Kawa Daun ; Filosofi Dalam Secangkir Kopi

Suatu hari saya sempat ngobrol dengan seorang pembeli yang belanja di toko. Ia membeli beberapa peralatan untuk usaha warung kopi yang baru dirintisnya. “Buka usaha apa?”, tanya saya. “Warung Kopi da, kopi Gawa Daun” jawabnya. Saya kaget karena baru sekali ini mendengarkannya. “Jenis minuman kekinian yang disukai ABG ya?”, tanya saya penasaran. “Bukan, kopi tradisional, penyajiannya dengan Tempurung Kelapa, sekali-kali mampir ke warung biar tahu rasanya” ujarnya sambil menyalakan motor dan berlalu.

Sebagai putera Minang dan penikmat kopi, malu rasanya saya tidak mengenal–dan hingga hari ini belum pernah meyerumput minuman ini, yaitu Kopi Kawa Daun.

Sebagai bentuk penyesalan serta sebagai orang yang tidak tahu saya bertanya ke Ustaz Google dengan berselancar menelusuri sejarah Kopi Kawa Daun.

Saya tersentak ternyata dalam secangkir Kopi Gawa Daun ini mengandung filosofi yang dalam yang sering didengungkan (mudah-mudahan juga dipahami) orang minang “Tahimpik ndak di ateh, takuruang ndak di lua”. (Tertindih ingin di atas, terkurung ingin di luar). Dengan filosofi inilah yang banyak mengantarkan orang minang menjadi diplomat ulung pada zaman dahulu, dulu bangat era pra kemerdekaan hingga dua dekade setelahnya.

Perjanjian Penghulu Minangkabau dengan Belanda yang dikenal dengan nama Plakat Panjang disepakati bahwa ; (1) Kedatangan Belanda ke Minangkabau tidaklah bermaksud untuk menguasai (menjajah) negeri tersebut,(2) Minangkabau tetap dipimpin oleh penghulunya,(3) Belanda hanya datang untuk berdagang & menjaga keamanan,(4) Minangkabau tak pula diharuskan membayar pajak, (5) Untuk membiayai pembangunan jalan, sekolah dan rumah sakit maka rakyat harus menanam kopi dan menjual kepada Belanda.

Awalnya tidak masalah karena orang Minang sudah terbiasa menanam Kopi. Masalahnya muncul ketika harga komoditas kopi semakin melonjak di pasaran dunia, namun karena komoditas Kopi dimonopoli oleh Belanda maka orang Minang tidak merasakan dampak apa-apa dari kenaikan harga kopi.

Disinilah filosofi Minang yang disebutkan sebelumnya berperan. Setelah protes mereka tidak digubris, mereka menanam lebih banyak Kopi sedangkan hasil panen yang mereka jual kepada Belanda, tetap seperti sebelumnya. Kelebihan panen itulah–yang tidak diketahui Belanda mereka jual ke Pesisir Pantai Timur bahkan sampai Malaka tentu dengan harga jauh lebih mahal di banding dijual kepada Belanda.

Untuk mengelabui ; bahwa seluruh hasil panen kopi sudah dijual kepada Belanda. Maka terbitlah akal mereka dengan cara minum kopi tanpa biji kopi melainkan daunnya. Ini bertujuan agar Belanda tak curiga. Dengan begitu mereka tetap bisa minum kopi sekaligus leluasa menjual kopi ke Pesisir Pantai Timur dengan harga yang tinggi.

Minum Kawa Daun adalah pengejawantahan bahwa mereka sudah menjual seluruh panen kopi kepada Belanda sesuai kesepakatan Plakat Panjang. Kawa daun dapat disebut sisi lain dari aksi protes dalam konsep yang seakan berlawanan tapi tujuan yang sehaluan yaitu; kesejahteraan.

Semakin hari, Belanda semakin tidak bisa mengontrol penjualan panen kopi. Ujung-ujung politik tanam paksa yang diterapkan Belanda hanya akan menguntungkan Bangsa Eropa lainnya seperti Portugal dan Inggris yang menampung peredaran gelap kopi di Pesisir Pantai Timur. Akhirnya Tanam Paksa dihentikan.

Sejak saat itu, jika lagi kesal Belanda meledek orang minang dengan “Godverdomme Melayu Kopi Daun zegg”. Sekali lagi ini solusi cerdas dengan pendelakatan radikal(mengakar). Mereka pahan tujuan jangka panjang, sehingga diterkungkung oleh cara protes yang tengah mereka jalani, mungkin saat itu belum efektif.

Cara pengolahanya sangat sederhana. Ambil beberapa lembar daum kopi sesuai yang diinginkan. Jangan terlalu tua dan terlalu muda. Lalu tusuk dengan sebilah lidi dan gantungkan di atas perapian (tungku memasak) yang biasa digunakan untuk memasak selama beberapa hari hingga kering. Proses pengeringan ini disebut sangai. Setelah beberapa hari daun kopi yang kering dan getas itu diremas menyerupai rajangan dauh teh, lalu dimasukan ke dalam tabung bambu dan disiram air mendidih. Inilah yang dimaksud Kawa Daun. Sebenarnya kalau dilihat dari prosesnya lebih cocok di sebut Teh Kopi karena proses pembuatan seperti Teh.

Mengenai ‘Kawa’ kemungkinan besar berasal dari kata ‘Gahwe’, Bahasa Arab untuk kopi. Jadi Kawa Daun berarti Kopi Daun.

****

Al Albana, Andalas, 06 Jumadil Ula 1439

Satu tanggapan untuk “Kawa Daun ; Filosofi Dalam Secangkir Kopi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close