Umar bin Khattab Bukan Lagi Amirul Mukminin

Pagi masih diselimuti gelap. Di Masjid Nabawi subuh berjalan seperti biasa. Umar bin Khattab berada paling depan sebagai imam. Kaum muslimin berbaris rapi di belakangnya, menghadap Allah dalam shalat subuh yang khusu’.

Tiba-tiba sesosok bayangan laki-laki berkelebat ke depan. Lalu menghujamkan pisau bermata dua ke perut Khalifah. Seketika Umar roboh. Ia mencobaa berpegangan kepada Abdurahman bin Auf, namun tak mampu lagi berdiri. Abdurahman melanjutkan shalat menjadi imam.

Kondisi Umar semakin memburuk, setiap kali diberi minum susu lansung keluar melalui perutnya yang terluka. Umar memperlihatkan tanda-tanda tak terselamatkan.

Umar yang tangguh dan sangat menyayangi umatnya tengah menghadapi masa-masa krisis. Merasa ajal sudah dekat, Umar meminta anaknya-Abdullah bin Umar agar menemui Aisyah. “Pergilah dan katakan bahwa Umar bin Khattab menyampaikan salam. Tapi jangan sebut dari Amirul Mukminin. Karena aku hari ini bukan amir (pemimpin) kaum muslimin lagi. Sampaikan bahwa Umar bin Khattab meminta izin untuk dikubur disamping dua sahabatnya (Rasulullah dan Abu Bakar)”, begitu perintah Umar kepada anaknya.

Abdullah pergi menunaikan perintah Umar. Sesampai di hadapan Aisyah pesan itu pun disampaikan. Meskipun sebelumnya Aisyah menginginkan tempat itu untuknya, namun Aisyah mengizinkan untuk Umar.

Inilah sepenggal kisah Umar dari keseluruhan perjalanan hidup Umar yang sarat dengan kisah-kisah ketauladanan. “Jangan sebut aku amirul mukminin, karena hari ini aku bukan amir bagi kaum mukmin”

Kalimat itu mungkin sederhana namun memiliki makna yang dalam. Kalimat singkat tapi substansial. Umar memberikan pelajaran yang sangat mahal tentang mengenali diri sendiri. Umar sangat tahu diri dalam kondisi kritis seperti ini mustahil ia bisa mengurus dan mengayomi umat. Maka dari itu ia sadar diri tak pantas gelar Amirul mukminin disandangnya.

Namun bandingkan ucapannya, empat hati sebelum hari yang mengenaskam itu. Ia berkata kepada Hudzaifah bin Yaman dan Nu’man bin Hunaif, “sekira Allah masih memberi umur, aku akan bikin para janda di Irak tidak lagi memerlukan seorang sesudahku”. Dari kalimat ini, terlihat jelas Umar peduli dan bertanggung jawab kepada rakyatnya. Bahkan kepada janda nun jauh di Irak, agar tercukupi kebutuhannya. Karena Umar tahu betul tanggung jawab dari jabatan Amirul Mukninin. Tapi hari itu, ketika badan semakin lemah, ia mustahil menjalankan amanat kekhalifan dan jabatan amirul mukminin, karena itu ia tanggalkan sebutan itu dari dirinya.

Namun hari ini kita lihat, orang-orang memaksakan dirinya dipanggil pemimpin ingin disebut Walikota, Bupati, Gubernur, Presiden dan laiinnya. Ada Bupati yang dilantik dalam penjara. Pernah ada ketua cabang olah raga yang tidak bersedia melepaskan jabatannya walaupun sedang menjalani hukuman di penjara. Apakah dengan gerak yang dibatasi oleh jeruji besi dapat mengayomi rakyat yang dipimpinnyaa atau bidang olah yang berada dibawah komandonya?

Bahkan kesalahan penyebutan pangkat oleh protokol dalam acara perayaan atau korespondensi kadang juga berujung sanksi.

****

Al Albana, 08 Jumadil Ula 1439.

Kategori Tokoh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close