Perihal Nama

Nama itu Doa, Tapi tergantung Orangnya Juga

Nama adalah do’a maka dari itu, sebagaimana do’a pasti yang baik. Maka dari itu orang tua memberikan nama yang baik sebagai pengharapan terhadap amanah yang telah dipercayakan Allah kepada mereka.

Nama-nama di pilih dari bahasa-bahasa dari bangsa yang sudah tinggi peradabannya seperti; Arab, Eropa, China, Turki, India atau Jepang yang jika diartikan kedalam Bahasa Indonesia mempunyai arti semacam harapan yang baik lagi Indah.

Tapi saya memberimu cukup nama saja, kareka saya tak ingin membebanimu dengan nama yang berat disamping itu saya memberikan kesempatan kepadamu untuk memberi arti kepada namamu sendiri. Kalau perihal harapan, mustahil orang tua tidak punya harapan kepada puteranya termasuk saya. Cukuplah harapan-harapan itu dibungkus dalam do’a tak perlu disematkan pada nama. Itulah saya memberimu nama ; Alwi sebuah nama tanpa makna.

Lagi pula, seperti pada umumnya doa, tentu tidak terwujud begitu saja. Perlu usaha keras di kedua pihak, orangtua maupun anak. Orangtua di teman mengajimu di Rumah Tahfidz yang memberi nama anaknya Ratu Milionare harus bekerja keras untuk mewujudkan keinginan itu. Dan anak yang diberi nama Polisi di Pasuruan tentu harus berusaha sendiri untuk menjadi Polisi.

Jadi tak heran ada orang yang namanya baik, tapi kelakuannya menjengkelkan. Senang memanggil orang lain yang tidak ia sukai dengan sebutan buruk seperti cebong, kampret, Onta, Bani Serbet dan lain-lain. Sebaliknya, ada yang namanya tak berarti apa-apa, tapi ia selalu dinantikan oleh sekelilingnya. Kehadirannya menjadi doa.

Tahun 1958 di New York, Robert Lane yang sudah punya beberapa orang anak, mencoba “bereksperimen” dengan nama. Ketika seorang anaknya lahir di tahun itu, ia beri nama Winner Lane. Tiga tahun kemudian, ia mendapat satu anak laki-laki lagi. Anak bungsu ini ia beri nama Loser Lane. Satu pemenang (winner) dan satu pecundang (loser).

Salah satu dari kedua anak itu yang bernama Winner, di usia 19 tahun, tersangkut kriminalitas untuk pertama kalinya. Ia seterusnya masuk penjara sebanyak 31 kali karena berbagai kasus kriminal dan menjadi narapidana , hingga ia bebas di usia 44 tahun.
Sedangkan anak yang satunya lagi yang bernama Loser masuk sekolah dengan beasiswa, diterima menjadi polisi dengan dan kemudian dipromosikan menjadi detektif di usia 41 tahun. Rekan-rekannya yang risih memanggilnya dengan Loser kemudian mengganti panggilannya dengan Lou.

Tapi meskipun begitu saya tak ingin juga memberimu nama yang buruk. Namamu adalah nama yang terbaik menurut saya.

Kategori My Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close