Anies, Jokowi Dan Hikayat Rasul Ke-26*

Saya mengagumi Anies sejak jauh hari, jauh sebelum ia menjadi calon Gubernur Jakarta, bahkan jauh sebelum jadi Menteri Pendidikan Nasional. Ketika mantan Rektor Universitas Paramadina ini menggagas Gerakan Indonesia Mengajar pada 2009. Sebuah lembaga nirlaba yang merekrut, melatih dan mengirim generasi muda terbaik ke pelbagai daerah Indonesia untuk mengabdi sebagai Pengajar Muda di Sekolah Dasar (SD) pada selama setahun.

Bersamaan dengan itu, mantan ketua Osis SMU 2 Yogjakarta dan Ketua Senat UGM ini tergabung dengan Tim Sembilan yang dipercayakan Presiden SBY untuk menyelesaikan kasus Cicak Vs Buaya yang melibagkan KPK bersengketa dengan Polri, sehingga wajahnya sering berlalu lalang di Media Masa untuk menjelaskan progres kasus ini.

Saya terkesima menyaksikan Publik Speakingnya; tutur kata yang jelas, kalimat-kalimat yang terukur, pemilihan diksi yang tepat, ekpresi wajah yang bersahabat, eye contack yang hangat, gestur tubuh yang tidak berlebihan serta emosi yang terkontrol, sulit untuk memancing emosinya, itu yang menjadikan dia berbeda dan istimewa dari cendekiawan lain. Dalam hal ini bagi saya Anies juaranya. Di belakangnya ada Anis Mata, Eep Syaifullah, Anas Urbaningrum, Ganjar Pranowo dan lainnya.

Suatu petang saya pernah menonton Program Acara ‘Satu Jam Lebih Dekat’ yang dipandu oleh Indy Rahmawati di TV One. Anies menjadi Bintang Tamu. Indy mengorek masalalu Anies melalui ibu Anies yang hadir dipertengahan acara sebagai Suprise. Menurut ibunya Aneis nakal luar biasa waktu SMP. Tukang berantam. Dan pernah sekali, ibunya kebetulan lewat saat Anies  sedang dikeroyok oleh beberapa orang temannya. Sang ibu membiarkan saja dan terus berlalu. Alasananya ketika ditanya Indi agar Anies bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Setiap kali menyaksikan Anies menjawab pertanyaan Indi, saya membatin, “yuang, semoga kelak kamu dianugerahi kemampuan bicara seperti Anies” kepada anak yang tengah saya pangku kala itu.

Ketika Anies menjadi tim sukses Jokowi pada Pilpres lalu, saya sedikit kecewa dengan langkah yang dipilihnya itu. Apalagi ketika Anies diusung menjadi Calon Gubernur Batavia. Saya ingin Anies seperti yang saya kagumi; berada diluar sistem tapi memberikan banyak konstribusi untuk bangsa ini. Ya, seperti masa SBY;  Anies ikut andil dalam menyesaikan polemik Cicak Vs Buaya.

Sekarang Anies memimpin Batavia, sebagai pengagum yang berusaha agar tidak menjadi pemuja, tentu saya tidak ingin Anies mendapat hujatan dan kecaman dari lawan politiknya. Maka dari itu langkah sederhana (versi saya) janganlah terlalu mengagung-agungkan, memujanya  secara berlebihan, menjadi pemuja membabibuta, menyerang siapa saja yang menkritik Anies.

Memuja Anies secara berlebihan justeru bumerang yang akan digunakan pihak lawan untuk menyerang balik Anies. Misalnya Batavia tanpa banjir dan macet. Bukan Anies tidak punya itikad baik dan juga sudah berusaha. Tapi ini masalah yang komplit dan banyak hal saling berkaitan. Menurut catatan sejaran Batavia sudah banjir sejak era Gubernur Jenderal Jean Pieter Coen dengan penduduk sebanyak warga Kelurahan Karet saat ini. Bandingkan dengan warga Batavia saat ini 10,18 juta jiwa dengan jumlah gedung dan rumah semakin meningkat,tentu saja areal resapan air saat hujan turun juga semakin berkurang. Banjir dan macet akan terus terjadi, terlepas siapapun pemimpinya. Mungkin hanya sedikit saja bisa dikurangi dampaknya dengan relokasisasi.

Kalau soal kompetensi, saya yakin Anies orang yang tepat untuk Batavia. Cucu mendiang Pejuang Kemerdekaan–A.R. Baswedan ini, menempuh pendidikan S-1 di UGM Fakultas Ekonomi, Master di bidang Kebijakan Ekonomi di University of Meryland serta Doktoral dengan disiplin ilmu Ekonomi Politik dari Nortern Illinois University. Bekal pendidikan dan kamampuan manajerial serta elektabilitas Anies yang dapat diterima oleh berbagai kelompok, saya rasa cukup untuk mendandani ibu kota, meski tak akan pernah sempurna seindah imajinasi kita.

Bagi saya mengagumi Anies cukuplah dengan tidak memujanya berlebihan karena akan membebaninya dan dapat pula menjadi bumerang yang yang mencelakainya.

Anies tak perlu dibela apalagi dengan membabibuta. Bukankah semasa SLTP saat dikeroyok teman sekolah, ibunya tidak melerai. Sang ibu sangat yakin akan kemampuan Anies menyelesaikan masalah. Begitulah cara saya menagumi Anies meniru cara ibunya. Anies bukan sosok yang lemah yang mesti dibela dan dilindungi. Anies kuat. Anies mampu menyelesaikannya.

Berbeda dengan Anies, dari semula saya memang tidak tertarik membicarakan Jokowi karena saya memang tak pernah mengaguminya. Jika untuk mengagumi memerlukan alasan berbeda dengan sebaliknya–untuk tidak simpatik tak perlu alasan. Namun saya tidak membencinya.

Baik ketika memimpin Kota Solo dengan aneka prestasi yang didengungkan pemujanya ; menolak pendirian Mall di wilayah ototitasnya, proyek Mobil Esemka, Penggusuran tanpa kekerasan. Hingga menjadi Gubernur Batavia ; blusukan, kesederhanaan, kemeja putih yang digulung. Bahkan hingga menjadi Presiden saat ini dengan seabrek proyek infrastruktur yang dibesar-besarkan pemujanya. Walaupun demikian saya juga berusaha menahan lisan dan tulisan untuk tidak mencelanya apalagi menghujatnya terutama dari hal-hal yang terberi yang kita tidak dapat memilih ; seperti bentuk fisik, orangtua(keturunan)

Ada kebijakan yang saya setuju dengannya seperti Dana Desa, banyak pula yang tidak saya sepakat dengan kebijakannya seperti; penarikan subsidi, target objek pajak yang tidak masuk akal, dan banyak lainnya. Tapi dari banyak hal yang saya tidak sukai dari Jokowi semua itu tak seberapa dibanding ketidaksukaan kepada kelompok-kelompok Pemuja Radikal, Pengagum Garis Keras dan Pendukung Fundamental serta Simpatisan Militan yang telah menjadikan Jokowi Rasul ke-26.

Bagi saya dari kecil sejak belajar mengaji sudah diajarkan menghafal rukun iman yang ke-6–beriman kepada Qada dan Qadar–tentu tidak kesulitan menerima takdir bahwa ; Anies adalah Gubernur Batavia dan Jokowi Presiden Indonesia.

Bukankah seperti yang sering dibagikan warganet bahwa berislam bukan seperti jamuan prasmanan ; ambil yang disuka dan tinggalkan yang tidak disukai. Bagi saya bukan berislam saja yang kaffah dalam menerima rukun islam ke-6 mestinya juga begitu.

Baca ju tulisan lain tentang Anies di sini ; Anies Baswedan dan Anies Baswedan

****

Al Albana-Bukan Pemuja Berdarah-, Andalas, 08 Jumadill Akhir 143

Kategori Tokoh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close