Saya dan Bubur Ayam

Persinggungan saya dengan Bubur Ayam, memang terlambat, serta melalui pendekatan yang alot dalam masaa yang panjang. Malu-malu kucing. Karena memang sejak lahir hingga tamat kuliah, saya berdomisili di Padang, sehingga tidak pernah bersentuhan dengan kuliner ini.

Bagi masyarakat Minang yang terkenal dengan aneka macam kuliner yang pilih tanding, tentu kuliner non Minang akan kesulitan untuk masuk dan bersaing dengan kuliner lokal yang belakangan ini dituding sebagai kambing hitam segala macam penyakit karena mengandung kolesterol yang tinggi akibat penggunaan santan yang berlebihan. Padahal saya belum pernah menemukan kajian ilmiah perbandingan angka penyakit akibat kolesterol masyarakat Minang terhadap Masyarakat di luar Minang. Setidaknya hingga hari ini belun juga ada yang membuktikan bahwa masyarakat Minang berada pada angka tertinggi penderita kolesterol.

Dulu sebelum abad 21, sedikit sekali kuliner non Minang yang bisa menebus masuk serta diterima lidah masyarakat Minang. Setahu saya sampai awal 90-an hanya Bakso yang bisa diterima selera orang Minang. Hingga awal tahun 2000-an, mulai Saye Ayam (orang padang menyebut sate madura), namun sekarang akibat dunia semakin global hampir seluruh kuliner nusantara bahkan masakan eropa dan Arab (Turki) dapat ditemui dengan mudah di kota Padang.

Awal tahun 2000 saya menginjakan kaki di Tanah Betavia. Saya walaupun belum pernah mencicipi aneka kuliner selain masakan Minang beradaptasi dengan cepat dengan aneka kuliner yang ada di Batavia yang berasal hampir dari seluruh nusantara. Pecel Lele, Rawon, Tongseng, Soto Betawi, Nasi Uduk. Diajak makan di Warteg monggo. Ditraktir di warung Nasi Padang No Problem. Padahal kala teman-teman seperjuangan dari Padang masih saklek dengan Masakan Padang. Diantara teman-teman seperjuangan mungkin saya tipe pemakan segalanya dan lebih cepat beradaptasi dengan kuliner di luar Masakan Padang.

Namun persentuhan saya dengan Bubur Ayam sedikit rumit dan agak malu-malu menyentuhnya. Seperti Cane-Perawan Betawi milik Bang Haji Rhoma Irama. Berbeda dengan kuliner lain saya berani menjejal tanpa berfikir panjang. Jika suka besok cicip lagi jika tidak, sekurangnya sudah pernah mencicipi.

Awalnya karena ada teman dari Padang yang tidak suka Bubur Ayam, lalu mempengaruhi saya dengan menyebut Bubur Ayam sepeti muntah Kucing. Itu berhibernasi dalam alam bawah sadar saya. Rasa penasaran saya untuk menjejal tetap ada namun selalu dikalahkan oleh oleh ‘kampanye hitam’ yang telah ditancapkan oleh sahabat sebelumnya.

Al hasil hingga satu tahun di Tanah Betawi saya belum juga pernah mencicipi Bubur Ayam. Rasa penasaran ingin mencicipi dan eneng melihat Bubur Ayam saling berganti tempat di kepala. Semakin saya penasaran semakin eneg dan sebaliknya semakin eneg semakin penasaran. Begitu terus hingga pada suatu pagi pada awal 2011.

Bertempat di Bumi Niaga Gunung Geulis-Bogor. Suasana pagi yang cerah dengan lanscape kota Bogor diguyur mentari pagi. Aneka sarapan pagi telah tersedia pantry. Mulai dari Nasi Goreng, Roti Bakar, omelette, Bubur Kacang Hijau dan tak ketinggalan Bubur Ayam. Saya pikir inilah saatnya untuk menjejal Bubur Ayam yang telah lama membuat saya penasaran. Disinilah kesempatannya karena hidangan disajikan secara Prasmanan. Dengan demikian saya bisa mengkombisasikan sesuai keinginan dan selera.

Awalnya saya mengambil suiran ayam yang banyak dengan sedikit bubur serta sedikit kari. Karena saya memang sangat suka selederi, maka saya taburi potongan kecil-kecil selederi hingga menutupi permukaan bubur yang memang sedikit. Beberapa potongan cakwe dan kerupuk tak lupa saya sisipkan di pinggir mangkok.

Mak tratap, ternyata rasanya luar biasa maknyuss, masih tersisa beberapa sendok lagi saya sudah bersegera melangkahkan kaki untuk mengambil tambuah tentunya dengan porsi dan komposisi yang lengkap. Inilah persentuhan pertama saya dengan Bubur Ayam.

Sepulang Trainning di Bumi Niaga itu, saya mulai akrab dengan dengan Bubur Ayam. Tapi demi menjaga “definisi” rasa Bubur Ayam yang telah terbentuk di kepala saya sangat hati-hati memilih tempat makan Bubur Ayam. Berbeda dengan kuliner lainnya yang saya kenal di Batavia, perlakuan terhadap Bubur Ayam mendapat tempat istimewa. Bukan karena enak dan nikmatnya. Kalau soal rasa mungkin saya lebih suka Soto Betawi namun karena proses penjajakannya yang lama membuat saya hati-hati memperlakukan Bubur Ayam.

Tidak terlalu banyak tempat saya menikmati Bubur Ayam. Yang paling sering Bubur Ayam Kang Dudung di Pojokan Pasar Arinda-Pondok Aren karena ini yang paling dekat dengan tempat tinggal. Kemudian Bubur Ayam Monas yang setiap Minggu pagi berjualan di Depan PLN Bintaro, Bubur Ayam di Bintaro 9 Walk. Hampir semua cocok dengan selera saya kecuali pernah sekali, tempatnya di Pasar Arinda juga dengan tenda berwarna biru. Berhubung Kang Dudung tidak berjualan karena pulang ke Tasik maka saya yang sudah terlanjur ingin sarapan pagi dengan Bubur Ayam memutuskan membelinya. Karena saya sudah berjanji dan mengajarkan kepada anak untuk tidak menyebut makanan “tidak enak”, sebagai penghargaan terhadap juru masak, maka saya menyebut Bubur Ayam tenda Biru itu kurang cocok dengan selera saya.

Setelah setahun di Padang, saya belum pernah menikmati Bubur Ayam. Bukan karena tidak ada Bubur Ayam di sini, namun karena perlakuan istimewa terhadap Bubur Ayam. Dan tidak ada pula yang memberikan refrensi Bubur Ayam yang enak.

Adalah minggu pagi kemarin. Pukul 06.30 pagi saya berangkat ke Stasiun Simpang Haru untuk memesan tiket Kereta Api wisata jurusan Pariaman. Berhubung Loket belum melayani penjualan tiket untuk keberangkat pukuk 09.00 maka saya dengan anak keliling-keliling areal Simpang Haru untuk mencari tempat Sarapan pagi. Tepat di Bundaran Tugu sekelebat saya melihat tulisan Bubur Ayam di antara jejeran Bufet pada salah satu pojok tugu itu. Saya lansung belok kiri dan parkir dengan rapi.

Masuk warung Bubur Ayam dengan rasa khawatir karena tak ingin merusak ‘rasa’ Bubur Ayam yang ada di kepala saya. Setelah menghempaskan pantat pada kursi plastik saya pesan dua porsi, satu untuk saya dengan komposisi komplit tentu saja satu lagi untuk anak tanpa selederi. Nyaris saya mengucapkan “makyuzzz ruarr biasa”, tapi tak ingin menjadi perhatian banyak orang saya hanya berbisik pelan kepada anak, “enak banget nak, lebih enak dari Bubur Ayam Kang Dudung”, sambil mengunyah sate ampela. “Iya, yah, biasa saya tak pernah habis satu porsi, kali ini yang tersisa kacangnya saja”, balasnya lalu meraih teh botol.

Sebenarnya pagi itu saya ingin nambah satu porsi lagi, tapi karena saya mengajarkan kepada anak untuk tidak berlebihan dalam makan walaupun itu makanan kesukaan. Maka saya batalkan. Sebagai gantinya saya pesan dua porsi untuk dibawa pulang, yang satu untuk Kak Meutia yang memang doyan Bubur Ayam, yang satu lagi entah siapa? , sambil berharap alih-alih mubazir dibuang maka saya dengan senang hati dan berlapang dada bersedia menyelesaikan yang satu porsinya lagi. Tapi malangnya strategi ini gagal. Ternyata satu porsi yang sediakala saya selesaikan di rumah, selesaikan oleh kerja sama Bunda dan Wawa. Sambil menjulurkan kepala kepada mangkok yang sudah kosong saya berjanji besok minggu akan makan Bubur Ayam itu lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close