Resensi Tasawuf Modern

Judul : Tasawuf Modern

Penulis : Prof.Dr. Hamka

Penerbit : Republika

Jumlah Halaman : XX + 377

ISBN : 9786-602-8997-98-0

****

Tasawuf Modern adalah salah satu karya Hamka yang memuat kehidupan rohani manusia dilihat dari sisi Tasawuf. Buku ini membahas tentang kebahagiaan manusia dan pengaruhnya dalam kehidupan baik bagi keseDhatan fisik maupun pada kesehatan rohani.

Hamka banyak mendefenisikan kebahagiaan dalam bukunya ini dengan pendapat para ahli, filsuf dan sufi. Namun pada akhirnya Hamka berpendapat bahwa segala sesuatu di dalam alam ini baik dan buruknya bukanlah pada zat suatu itu, tetapi pada penghargaan kehendak kita atasnya, menurut tinggi rendahnya akal kita. Apa gunanya pena emas bagi orang yang tidak pandai menulis, apalah harganya Al-Qur’an bagi seorang atheis atau apalah arti berlian bagi orang gila. Sebab itulah kita manusia disuruh membersihkan akal budi, supaya dengan itu kita mencapai bahagia yang sejati.

Selanjutnya Hamka juga menjelaskan ketidakefektifan akal tanpa adanya Iradah (kemauan) dalam mencapai kebahagiaan, Apakah guna akal yang hebat dan tinggi tapi tidak memiliki kemauan untuk bisa mencapai kebahagiaan, seperti pernyataannya, “bertambah besar iradah, bertambah dekat bahagia bertambah lembik iradah, bertambah jauh bahagia”.

Kemudian Hamka juga melanjutkan dengan “dari apakah tersusun anasir bahagia”, disini Hamka lebih menitik beratkan kepada apa yang diberikan oleh Imam al-Ghazali; (1) Bahagia akhirat, (2) Keutamaan akal budi, (3) keutamaan yang ada pada tubuh, (4) Keutamaan dari luar badan, (5) Keutamaan yang datang lantaran taufik dan bimbingan Allah.

Lalu pada tulisan selanjutnya Hamka mulai menjelaskan akan urgensi agama dalam kehidupan dan memang sangat tidak bisa kebahagiaan itu dicapai tanpa agama. Dikarenakan agama dapat menimbulkan 3 sifat yang selalu menjaga dan mengarah kepada kebaikan bagi seseorang itu dalam kehidupannya, yaitu; (1) Malu, (2) Amanat (boleh dipercaya), (3) Shiddiq atau benar.

Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan Hamka tentang keutamaan otak dan keutamaan budi. Yang mana kebahagiaan otak dapat membedakan antara jalan mulia dengan jalan hina. Dan adapun keutamaan budi ialah menghilangkan segala perangai-perangai yang buruk , adat istiadat yang rendah, yang oleh agama telah dijelaskan mana yang mesti dibuang dan mana yang mesti dipakai. Bahawasanya yang dapat mengalahkan manusia dalam mencapai keutamaannya sebagi manusia adalah nafsu dan juga letak keikhlasan manusia ketika berbuat, apakah dia ikhlas terhadap semua aspek perbuatannya ataukah tidak.

Hamka menjelaskan tentang anasir yang keempat tentang kesehatan jiwa dan kesehatan badan yang mana musti seimbang diantara keduanya. Kemudian Hamka juga menyebutkan nasehat untuk memelihara kesehatan jiwa dan badan serta bagaimana juga untuk mengobati jiwa yang lemah yang terkena penyakit-penyakitnya.

Di anasir kelima Hamka menjelaskan tentang urgensitas kekayaan serta pengarahan dalam mendapatkannya dan juga pilihan prioritas dalam pemenuhan kebutuhan dengan kekayaan itu sendiri.

Selanjutnya Hamka terus menambahkan dari selain anasir-anasir diatas, yaitu qana’ah. Qana’ah yaitu menerima dengan rela apa yang ada, memohonkan kepada tuhan tambahan yang pantas dan berusaha, menerima dengan sabar akan ketentuan Tuhan. Tawakkal kepada Tuhan dan tidak tertarik oleh tipu daya dunia. Qana’ah inilah yang mana menjadi sebab kebahagiaan bagi umat terdahulu, dengannya tidak terjadi perbedaan sosial; kaya sangat, kaya, miskin dan betul-betul miskin.

Terakhir Hamka melengkapi syarat-syarat yang mesti dipenuhi yaitu dengan tawakkal, yaitu menyerahkan keputusan segala perkara, ikhtiar dan usaha kepada Tuhan semesta alam. Kemudian dilanjutkan dengan penceritaan bagaimana kebahagiaan yang dirasakan oleh Rasulullah. Dan juga tentang bagaimana penggunaan akal dalam menanggapi penciptaan alam, yang mana keindahannya seharusnya menjadi tanda-tanda bagi manusia untuk selalu bersyukur kepada-Nya.

Setelah puas berbicara tentang bagaiman itu bahagia dan apa yang dibutuhkan untuk mencapainya, Hamka tidak lupa meberikan kontraversi dari bahagia itu sendiri, dan Hamka merangkumnya dalam 3 perkara: (1) Pendapat akal yang salah, (2) Rasa benci (3) Mengundurkan diri.

Dan pada akhirnya, ditutuplah karya ini dengan bermunajat kepada Ilahi.

Kesimpulannya adalah Hamka mencoba mengubah paradigma kita tentang tasauf. Tasauf yang biasa diindentikkan dengan berpakaian yang lusuh, pasrah, mengasingkan diri, tidak beristri, bahkan sampai mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah, menyumpahi harta, tidak mencari rezki, membelakangi permasalahan duniawi, benci akan kedudukan, sehingga ketika musuh Islam datang tidak ada lagi senjata untuk menangkis kedatangan mereka seperti yang kita saksikan di kota Baghdad, Irak saat ditaklukan bangsa Mongol yang dipimpin Hulugu Khan.

Islam tidak seperti itu, zuhud yang seperti itu bukanlah bawaan Islam. Semangat Islam adalah semangat berjuang, berkorban, bekerja, bukan semangat malas-malasan, lemah dan pasrah. Islam adalah agama yang menyeru ummatnya mencari rezeki dan mengambil kemuliaan, ketinggian dan keagungan.

Buku ini menggambarkan bahwa kehidupan dunia juga penting untuk mencapai ma’rifatullah. Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa untuk bahagia kita harus punya harta benda, punya kelebihan tubuh, banyak family, punya keturunan yang baik-baik dan taufik. Sekilas terlihat duniawi sekali tapi apa kita bisa bersedekah tanpa adanya harta, apa mungkin kata-kata kita didengar orang kalau kita tidak terpandang dan banyak lagi kemungkinan-kemungkinan lain.

Jadi tasauf lebih kepada membersihkan jiwa, mendidik, dan mempertinggi derajat budi, menekan segala kelobaan dan kerakusan dan yang paling terbesar adalah memerangi syahwat demi ketenangan jiwa.

Hamka mendefenisikan tasawuf dengan malihat asal-usul kata sufi itu sendiri dan melihat kehidupan kenapa para sufi muncul pada saat itu (pendekatan sejarah), kemudian melihat praktek sufi itu sendiri pada masyarakat (pendekatan antropologi), kemudian melihat gejala sosial yang timbul dengan adanya tasauf ini (pendekatan sosiologis), kemudian melihat kebudayaan yang berkembang saat ini dan pada masa dahulu (kebudayaan), dan barulah Hamka mencari dan menyimpulkan hakikat tasawuf tersebut (pendekatan filosofis). Hamka juga memberikan pengertin dengan analogi yang sangat dekat sekali dengn kehidupan sehari-hari. Sehingga karangannya inipun mudah dimengerti. Di ujung pena Buya Tasawuf yang berat menjadi seringan bulu angsa yang melayang di trotoat saat tersapu angin.

Kelebihan Buku

Dalam buku ini Buya banyak memberi contoh dan hikmah. Buya tidak langsung menghakimi seorang sufi itu seperti apa, tapi lebih pada membeberkan kepada pembaca seperti apa pendapat filsuf dan ulama Islam tentng sufi itu sendiri kemudian secara perlahan-lahan Buya membuka logika kita dan mulai merujuk kepada satu pendapat. Sehingga pembaca tidak terkesan dihakimi atau didakwahi. Jadi wajar buku ini masih diterbitkan berulang-ulang sejak 1948 hingga kini dikarenakan mamfaat yang didapatkan dari buku ini.

Ditambah judul Tasauf Modern yang membuat para pembaca terpancing untuk mengetahui bagaimana bentuk Tasawuf ala modern. Tasawuf yang dahulunya hanya dihubungkan dengan suluknya orang-orang terdahulu dan menjauhi kehidupan dunia, sehingga menjdi pertanyaan apakah ada konsep Tasauf Modern itu pada saat ini? Sehingga kita bisa, buku ini terus dicetak berulang-ulang tidak hanya dalam edisi bahasa Indonesia dan juga dalam edisi Bahasa Malaysia. Disini terbukti akan eksistensi dan implementasi buku Tasauf modern di tengah kehidupan ini.

Sejatinya Tasawuf Modern ini, mengembalikan definisi Tasawuf kepada arti yang sesungguhnya (sesuai dengan konsep zuhud dalam Islam). Sehingga makna Tasawuf yang sudah bergeser kembali kepada aselinya. Dengan begitu Tasawuf bukanlah sesuatu yang mesti dipertentangkan oleh umat Islam.

KEKURANGAN BUKU

Buku ini dari segi isi tidak ada kurangnya. Kalimat demi kalimat. Paragraf demi paragraf . Setiap membalik halaman adalah asupan penuh gizi yang dapat menyehatkan spritualitas dalam menuju kebahagian.

Mungkin akan ada sedikit kesulitan bagi yang tidak mengerti Bahasa Minang dan Melayu Klasik, karena buku ini ditulis saat Bahasa Indonesia belum seperti saat ini. Buku ini adalah kumpulan tulisan Buya pada Koran Pedoman Masyarakat kurun waktu 1937-1938. Pada tahun 1939 baru diterbitkan dalam bentuk buku. Banyak terdapat Kosakata Bahasa Minang dan Melayu Klasik yang sudah usang jarang didengar saat ini. Bahkan saya yang orang Minang sekali pun agak susah memahaminya. Ketika menemukan kosakata itu, ingatan saya melayang ke masa kecil saat kosakata itu masih sering terdengar.

Berikut Kosakata usang yang ada dalam Tasawuf Modern; cingkahak, loba, kupan dasun, rama-rama, abuk, upas, tukang kabar dan lainnya.

Sepertinya editor tidak ingin menganti kosakata itu dengan padanan kata yang mendekati sama artinya dalam Bahasa Indonesia saat ini. Sebenarnya tak mengapa asal ada catatan kaki yang menjelaskan arti kosakata sulit itu. Tapi ini tidak ada.

Jika dunia medis berkembang terus dengan kemajuan teknologi yang berguna untuk kesehatan jasmani, maka buku Tasawuf Modern adalah ‘resepdari ujung pena Buya Hamka untuk kesehatan rohani.

Baca juga tulisan tentang Ketauladanan Buya

***

Al Albana-Pengagum Ulama Yang Sudah Tiada-,

Andalas, Jumadil Tsani 1439

Kategori Buku

2 tanggapan untuk “Resensi Tasawuf Modern

  1. arifiastuti kn 16 Mei 2020 — 2:15 pm

    izin sebagai referensi tugas ya min 🙏

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close