Mudik

Mudik kata yang mengalami peningkatan martabat. Sejak menjadi sebutan untuk tradisi eksodus tahunan menyambut Lebaran. Kata ini makin jauh dari makna aslinya, yakni ‘meng-udik’ atau menuju udik. Pada awalnya kata ‘udik’ pernah menjadi ejekan untuk orang yang tertinggal kemajuan. Sergahan “dasar udik” atau “maklum, dari udik” atau ”udik banget” menjadi ekspresi merendahkan. Keadaan menjadi berubah setelah berjuta-juta orang, bahkan mayoritas orang kota ternyata berasal dari “udik” dan mengikuti tradisi “mudik. Kata “udik” pun kian jarang disebut untuk menghina.

Pemberian imbuhan yang kurang taat dengan tertib berbahasa Indonesia baku pun tak jadi soal. Semestinya kata bentukan baku itu berbentuk “mengudik”. Gejala bentukan kata “mudik” ini mirip dengan kata “mundur”, yang berasal dari “undur” tapi kemudian mandiri menjadi kata dasar sendiri. Bahasa memang kerap harus tunduk kepada kebiasaan para pemakainya. Pakar bahasa sudah tidak dibutuhkan lagi. Apalagi di era digital saat ini. Hampir semua kita adalah pembangkang terhadap kaidah Bahasa Indonesia yang telah ditetapkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dalam menulis pesan pendek (sms), whatsapp atau sosial media.

Kata “udik”, sebagai lawan kata “hulu adalah gereneralisasi dari persepsi terhadap lokasi peradaban. Peradaban yang lebih dinamis memang biasanya tumbuh di hulu: muara sungai, tepi sungai, atau pantai. Sarana transportasi termudah memang lewat perairan, tak perlu membangun jalan. Munculah kemudian kota yang kebanyakan di tepi perairan atau di hulu sungai. Orang-orang yang tinggal di hulu sungai disebut orang kota. Sedangkan yang bertahan di udik disebut orang kampung atau orang desa.

Kota dianggap cermin peradaban halus, karena orang kota biasanya kosmopolitan, karena harus menenggang banyak perbedaan dari penghuninya yang majemuk. Toleran terhadap perbedaan. Berbeda dengan Udik yang hidup dalam komunitas homogen, sehingga tidak diperlukan sikap-sikap tersebut.

Belakangan ini sering kita dengar frasa ‘kaum urban’. Sebutan bagi penghuni kota-kota besar. Di beberapa tempat pernah saya melihat nama perumahan Urban Residence, Urban Cafe. Atau artikel dengan judul Urban Life Style. Dalam bahasa latin padanan kata ‘kota’ adalah ‘urban’ yang artinya halus. Kata urban atau kota mencitakan penghuninya sosok yang berkepriadian yang halus. Sebaliknya, orang-orang yang kurang halus atau terlalu lugu kerap diidentikan dengan “kampungan” atau “udik”. Untung ada kata “Mudik” sehingga kata “udik” tidak serta merta jelek. Bahkan mudik tidak harus bermakna jeda liburan dari kota ke desa. Dari kota tempat kerja ke kota kelahiran juga disebut mudik. Kepulangan dari New York ke Jakarta pada saat lebaran juga disebut mudik. Bahkan apabila orang kota bekerja sebagai guru atau pegawai negeri di desa tertinggal atau pulau terluar dan kembali ke kota besar kelahiran seperti ; Medan dan Surabaya pada saat Idul Fitri juga disebut mudik. Ironis bukan dengan pembentukan awal kata mudik yang berarti desa dengan kehidupan homogen.

Padanan kata mudik sudah bergeser dari kata dasarnya yaitu Udik. Padanan yang lebih dekat dan lebih cocok adalah ‘pulang kampung’ atau ‘pulang ke asal’. Asal bisa jadi desa bisa pula kota. Dalam kata mudik tidak terkait lagi dengan segala sesuatu tentang desa, kampung yang dikelilingi hutan dan sawah yang luas atau sungai yang berkelok-kelok seperti ular. Karena tidak semua yang mudik pada saat lebaran akan menemukan hal seperti itu. Misalnya mereka yang mudik ke Jakarta, Medan, Surabaya dan lainnya. Apalagi gambaran udik (desa) saat ini juga sudah bergeser; tidak lagi hijau, hamparan sawah beralih fungsi menjadi perumahan. Rumah-rumah dengan halaman yang luas hanya kenangan masa kecil.

Begitu pula dengan kota, padanan dari kata Urban yang punya arti ‘halus’. Dewasa ini justeru di kota lebih banyak kita temukan orang-orang yang tidak bisa hidup majemuk. Mungkin kata ‘urban’ adalah suatu harapan bukan suatu realitas kehidupan. Justeru di Udik orang-orang masih mempraktekan arti dari kata urban→halus, halus dalam bertutur kata maupun dalam berprilaku.

Dunia memang sudah terbalik.

****

Al Albana, Andalas, 7 Rajab 1439

Kategori Esai, Sastra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close