Resensi Buku Ayahku H. Abdul Karim Amrullah

Dr. H. Abdul Karim Amrullah

(10 Februari 1879-2 Juni 1945)

Menyelami “Ayahku” karya Hamka, seperti diajak meneluri Minangkabau pada awal 1900-an. Perjuangan Haji Rasul alias Inyiak Doktor. dan sahabat-sahabatnya sesama murid Ahmad Khatib Al Minangkabauwy yang dikenal dengan sebutan ulama’ Kaum Mudo’ bergandengan dengan Muhammadiyah berhadapan dengan Ulama ‘Kaum Tuo’ dalam pemurnian ajaran islam di Alam Minangkabau.

Semacam Perang Paderi Jilid II, antara Kaum Paderi vs Kaum Adat, namun bedanya disini antara sesama Kaum Ulama. Kaum Mudo yang Progresif Revolusioner dengan Ulama Kaum Tuo yang Taklid Buta dan Jumud. Kalau perang Paderi mengunakan senjata berupa Pedang, Tombak dan Panah, maka disini peralatan perangnya Pena, Buku, Percetakan dan mimbar untuk berorasi. Jadi debat Intelektual adu ilmu melalui ketajaman pena dalam berbalas buku dan kemahiran lidah dalam berorasi. Menarik!

Meskipun Haji Rasul yang memperkenalkan dan membawa Muhammadiyah ke Minangkabau dan secara garis besar mereka sepaham namun beliau tidak bersedia dicatatkan namanya dalam struktur organisasi Muhammadiyah. Walaupun seiring sejalan dalam memberantas TBC dengan Muhammadiyah dan hampir seluruh Struktur organisasi Muhammadiyah ditempati oleh murid, adik, anak, keponakan beliau, namun tak jarang ia menghantam Muhammadiyah dengan lisan dan tulisannya dengan menerbitkan buku. Akan tetapi beliau juga sering menulis buku untuk membela Muhammadiyah.

Perdebatan alot terjadi ketika tahun 1929, menjelang Muhktamar Muhammadiyah ke-19 di Bukittinggi. Seorang muslimah dari Aisiyah akan tampil di podium dihadapan masa. Awalnya, ijtihad beliau kaum perempuan haram tampir di depan publik. Namun setelah KH. Mas Mansur-ketua PP Muhammadiyah kala itu berhasil ‘mengalahkan’ beliau dengan cara yang halus dan lembut. Padahal menurut Hamka, ayahnya sangat tegas dan susah merubah pendirian. Ia merubah ijtihadnya menjadi makruh. Namun pada akhirnya setelah diizinkan beliu, Muhammadiyah pun mengalah demi menghormati beliu dengan tidak jadi tampil perempuan tadi di podium.

Moment Mukhtamar Muhammadiyah inilah yang disebut Hamka, ayahnya ‘kalah’ karena sejak saat itu namanya boleh digunakan untuk Muhammadiyah. Tapi penanya masih tajam,lidahnya masih berbisa baik untuk menyerang maupun membela Muhammadiyah. Ini menunjukan pribadi beliau yang merdeka dan liar yang tak pernah bisa diikat dan ditaklukan. Merdeka dalam artian hanya terbelanggu pada Al Qur’an dan Sunnah. Karena ke’ liar ‘ annya dalam berijtihad belia dimusuhi oleh ulama ‘Kaum Tuo’. Ketika itu ‘Kaum Tuo’ masih mengharamkan Pantolan (celana panjang) dan dasi. Sehingga jika pakai pantolan diselipkan lagi lipatan sarung diluar seperti pakaian melayu sekarang. Sedangkan menurut beliau pantolan dan dasi bukan tasyabbuh (menyerupai) kafir. Sebagai penguat pendapatnya diganti cara berpakaian yang semula pakai jubah dan surban menjadi jas, dasi dan pantolan plus kacamata hitam.

Hamka sebagaimana ayahnya juga keras kepala dan penantang yang hebat. Hamka mengaku tidak sempat belajar inten dengan Ayahnya. Ia dan Ayahnya yang berkharakter hampir sama selalu bertengkar dan berselisih pendapat. Hamka tidak betah belajar di kelas, sekolah yang didirikan Ayahnya, Thawalib Sumatera. hanya sampai kelas IV, karena sering menonton di Bioskop Hamka ‘ditendang’ Ayahnya untuk belajar pada sahabatnya Ibrahim Musa Parabek. Cuma setahun balik lagi ke Thawalib, kelas VI, belum naik kelas 7. Hamka cabut ke Jawa untuk belajar organisasi pada H.O.S Cokroaminoto. Hingga hidupnya berpindah-pindah terus, sampai ke Makassar, Pekalongan, Medan dan Mekkah.

Setelah melalang buana, berumah tangga dan menjadi Guru Muhammadiyah di Makassar. Pada 1934, Hamka pulang ke Maninjau menemui ayahnya.
Ini dialog antara ayah dan anak yang membuat saya terharu, Hamka mengutarakan niat untuk belajar pada Ayahnya.
“saya mohonkan untuk mengaji kepada Buya, agar bisa mendakwakan diri sebagai murid H. Rasul sebagaimana murid-murid Buya yang lain” ujar Hamka.
Gembira dan terharu beliau mendengar permintaan puteranya itu. Lalu ditanyai ilmu apa yang hendak dipelajari Hamka dari dia.
“Apakah yang pantas pelajari menurut pandangan Buya?”, balas Hamka.
“Ayah perhatikan dalam ilmu Bahasa Arab sudah ada persedianmu, kekurangannya bisa didapat di kamus. Tetapi ada dua ilmu perlu sangat dengan tuntunan guru tidak dapat hanya dengan thala’ah sendiri ushul fiqih dan manthiq”

“Terima kasih, kenapa Buya menganjurkan hamba belajar manthiq?”, lanjut Hamka

“Ayah perhatikan dalam tabligh-tabligh engkau suka berfilsafat dan sejarah. Kepandaianmu dalam sejarah ayah kagumi, meskipun sebenarnya sejarah itu bukanlah ilmu. Maka dengan belajar manthiq yang telah disusun oleh ulama islam disertai ushul fiqih ayah tidak khawatir engkau akan tersesat karena asyik berfilsafat, karena filsafat sangat berbahaya”.

Maka belajarlah Hamka kepada Ayahnya selama setahun, setiap dhuha hingga menjelang zuhur. Ia sering diledek oleh pamanya H. Yusuf Amrullah karena sudah beranak baru belajar pada ayahnya, sedangkan orang-orang datang ke Maninjah dari seluruh Minangkabau agar dapat mengaji pada ayahnya.

Banyak orang mengagumi Hamka karena ketegasan dan keberaniannya dalam menyatakan yang Haq, saya juga begitu. Tapi setelah membaca buku ini tanpa mengecilkan Hamka, ternyata ayahnya, Dr.H. Abdul Karim Amrullah jauh lebih lebih berani dan tegas dalam menegakan yang Haq (Ajaran Islam).

Walaupun Maninjau tidak melakukan pemberontakan seperti daerah lain di Minangkabau saat Belanda memberlakukan Belasting (memungut pajak) pasca dihapuskan Tanam Paksa berkat usaha beliau, dengan berdakwah bahwa kekuatan tidak seimbang untuk melawan kompetei dan kekuatan senjata Belanda dan kita akan kalah juga jika melawan, korban akan berjatuhan. Apalagi setelah beliau menyaksikan mayat bergelimpangan akibat pemberontakan di Kamang terdapat mayat yang mengikatkan ajimat di pinggang untuk menghadapi Belanda. Desas desus yang didengarnya banyak orang mempersiapkan diri dengan menuntut ilmu kebal senjata tajam dan senjata api serta ilmu lainnya yang mengantarkan kepada kesyirikan. Baginya Kesyirikan dan rusaknya tauhid jauh lebih merusak Islam daripada dipada diterapkannya Belasting oleh Belanda. Maka dipergiatlah upayanya mengajak umat ke surau untuk mendalami agama. Dan Tuangku Laras Maninjau dapat penghargaan dari pemerintah Belanda karena Maninjau tidak bergejolak. Sedangkan murid-murid beliau yang revolusioner dan condong ke ‘kiri’ mengolok beliau antek Belanda.

Padahahal sebelum diasingkan ke Sukabumi pada 1941, terhitung sebanyak 13 kali dipanggil menghadap residen dan diancam agar memperlunak dakwahnya. Namun dia tidak bergeming. Ia mengaku tidak berpolitik, apalagi melawan Belanda “Saya tidak paham politik, yang saya sampaikan ajaran Islam”, dalihnya.

Agustus 1941 beliau dilayarkan ke Jawa, turut serta puteranya Abdul Wadud yang belakangan dikenal dengan Willy Amrullah setelah menjadi Pendeta, serta isterinya Dariah. Selama 9 bulan diasingkan di Sukabumi. Pada maret 1942 perang pasifik pecah. Jepang masuk Belanda tersingkir. Dengan begitu sebagai tahanan politik ia bebas dan pindah ke Tanah Abang. Pejabat Jepang mendekatinya–bahkan ada yang mengaku sudah masuk islam dengan tujuan beliau bersedia menjadi alat propaganda untuk melegitimasi kekuasaan Jepang di Indonesia.

Ketika diadakan Mukhtamar Ulama Nusantata di Bandung yang diinisiasi oleh Jepang beliau diundang diberikan tempat duduk di podium paling tinggi. Salah satu protokoler acara yang dinamakan Keirei adalah seluruh hadirin dipersilakan berdiri menghadap Timur Laut lalu menundukan kepala sebagai penghormatan kepada Dewa Matahari dalam kepercayaan Jepang. Semua hadirin termasuk ulama-ulama besar menundukan kepada kecuali beliau padahal disampingnya tentara Jepang dengan Samurai hampir menyentuh lantai. Ia tak bergeming. Orang cemas takut beliau diperlakukan buruk oleh tentara Jepang.

Selanjutnya datang utusan Jepang ke kediaman beliau di Tanah Abang lalu menyerahkan sebuah buku tentang Kepercayaan (agama) orang Jepang. Beliau diminta menanggapi isi buku tersebut.

Maka ditulisnya sebuah buku untuk menanggapi. Setelah selesai draft tulisan dimintanya salah seeorang murid, Aoh Kartahadimaja untuk membaca dan menanggapi. Oah cemas karena tulisan itu, beliau bedah dengan pisau analisis ajaran Islam jelas bertentangan sekali kepercayaan Jepang dengan Islam, lalu meminta beliau untuk memperhalus sedikit agar tidak membahayakan keselamatan beliau.”jika tulisan ini perhalus, itu sesuai dengan buku mereka, maka tak adagunanya tanggapan ini saya tulis” sanggahnya.

Selang beberapa minggu setelah menyerahkan tulisan untuk menanggapi ajaran Jepang datang lagi dua orang untuk menjemput beliau menghadap ke Kantor Urusan Agama. Beliau minta waktu untuk bersalin, menggunakan jubah putih yang biasa digunakan setiap Sholat jum’at. Awalnya terlihat agak gugup dan cemas, setelah naik ke atas mobil terlihat wajahnya agak tenang dan mobil berlalu membawanya.

Orang-orang melepasnya dengan cemas dan pucat serta berprasangka akibat tulisannya menanggapi ajaran Jepang beberapa minggu yang lalu. Ia dijemput jam 10.00 pagi, zuhur menjelang beliau belum pulang. Isteri, keluarga serta murid-muridnya semakin gugup. Menjelang ashar munculah mobil mengantarnya pulang dengan selamat. Bergembira ria dengan suka cita seluruh orang yang menungggunya dirumah. Ternyata Jepang berterima kasih atas tulisannya dengan demikian tentara Jepang tidak paham ajaran Islam sehingga tidak keliru dalam menentukan kebijakan. Sehingga terhindar dari kebijakan yang dapat menyinggung perasaan Umat Islam. Sebagai ucapan terima kasih Jepang memberinya Amplop yang berisikan uang dalam jumlah yang banyak.

Ternyata sudah menjadi kebiasaan ulama-ulama besar terdahulu, setiap dipanggil menghadap penguasa, mereka membawa kain kafan sebagai simbolik siap mati untuk mempertahankan fatwanya dihadapan penguasa. Begitu pulalah kiranya yang dilakukan Haji Rasul setiap dipanggil Residen Agam di Bukittinggi hingga Penguasa Jepang di Jakarta, meskipun tidak membawa kain kafan namun beliau menggunakan jubah dan surban serba putih, padahal pakaian sehari-harinya adalah pantolan, jas dan dasi.

Dua ulama besar, Anak-berayah yang telah meninggalkan jasa besar bagi perkembangan Islam di Sumatera. Minangkabau khususnya.

Tak terbayangkan seperti apa ritual beragama (islam) kita hari ini di Minangkabau seandainya Allah tidak mengirimkan beliau terlahir di Alam Minangkabau. Terlebih efek traumatis pasca kekalahan kaum Paderi, sebagian ulama orang menenggelamkan diri dalam Tasawuf, sebagian besar Naqsabandiyah. Abai terhadap kesholehan sosial.

****

Al Albana, Andalas, 20 Jumadil Akhir 1439

2 tanggapan untuk “Resensi Buku Ayahku H. Abdul Karim Amrullah

  1. Boleh minta list buku terbitan Al Bana , sy tertarik outobiografi tokoh dan buku Tareqat Naqsabandiyah yg ditulis tokoh Minangkabau. tks

    Suka

    1. Maaf, saya bukan penerbit cuma pembaca buku Sejarah Islam dan Minangkabau.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close