Lupa

Setelah menginjak usia empat puluh, kemampuan saya dalam hal ingatan semakin berkurang. Saya sering menghabiskan waktu untuk menemukan kacamata yang saya lupa dimana meletakannya. Tapi syukurlah sekarang tidak lagi, karena kacamata benar-benar sudah hilang dan saya belum beli lagi gantinya.

Seretan hal parah dan konyol yang saya lakukan dalam hal ingatan : belanja di minimarket, uang kembaliannya yang saya ambil, belanjaan saya tinggal. Dan sebaliknya. Atau membawa nota dan uang kembalian, uang kembaliannya yang saya buang ke tempat sampah, notanya yang saya kantongi.

Yang paling sering adalah membuang sendok ke Tong Sampah. Ini kejadian berulang-ulang, akibatnya saya telah banyak kehilangan sendok. Kronologinya selalu sama. Membeli makanan bungkus, seperti Mie Aceh, sate, nasi goreng dan lainnya. Selesai makan sendok ikut terbuang bersama bungkus makanan ke Tong Sampah. Hal itu membuat saya cukup akrab dengan ritual mengorek tempat sampah.

Beberapa hari yang lalu saya membeli makanan untuk anak. Dia tidak sanggup menghabiskan, dan kali ini di luar kebiasaan–saya pun sedang tidak berminat ‘menyelesaikan’. Makanan sisa dan bungkusnya saya buang ke Tong Sampah. Kesokannya tempat sampah berantakan, sebagian isinya berserakan di luar akibat dikorek oleh kucing. Saya menemukan sendok kecil ini diantara sampah yang berserakan. Dalam hati saya berterima kasih kepada Kucing yang tempo hari telah membuat saya kesal, [baca di sini. Teror Kucing ] Karena keberadaannyalah sendok ini tidak jadi hilang. Saya semakin sadar bahwa tidak ada hal yang hadir dalam hidup kita ini yang tidak mendatangkan mamfaat sama sekali. Kucing itu telah merepotkan saya karena kotorannya. Namun kali ini walaupun sangat kecil ia telah penyelamat sendok saya.

Kemarin pagi seperti biasa setelah mandi saya masuk ke dapur untuk segelas teh. Setelah teh saya seduh dengan air panas, lalu saya memutar badan untuk mengambil sedikit gula. Beberapa saat saya berdiri bengong tanpa melakukan sesuatu hanya jari telunjuk menyentil-nyentil meja berulang-ulang, sedangkan di hadapan saya ada toples berisi gula. “Mau ngapain pak?”, ujar isteri saya. “Oh, ya lupa, tadi niat mau mengambil gula, baru ingat”, balas saya sambil memutar tutup toples.

Zaman sekolah dulu , saya paling tidak suka pelajaran Biologi, karena bagi saya saat itu, Biologi tak lebih dari hafalan belaka tanpa pemahaman. Sudah hafalan Bahasa Latin pula. Sehingga angka 6 setia menghiasi raport saya setiap semester. Mungkin rententan kejadian yang berhubungan dengan ingatan di atas efek dari tidak suka pelajaran hafalan. Tapi tidak juga sepertinya, saya juga suka pelajaran hafalan lainnya seperti Sejarah dan Geografi.

Lupa memang merepotkan, tapi coba bayangkan jika syaraf kita tidak dilengkapi dengan sistim yang memungkinkan kita mampu melupakan sesuatu. Betapa banyak penggalan kehidupan yang tidak ingin kita kenang.

****

Al Albana, Andalas, 01 Jumadil 1438

Kategori Esai

3 tanggapan untuk “Lupa

  1. Keren Da,..nulis di blog aku dongggggg

    Suka

    1. Ok, next time, tapi di luar topik pendidikan boleh?

      Suka

    2. Boleh topik selain pendidikan?

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close