Berita Palsu Dari Masa Ke Masa

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. QS Al Hujarat Ayat 6.

Ayat ini yang disampaikan pada pembukaan khotbah sholat jum’at tadi siang. Kemudian dilanjutkan pemaparan dari ayat ini.

Bahwa hoaks memang istilah baru dalam dunia belakangan ini terutama dunia maya. Tapi sesungguhnya hoaks bukanlah hal baru, ia sudah lama ada yaitu berita palsu. Sudah melanda umat sejak jauh hari bahkan sejak Rasulullah masih hidup.

Fitnah Terhadap Aisyah

Pertama kali hoaks terjadi dalam kalangan ummat Islam adalah berita palsu (hoaks) yang menuduh ummul mukminin berselingkuh. Peristiwan ini terjadi pada bulan sya’ban tahun 5 H. Ketika berakhir perperagan antara kaum muslimin dengan Bani Musthakiq. Aisyah turut serta dalam rombongan ini.

Dalam perjalanan pulang kembali ke Madinah, rombongan kaum muslimin berhenti sejenak sebelum masuk kota Madinah. Saat rombongan akan melanjutkan perjalanan, Aisyah menyadari bahwa kalungnya sudah hilang. Ia segera berlari ke tenda untuk mencari kalungnya tanpa memberi tahu pembawa tandu. Rombongan berangkat dan para pembawa tandu juga tidak sadar jika Aisyah sudah tidak ada dalam tandu. Mereka membawa tandu kosong dan Aisyah tertinggal.

Setelah sekian lama mencari kalungnya namun tidak ditemukan Aisyah kembali ke tenda. Didapati rombongan dan tandunya sudah berangkat. Ia pasrah dan berharap mereka para pembawa tandu berbalik lagi untuk menjeputnya atau ada rombongan kaum muslimin lainnya yang akan melewatinya.

Capek dan lelah menunggu, akhirnya Aisyah ketiduran. Ternyata benar masih ada rombongan kaum muslimin yang paling belakang yaitu Shafwan bin Mu’athal Assulami yang bertugas sebagai anggota pasukan yang paling belakang. Melihat ada anggota yang tertinggal Shafwan menjenguk. Namun setelah mengetahui yang tertinggal adalah ummul mukminin, ia lansung berucap “innalillahi wa inna illaihi ro’ jiun”. Lalu ia memberikan tunggangan Untanya untuk Aisyah dan ia sendiri berjalan menuntun Unta.Akhirnya mereka berhasil menyusul rombongan.

Melihat Aisyah datang bersama Shafwan, kelompik munafik yang ikut dalam rombongan ini digembongi oleh Abdullah bin Ubay bin Salul menyebarkan hoaks (berita palsu) bahwa Aisyah berselingkuh dengan Shafwan. Hoaks itu menyebar dengan cepat (viral) hingga seluruh kota Madinah. Sehingga menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum muslimin. Aisyah jatuh sakit akibat hoaks ini. Rasullulah mununjukan perubahan sikap terhadap Aisyah. Dan dari sini pulalah timbul bibit perselisihan antara Ali bin Abi Thalib dengan Aisyah dan ditambahi hoaks-hoaks selanjutnya berujung pada Perang Jamal tahun 36 H.

Beruntung kala itu Rasulullah masih hidup sehingga wahyu masih turun. Desas-desus(hoaks) ini reda setelah Allah menurunkan Surat An Nur Ayat 11-26 yang membersihkan dan membebaskan Aisyah dari tuduhan selingkuh.

Fitnah Terhadap Ustman

Selanjutnya Hoaks melanda ketika kaum muslimin dipimpin oleh Khalifah Ustman bin Affan. Dahsatnya gelombang hoaks yang disebarkan oleh Abdullah bin Saba dan kelompoknya seantero wilayah kaum muslimin berujung pada terbunuhnya Khalifah oleh tangan kaum muslimin sendiri. Setelah rumahnya dikepung selama 40 hari dan akses air bersih diputus oleh pemberontak. Dari hura-hura inilah awal terbentuknya sekte Khawarij dan terpecahnya kaum muslimin hingga hari ini.

Pasca terbunuhnya Utsman gelombang hoaks (berita palsu) semakin menjadi. Sejarah mencatat rentetan peristiwa berdarah akibat fitnah yaitu Perang Jamal, Perang Shiffn hingga terbunuhnya Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalin ditangan Ibnu Muljam-seorang khawarij yang hafal Al Qur’an.

Fitnah Terhadap Ustman

Berita palsu semakin liar pasca terbunuhnya Ustman. Ali sebagai penerus Khalifah berhadapan dengan Mu’awiyah-sepupu Ustman-yang menuntut darah (keadilan) atas terbunuhnya Ustman. Ali tidak sanggup melakukan qishas karena tidak jelas siapa pembunuh Ustman. Karena jumlah masa (pemberontak) sangat banyak memasuki rumah pada Ustman terbunuh. Tidak dapat dipastikan tangan siapa yang mengayunkan pedang ke tubuh Ustman.

Pertikaian ini akibat perbedaan sudut pandang dan dibumbui berita palsu (hoaks) berujung pada pecahnya Perang Shiffin. Perang antara Kelompok Ali berhadapan dengan Kelompok Mu’awiyah. Perang berlansung sangat dramatis karena kedua kelompok sesungguhnya jauh dilubuk hati terdalam tidak menginginkan perang tangan-tangan jahat dengan berbekal berita palsu (hoaks) yang menggerakan mereka.

Pemimpinya (Ali dan Mu’awiyah) adalah dua sahabat yang mendapat pendidikan lansung dari Rasulullah, bahkan sebagian besar prajurit yang tengah berperang juga pernah bertemu dan mendapatkan pendidikan dari Rasulullah. Dan mereka sadar betul ancaman besar dari luar yaitu ancaman dari Imperium Romawi yang menyerang mereka setiap saat. Maka dari itu mereka akhirnya memutuskan untuk berunding mencari jalan tengah dalam menyelesaikan pertikaian.

Peristiwa ini dikenal dengan nama tahkim. Yaitu perjanjian damai kedua belah pihak untuk mengakhiri perang. Kelompok khawarij yang semula berada pada barisan Ali tidak terima dengan cara yang ditempuh dan menuduh Ali telah meninggalkan hukum Islam karena berunding dengan Mu’awiyah yang mereka anggap pemberontak.

Kelompok Khawarij yang pembangkang atas keputusan ini dikeluarkan oleh Ali. Bahkan sebagian yang tidak patuh(Insyaf) diperangi oleh Ali. Mereka (Khawarij) menjadi gerombolan liar yang mengkafirkan semua kelompok yang tidak sepahan dengannya.

Pada tahun 40 H, Khawarij merencanakan pembuhan terhadap 3 tokoh yang mereka anggap sudah keluar dari Islam yaitu ; Ali, Mu’awiyah dan Amr bin Ash-juru runding Mu’awiyah pada peristiwa tahkim. Ibnu Muljam bertugas membunuh Ali di Kufah, Al Bakr at Tamimi yang akan menghabisi Mu’awiyah di Syam, sedangkan Amr bin Bakr at Tamimi mendapat tugas mengeksekusi Amr bin Ash di Mesir.

Pemufakatan jahat itu akan dilaksanakan pada 17 Ramadhan 40 H, saat berangkat subuh Ibnu Muljam berhasil menikam Ali hingga tewas dengan sebilah belati yang sebelumnya telah dilumuri racun selama seminggu. Al Bakr keluar menuju tempat Mu’awiyah yang sedang mengimami sholat subuh, Al Bakr berhasil melukai namun Mu’awiyah selamat dan lukanya diobati. Sedangkan Amr bin Bakr gagal karena Amr bin Ash tidak sholat subuh di Masjid akibat diare. Kharijah bin Abu Habib menggantikan Amr bin Ash sebagai imam dan Amr bin Bakr menyerangnya. Setelah tahu salah sasaran maka Amr bin Bakr menghentikannya. Dan jamaah pun membunuh Amr bin Bakr begitu pula Al Bakr yang gagal membunuh Mu’awiyah di Syam.

Menyimak dari peristiwa masa lalu- rentetan peristiwa ini, tak perlu kaget atau heran jika di sosial media banyak orang-orang yang mendapat pendidikan formal yang cukup, mulai dari sarjana hingga profesor, atau orang yang dianggap paham agamapun termakan hoaks , bahkan berkontribusi menyebarkan hoaks. Bukankah Ibnu Muljan lebih dari itu, bahkan beliau seorang Hafizd Qur’an. Mari kita simak ucapannya sesaat setelah berhasil menikam Ali. Sesaat Ali meninggal orang-orang mendatangi Ibnu Muljam ada yang memotong tangannya, lalu mencongkel matanya. Sedangkan ia tetap tenang tanpa rasa takut sedikitpun. Sampai ada yang hendak memotong lidahnya. Barulah ia bereaksi, lalu ditanya kenapa ia takut, “aku khawatir jika setelah ini aku masih hidup bagaimana aku berzikir” ucapnya.

****

Al Albana, Andalas, 14 Jumadil Akhir 1439

Kategori Historia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close