Mengobral Dan Mengoplos Gelar Ustaz

Dulu semasa saya kecil mengaji di Surau, guru mengaji kami panggil apak, Ibuk, etek, ajo,uni, mak utiah. Sesuai dengan panggilan keseharian mereka dalam kehidupan sosial. Tak satupun yang kami panggil ustaz. Dan kami murid mengaji juga tak disebut santri. Semua panggilan yang biasa-biasa saja itu tak mengurangi rasa hormat kami terhadap mereka. (Tidak tahu juga dulu kita hormat atau takut sama guru ya?)

Zaman berubah, bumi berputar merubah relasi sosial. Sekarang murid belajar mengaji disebut santri guru-guru mereka di panggil ustaz dan ustazah. Tapi bagaimanakah penghormatan mereka terhadap ustaz dan ustazah mereka?

Saya kaget dan nyaris menggaruk dinding. Ketika suatu malam, anak saya bilang “Ayah, besok kata Ustazah bawa kertas origami, untuk prakarya”.

Ups ,apa pasal?

Sebelumnya saya sudah tahu latarbelakang pendidikan ustazah yang dimaksud anak saya itu. Dia satu almamater dengan saya, namun beda fakultas dan angkatan. Dia lulusan fakultas Pendidikan Guru Sekolah Dasad (PGSD) dari kampus sekuler.

Ustazah anak saya tidak pula mengampu pelajaran agama (islam) dan juga bukan lulusan sekolah agama apalagi pesantren. Lantas hanya karena mengajar di sekolah yang plangnya ada huruf IT setelah huruf SD lalu di panggil ustazah?

Rasa penasaran menuntun saya menuju KBBI online untuk mencari definisi Ustaz, bukan ustadz tanpa huruf ‘d’, itu yang shohih menurut KBBI.

us·taz Ar n 1 guru agama atau guru besar (laki-laki); 2 tuan (sebutan atau sapaan)

Menurut KBBI ustaz (ustazah untuk perempuan) adalah 1. guru agama, 2 sebutan atau sapaan.

Jadi dari sini jelas bahwa ustaz adalah (1) guru yang mengajarkan agama(islam). Bukan guru yang mengajarkan ilmu pengetahuan selain agama. Atau (2) sapaan untuk orang yang paham ajaran agama (islam). Keluasan ilmu (islam)-nya diatas rata-rata pengetahuan kaum muslim.

Rasa penasaran terus menuntun saya berselancar di Eyang Google. Ternyata di Timur Tengah sana sebutan untuk ustaz (ustazah) hanya diberikan untuk dosen yang mengajar setingkat perguruan tinggi bukan untuk pengajar pendidikan tingkat dasar. Seorang dipanggil ustaz minimal menguasai dua belas cabang ilmu agama islam diantaranya ; nahwu, shorof, bayan, badi’, ma’ani, adab, mantiq, kalam, akhlaq, ushul fiqih, tafsir, dan hadits. Kalau disini setingkat Doktor atau Profesor baru dipanggil ustaz.

Tapi, ini Endhonesia bukan Arab, sah-sah saja. Nuswantara, lahan yang subur untuk akulturasi produk-produk kebudayaan termasuk bahasa. Orang yang hanya membagikan tausiah di medsos juga dipanggil Ustaz. Padahal cuma share lho, bukan menulis. Penyanyi lagu religi pada bulan Ramadhan, pelawak di televisi juga dipanggil Ustaz. Bahkan psikolog keluarga yang punya acara talkshow di layar kaca juga dipanggil ustaz. Termasuk Tabib dan dukun yang konon katanya mampu mengobati segala macam penyakit. Baik penyakit fisik maupun gaib, mulai dari pengobatan santet dan pelet sampai ke pengobatan panu kadas kurap hingga gagal ginjal dan stroke.

Bahasa berubah karena masyarakatnya setuju untuk diubah. Bahasa pun bisa punah karena masyarakatnya setuju untuk itu.

Endhonesia, negeri overdosis cover agama. Catat Cover atau sampul agama bukan ajaran agama. Jika overdosis agama malah bagus. Karena semua orang sudah membatasi dirinya dengan nilai-nilai luhur agama (islam) dari perbuatan tercela . Dengan demikian kita tak perlu lagi aparatur negara (polisi, jaksa, hakim, KPK dan lain sebagainya) yang menelan biaya triliyunan rupiah agar negara berjalan dengan aman, damai sentosa. Jadi sah-sah saja. Makanya jangan kaget ketika orang lain mengolok-olok Islam. Lho orang Islam sendiri meletakan(memberikan/menyebut) sesuatu tidak pada tempatnya. Ya ujung-ujungnya dicolong oleh sembarang orang. Buktinya sebutan ustaz sekarang milik siapa saja. Ustaz Pelawak, ustaz penyanyi, ustaz seleb, ustaz motivator. Tak heran ada fanspage mereka diikuti jutaan follower. Tautan bereka yang seakan-akan Islami yang diakhiri dengan like,comment dan share memenuhi laman media sosial. Bahkan dukun yang menyesatkan juga dipanggil ustaz.

Dari hal yang sah-sah saja itulah muncul masalahnya. Suatu saat, orang yang disematkan Ustaz didepan namanya terseret pada perbuatan tercela. Lagi-lagi Islam yang jelek. Padahal yang salah kita, terlalu mengobral gelar Ustaz.

Nah mulai sekarang mari kita benarkan dulu cara penulisan dalam huruf latin sesuai KBBI ; ustaz bukan ustadz, kiai bukan kyai. Besok pelan-pelan kita mulai selektif memanggil seseorang dengan sebutan ustaz atau ustazah, selanjutnya lebih hati-hati menyebarkan tautan yang seakan-akan islami dari Ustaz dan Ustazah selebook.

****

Al Albana, Andalaa, 01 Jumadil Ula 1439

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close