Islam, Teori(Nash) dan Reality

Oleh ; Andy Bangkit, PhD

“Kalau mau jadi sholeh jangan belajar Islamologi atau di Barat…kamu cuma akan tahu tentang Islam saja”

Begitu ujaran yang pernah saya dengar dulu. Bisa jadi benar, bisa jadi salah karena tidak sedikit sekarang sarana-sarana pembelajaran Islam yang bagus yang dikelola oleh “Barat”. Saya sendiri salah satu yang “menikmati” belajar di kelas-kelas program al Baseerah di awal-awal lembaga pembelajaran ini bergerak dengan kelas jarak jauhnya.

Yang menarik bagi saya adalah: Bagaimana memahami kalimat itu dalam konteks logis?

Seperti kita ketahui, Islamologi atau studi-studi Islam yang non Diniyah, nyaris semuanya (bisa dikatakan begitu) berangkat dari studi ilmu-ilmu sosial. Baik itu sosiologi, antropologi, hermenetika, politik dan filsafat dsbnya. Masing-masing ilmu sosial ini, dengan segala karakteristiknya, mengambil fokus pengamatan pada manusia. Manusia adalah sentral dari pengamatan dan analisa mereka. Ini tidak lain karena ilmu-ilmu ini dulunya…duluuuuu sekali lahir dari rahim gelombang Renaissance yang melepaskan ilmu pengetahuan dari struktur keagamaan dan “mengembalikan” (kalau menurut mereka) manusia sebagai sentral dalam ilmu pengetahuan tersebut.

Studi diniyah (teologis) sangat bertolak belakang dengan itu. Studi diniyah lebih fokus kepada bagaimana memahami dan merekonstruksi makna teks-teks keagamaan itu sehingga darinya bisa dimunculkan nilai-nilai yang akan menjadi acuan dalam kehidupan manusia.

Dua stream ini, yaitu ilmu sosial dan diniyah, memiliki keunggulannya masing-masing. Ilmu sosial sangat kuat dalam memahami realita manusia dan masyarakat. Ilmu ini menganalisa fenomena masyarakat dan mencari latar belakang munculnya fenomena-fenomena tersebut secara tepat. Sebaliknya, ilmu Diniyah kuat dalam memahami apa yang diinginkan oleh teks-teks agama. Darinya muncul nilai-nilai yang bisa dijadikan pegangan ketika masyarakat bergeser dan bergerak dari satu bentuk ke bentuk lain (kita sisihkan dulu permasalahan konflik interpretasi dalam agama itu sendiri, kita ambil big map nya terlebih dahulu). Hubungan keduanya, mungkin mudah bila kita umpamakan sebagai TEORI dan DATA RIIL.

TEORI dalam dunia akademis adalah sistem yang telah teruji akan mampu berjalan di berbagai macam kondisi yang ditentukan. Sedangkan DATA RIIL adalah kenyataan yang ada di hadapan peneliti yang perlu untuk dijelaskan. TEORI mampu memberikan prediksi-prediksi hasil akhir yang akan didapat apabila kondisi-kondisi tertentu dipenuhi, sedangkan DATA RIIL adalah kondisi nyata apa adanya tanpa mengubah kondisi-kondisi tersebut.

Nah, menggunakan Ilmu Sosial untuk memperbaiki agama masyarakat sebenarnya bisa dikatakan metode yang sangat lemah. Mengapa? Karena fungsi paling mendasar dari ilmu sosial adalah memberikan deskripsi dan explanation atas fenomena masyarakat. Sedangkan, agama telah mensetting nilai-nilai ideal dan mengarahkan manusia berjalan menuju nilai ideal tersebut semampu mereka. Dengan kata lain, kalau kita beragama dengan mengikuti fenomena (yang dianalisa dengan ilmu sosial) yang ada saja, maka kita tidak akan pernah bisa mencapai atau mengetahui nilai-nilai agama itu sendiri. Dimensi keduanya berbeda sekali.

Imho, ini adalah titik fatalnya mengedepankan analisa ilmu sosial untuk menilai agama itu benar atau salah. Karena manusia dalam agama adalah objek yang “diatur”, sedangkan mendasarkan agama pada analisa ilmu sosial semata akan hanya membiarkan manusia tanpa “aturan” dan berlaku sesuka mereka.

Tetapi, apakah ilmu sosial tidak berguna dalam agama?
Sebenarnya keunggulan ilmu sosial dalam menangkap fenomena sosial dan menganalisanya adalah senjata yang kuat bagi agama untuk meramu obat yang lebih tepat dan efektif dalam rangka menyembuhkan dan menyelamatkan masyarakat. Karenanya, kolaborasi antara keduanya sebenarnya sangat penting bagi masyarakat.

Sebagaimana Talcot Parson pernah sebutkan dalam salah satu pidatonya di hadapan masyarakat Sosiologi Amerika: Teori saja tidak cukup, dan data riil saja tidak cukup. Gabungan antara keduanya akan lebih efektif dalam memahami masyarakat kini.
__________________

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close