bersikap seolah-olah dirinya adalah orang (kelompok) yang paling menderita sedunia akibat di zholimi orang(kelompok) lain. Cara inilah yang ditempuh oleh Zionis International dalam mendirikan Negara Israel. Belakangan banyak peneliti membantah bahwa ; jumlah korban akibat kebegisan Hitler kepada Etnis Yahudi tidak seperti yang gencar dikampanyekan oleh Zionis.

Kebetulan sama atau mungkin terinspirasi oleh hal yang sama banyak orang (kelompok) yang menempuh cara yang sama, yaitu menggunakan strategi playing victim dalam mendapatkan simpati publik.

PDI-P dulu PDI dizholimi oleh pemerintah otoriter Orde Baru, puncaknya peristiwa Kudatuli . Kerusuhan yang terjadi pada 27 juli 1996. Pengambilalihan secara paksa kantor DPP PDI (sekarang PDI-P) yang terletak di jalan Diponegoro no 58 yang saat itu dikuasai kubu Megawati. Peyerbuan dilakukan oleh PDI kubu Suryadi yang dibantu oleh aparat Polri dan TNI. PDI kubu Suryadi ditengarai dibidani dan dibeking oleh pemerintah yang berkuasa saat itu dalam rangka menghadang langkah Megawati dari trah Soekarno.

Hasilnya, dengan mengkondisikan diri sebagai korban yang terzholimi (Playing Victim) oleh rezim diktator Soeharto PDI-P (Megawati) berhasil menduduki tangga teratas perolehan suara dengan mendulang 35.689.073 suara sah setara dengan 33,74 % suara  pada pemilu legislatif 1997. Walaupun perolehan suara ini hanya mengantarkan Megawati menjadi RI-2.

Susilo Bambang Yudohono (SBY) pantas dianugerahi gelar Bapak Air Mata Indonesia dengan tagline Mr Prihatin. Beliau yang menjadi Menteri Kordinator Politik, Sosial dan Kemanan Pada masa Megawati menjadi Presiden lalu berseteru dengan atasannya sampai akhirnya SBY mengundurkan diri–keluar dari Kabinet.

Sejak itu, nama SBY makin melambung. Ia mendirikan Partai Demokrat yang pada ujung mengantarkan beliau mengalahkan Megawati pada Pilres 2004. SBY menjadi presiden dengan strategi politik playing victim.

Ketika menjadi presiden beliau memperagakan sketsa photonya yang tertembak peluru pada bagian kepala sambil berucap “nyawa saya terancam”. Dari sebelum menjadi presiden lalu berhasil menduduki kursi RI-1 dan saat ini sudah menjadi mantan presiden pun ia selalu memposisikan diri sebagai orang yang dizholimi. Sungguh sangat memprihatinkan hidup pipo.

Blusukan

Tagline yang menempel pada Jokowi adalah blusukan. Down to earth kata wong londo, membumi atau merakyat ini sudah melekat pada beliau sejak menjadi Walikota Solo, Gubernur DKI dan hingga hari ini saat menjabat Presiden RI.

Photo atau video beliau dari dalam gorong-gorong, mengendarai motor trail menembus masuk pedalaman dalam rangka meresmikan proyok infrastruktur di pelosok terdalam negeri ini. Blusukan ke pasar yang becek berkelindan di langit-lagit sosial media. Adu panco dengan Kaeasang–puteranya dengan hanya mengunakan kaos singlet dan sarung menuai cibiran sekaligus sanjungan oleh warganet.

Selalu ada dua koor suara setiap kali Jokowi mengenakan pakaian yang biasa seperti; sepatu made in Cibaduyut seharga seratus ribu, kaos oblong, celana panjang murah dan lain sebagainya yang dianggap tidak pantas bagi seorang Presiden. Bagi lawan-lawan politiknya disebut pencitraan dalam rangka mengelabui rakyat sedangkan bagi para pemujanya beliau dianggap membumi , ikut berbaur dan merasakan apa-apa yang dirasakan rakyat. Entahlah hanya dia dan tuhan yang tahu. Saya tidak ikut berkomentar. Dan saya tidak berminat kepada hal seperti itu.

Menarik mundur masa kampanye Pilpres 2014. Kemenagan Jokowi tidak sepenuhnya oleh strategi pencitraan dengan blusukan walau tak dapat dipungkiri sebagian besar konsentrasi tim pemenangan Jokowi bergerak pada isu ini; Blusukan, sederhana, ndeso dan merakyat.

Jika dicermati lagi, dibuka lembar demi lembar hari-hari masa kampanye empat tahun silam, strategi Playing Victim juga tidak dibaikan sepenuhnya oleh Tim Pemenangan Jokowi mesti tak terbantahkan yang paling dominan adalah pencitraan dengan blusukan.

Belakangan terkuak ketika Pimpinan Redaksi Obor Rakyat-Velix Vernando Wanggai ditunjuk menjadi Komisaris PT. Aneka Tambang. BUMN yang bergerak di bidang hasil pertambangan dan mineral.

Padahal kita tahu, Obor Rakyat adalah tabloid yang memfitnah Jokowi pada masa kampanye Pilpres 2014. Tabloid ini mendiskreditkan Jokowi dengan tuduhan sebagai turunan Komunis dan Non Muslim. Tabloid ini beredar dalam lingkungan pesantren.

Nama simpatisan politik, tidak bisa melihat wajan berisi minyak maka isu ini digoreng oleh lawan politik Jokowi hingga akhir isu-isu liar itu sampai kemasyarakat awam. Termakan umpan dari pancingan tim pemenangan Jokowi. Dengan langkah cerdas Tim Pemenangan Jokowi merespon dengan menyebarkaan photo-photo Jokowi saat menunaikaan ibadah haji. Masyarakat awam yang sebelumnya termakan isu itu menilai Jokowi telah difitnah dan berbalik arah berfihak kepada Jokowi yang terzholimi.

Dan di negeri ini dalam ajang apapun nama dan bentuknya termasuk Pilpres. Sebagian pemilih memberikan suaranya kepada orang yang perlu dikasihani apalagi yang sedang dizholimi. Lihatlah ajang pencarian bakat di televisi hampir selalu yang keluar sebagai kampiun adalah mereka-mereka yang berhasil menjual (mengeksos) keperihan dan kesengsaraan hidupnya, seperti Aris-Pengamen di KRL pada Indonesian Idol, Fery Afandi-anak seorang Tukang Becak pada Akademi Fantasi Indosiar. Pemirsa memberikan suara kepada mereka bukan karena kualitas suara namun lebih dari sekedar rasa iba dan belas kasihan setelah melihat kepedihan hidup mereka. Termasuk dalam memilih pemimpin pada Pilpres 2014 silam.

Marah-marah

Dahlan Iskan mengamuk di pintu tol dekat Jembatan Semanggi menuju arah Slipi. Penyebabnya, antrean di tol tersebut sangat panjang tetapi loket yang dibuka hanya dua dari empat pintu yang ada.

Melihat antrean yang panjang itu. Dahlan yang hendak berangkat rapat koordinasi setiap Selasa ke Kantor PT Garuda Indonesia langsung turun dari mobil. Saat itu antrean sepanjang kurang lebih 30 mobil di depan pintu tol.

»Dahlan langsung turun dari mobil dan memeriksa. Di situlah Dahlan melihat, dua loket masih kosong, dan hanya satu loket manual dan satu otomatis yang dibuka. Dahlan pun masuk ke dua loket yang tutup itu dan membuang kursi yang ada di dalam. “Tidak ada gunanya kursi ini,” kata ucapan Dahlan.

Raut kekesalan terpancar kala Zumi Zola terpaksa keluar malam karena mendengar ada aksi blokir jalan yang dilakukan warga di 3 desa. Aksi pemblokiran itu terjadi di Desa Mudung Darat, Kecamatan Muarosebo, Kabupaten Muarojambi.

Aksi tersebut dilakukan warga karena kesal tidak ada perhatian terhadap jalan sudah lama rusak parah dan berlumpur.

»Ganjar Pranowo marah besar kepada anak buahnya saat sidak ke jembatan timbang. Sebabnya, saat dia sedang sidak mendadak ada kernet sopir truk memberi amplop berisi uang kepada petugas timbangan pada tahun 2014 lalu.

»Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini pernah kedapatan memarahi anak buahnya. Contohnya ketika menangani banjir di Surabaya pada Desember 2013, dia marah-marah melihat anak buahnya lambat dalam bekerja. Saat itu Kelurahan Sumber Rejo, Kecamatan Pakal, Surabaya, sedang dilanda banjir besar.

»Wali Kota Bogor Bima Arya juga pernah marah karena anak buahnya di Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bogor terlibat kasus narkoba. Bima marah dan segera mencopot Kepala Satpol PP Agung Prihatno dari jabatannya. Dia menyatakan tidak akan toleran terhadap kejahatan narkoba. Maka dari itu pihaknya mempersilakan Polres Bogor Kota memproses dua oknum PNS tersebut.

»Basuki Tjahya Purnama yang lebih dikenal dengan nama Ahok bereda dipuncak tiang tertinggi dari semua politisi. Tak perlulah dijelaskan lagi amarah seperti apa yang pernah disemburkan dari mulutnya. Hasilnya terlihat jelas ada dua kelompok paduan suara. Kelempok pertama bernyanyi merdu dan riang gembira atas pernyataan kasar Ahok saat marah-marah, sedangkan kelompok kedua selalu menyambut amarah dan mulut kasar Ahok dengan caci maki yang tak kalah kasar. Ahok adalah sosok yang paling dipuji sekaligus dibenci

Teman Ahok yang memujanya menilai itu bentuk ketegasan sedangkan musuhnya melihat kemarahan Ahok suatu tindakan amoral tak pantas dilakukan oleh seorang pemimpin di depan publik.

Saya bukan seorang moralis dan juga tidak ingin bertindak amoral dengan ikut-ikutan mengomentari mulut besar Ahok. Bagi saya apapun alasan dan bentuk kemarahan yang diluapkan dengan kata-kata kasar adalah pengejawantahan dari orang-orang yang tak mampu berkomunikasi dengan baik. Kita biarkan saja kedua kelompok ini sahut-sahutan dengan alasan masing-masing karena itu adalah hak mereka. Toh pada akhirnya Ahok gagal melaju menduduki DKI-1, entah karena mulut besarnya atau gerakan populis kanan yang mengusung isu sara. Entah karena do’a orang teraniaya akibat penggusuran besar-besaran yang telah dilakukannya. Faktanya Anies–yang membuat saya terpesona dengan kemampuan publik speakingnya berhasil menyingkirkan Ahok.

Namun ingat sejak Jenderal Soeharto terguling, nyaris tidak sosok yang tegas yang mampu menjalankan rencana pembangunan dengan tepat. Selalu dipengaruhi oleh opini publik dan parlemen jalanan. Akibatnya banyak proyek-proyek yang terbengkalai alias mangkrak.

Rakyat merindukan sosok yang tegas seperti Pak Harto agar rencana pembangunan berjalan dengan lancar. Kedahagaan itu mereka dapatkan dari sosok Dahlan Iskan, pernah digadang-gadang sebagai calon Presiden sebelum Pilpres 2019. Sutiyoso, Jenderal Gatot, Risma bahkan Ahok adalah sosok yang ada di kepala rakyat yang sudah lelah dengan pemimpin yang selalu ‘prihatin’ atau pencitraan dengan ‘blusukan’. Karena semua itu hanya basa-basi dalam mengelabui rakyat. Yang mereka membutuhkan hasil bukan cara.

Tapi ingat meski rakyat dahaga pemimpin yang tegas (marah-marah), Dahlan Iskan tak pernah menjadi presiden bahkan menjadi calon Presiden pun tidak. Ahok terpental dari DKI-1. Sutiyoso pernah jadi Presiden hanya di Baliho pinggir jalan. Risma sudah agak jarang marah. Mungkin sudah tidak berminat jadi presiden.

Jadi kesimpulannya jika ada yang berniat jadi presiden strategi playing victim sudah tidak mempan. Ingat SBY-Bapak Air Mata Indonesia hanya menang dua kali Pilpres. (Pura-pura bloon UU membatasi masa jabatan presiden hanya dua periode). Begitupula bagi yang berharap simpatik pemilih dengan cara blusukan ala Jokowi, sudah basi dan rakyat sudah cerdas tak mau terpedaya dua kali. Apalagi kalau cuma mengandalkan cara marah-marah seperti Ahok lalu berharap meraih suara.

Tak bisa tidak siapapun yang berkeingian maju dan menang pada Pilpres mendatang harus berkolaborasi dengan dek Via Valen atau Nella Kharisma. Maaf salah akibat kebanyakan mendengar dangdut koplo. Maksud saya adalah sosok yang dapat melantunkan senandung sedih akibat terzholimi ala Pepo SBY dalu joget dengan blusukan–turun ke bawah dengan wajah deso ala Jokowi disempurnakan dengan luapan amarah seperti lahar panas yang dimuntahkan Gunung Agung ala Ahok.

Dan ketiganya itu (Playing Victim,Blusukan dan Marah-Marah) komposisinya harus pas seperti masakan nikmat dan sehat yang diracik oleh chef sekelas Farah Quin. Jika hasilnya berupa bagunan tidak cukup hanya kokoh dan indah dipandang tapi juga meski simetris, presisisi seperti Taj Mahal, sehingga jika dilihat dari delapan penjuru mata angin yang berbeda-beda terlihat dengan bentuk yang sama.

Koplo, Via Vallen dan Nella Kharisma

Via Vallen dan Nella Kharisma tak perlulah dijadikan spesial hayer sebagai Calon Wakil Presiden selain menyebabkan kegaduhan diantara partai pendukung koalisi tentu juga berakibat amukan massal. Karena Via Vallen dan Nella Kharisma mata air kebahagian mereka dari kegersangan kondisi kebangsaan saat ini. Koplo dapat melupakan sejenak beban hidup yang semakin mencekek leher. Tentu saja Vyanisti dan Nella Lover berjihad mempertahankan mereka agar tidak diboyong ke Jakarta. Cukuplah mereka dilibatkan dalam berkampanye dari panggung ke panggung yang berada di lapangan kabupaten hingga lapangan desa.

Jika koplo adalah sebuah ideologi politik, maka Jawa Timur adalah Kerajaan Koplo. Sidik Monata sebagai Raja, Cak Slamet sebagai Panglima sedangkan Via Vallen atau Nella Kharisma sebagai permaisuri. Do’akan saja semoga dalam waktu dekat Kerajaan ini berdiri sebagai reingkarnasi Kerajaan Majapahit.

Ingat Djawa Timoer adalah koentji. Provinsi dengan penduduk 37.476.757 jiwa berapa satu strip di bawah Jawa Barat sebagai Provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak. Namun ingat penggemar musik koplo tidak hanya di Jawa Timur, 2/3 penduduk Jawa Tengah terutama yang bermukin di pesisir utara adalah penggemar koplo tak kalah militan dibanding penduduk Jawa Timur. Belum Vyanisti dan Nela Lover di Jawa Barat, Jakarta, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua bahkan TKI yang berada di Hongkong, Malaysia, Negara Arab lainya tentu saja terhipnotis oleh Via dan Nella dengan sukarela memberikan suara kepada Calon Presiden yang dikampanyekan mereka (Via dan Nella).

Saya percaya, sosok yang merupakan sinkretisasi antara SBY, Jokowi dan Ahok akan menang jika maju pada Pilpres 2019.

Siapakah dia?

****

Al Albana, Andalas, 22 Rabiul Akhir 1439.

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close