KEKALAHAN DAN LATIHAN

Biasanya, saya hanya mengantarkan saja ke sekolah, sedangkan pulang dijemput bundanya. Namun kemarin karena bundanya tak bisa jemput ke sekolah, maka saya yang menjemputnya pulang sekolah.

Hari Sabtu memang pelajaran lebih sedikit dan pulang lebih awal. Jam pelajaran berakhir pada pukul 11.00 namun biasanya pukul 10.00 murid sudah boleh pulang jika sudah dijemput orang tua atau bermain bebas di pelataran sekolah sampai di sekolahnya pukul 11.00. Sekolah sudah sepi, sebagian teman-temannya sudah pulang. Dia dan beberapa teman sekelas yang belum dijemput orang tua sedang asik bermain sepakbola halaman saat matahari sedang terik.

Setelah parkir saya mendekat ke lapangan. Posisinya membelakang arah kedatangan saya, sehingga tidak melihat kedatangan Bapaknya. Mereka terus bermain bola, tak terlihat capek dan kepanasan. Sengaja saya tidak segera memanggilnya untuk pulang karena tak tega menghentikan kebahagian mereka dengan bermain di siang yang terik itu.

Kira-kira sepuluh menit saya berdiri di belakang gawang, tanpa sepengetahuannya, hingga bola bergulir ke arah saya. Saya mengangkat kaki untuk menginjak bola, dia berlari mengambil bola yang sedang saya injak. Beberapa saat sebelum merebut bola dari kaki saya dia kaget. “Uhh ayah ni”, katanya sambil merebut bola. “Bagaimana sudah puas main bolanya?”, tanya saya. “Saya tanya teman-teman dulu ya?”, balasnya sambil berlari ke arah teman-teman. Mereka sepakat untuk mengakhiri permainan bola.

Dalam perjalanan pulang, ia bercerita bahwa ; mereka kalah melawan kelas II-B dengan skor 2-1. Ia menyesal dan kecewa karena penyebab kekalahan karena kesalahannya akibat Hand’s ball di kotak pinalti. Sebenarnya kejadian itu tidak harus pinalti karena ia merasa tangannya rapat ke tubuh saat menghalagi sebuah tendangan di depan gawang. “Anak II-B curang yah, mereka bilang pinalti”, “tak apalah, terima saja. Setiap hal, peristiwa hampir selalu tidak pernah satu sudut pandang, kamu dan teman-temanmu bilang tidak hand’s tapi lawanmu bilang iya, itu hal hal yang wajar dan biasa. Apalagi kalian bermain tanpa wasit”.

Ternyata akibat kekalahan itu, selesai bertanding lawan kelas II-B, mereka latihan lagi sampai saya datang, sebagai persiapan tanding ulang senin depan. “Nah, itu cerdas namanya, kalian latihan lebih keras lagi, main lebih kompak lagi, sehingga bisa mencetak gol lebih banyak, dengan demikian kalau gol kalian bisa 5 atau 8 meskipun mereka curang dengan memaksakan pinalti bahkan dua kali pinalti pun, hasil akhir kalian tetap menang”, ujar saya menyemangati.

Kategori My Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close