Kuliner Modifikasi dan Mesin Jahit Tua

Saya menyukai hampir semua jenis kuliner. Tidak terbatas hanya kuliner Minang saja. Saya suka Soto Betawi, Bubur Ayam , Nasi Uduk, Tongseng, Gule, Rawon, Coto Makasar, Sate Madura, Mendoan, Pempek, Roti Cane,Mie Aceh dan lainnya, sedikit sekali kuliner nusantara yang kurang berkenan dengan lidah saya, salah satunya Gudeg. Dan juga tidak terbatas kuliner nusantara saya juga suka masakan India, Arab dan Eropa asalkan halal. Apalagi kuliner India dan Arab dengan aroma rempah-rempah yang kuat. Untuk kuliner Arab saya telah berangan-angan akan mencicipi sebanyak mungkin saat melaksanakan Haji atau Umbroh kelak.

Saya bersyukur diberikan pendamping hidup seorang koki ATM (amati, tiru dan modifikasi). Ia senang sekali memodifikasi aneka menu kuliner nusantara yang ditelusuri di google lalu memasukan cita rasa Minang. Jauh sebelum saya menulis ini Gombal dalam Sepiring Mie di laman sosial media, saya telah mendapatkan aneka kuliner Nusantara seperti Tongseng, Sayur Asem bahkan hingga steak yang telah dimodifikasinya (memasukan cita Minang), apalagi setelah menulis itu, aneka kuliner meluncur deras, pada waktu tak terduga.

Tentu saja saya senang sekali dengan kejutan seperti ini. Sebagai pengemar kuliner gratis dalam porsi jumbo saya bersyukur. Bayangkan jika berburu kuliner di luar, saat membaca menu yang disediakan mata saya selalu fokus ke sebelah kanan ; memplototi dengan cermat susunan numerik yang diawali oleh Rp, belum lagi jika ingin nambah, kecepatan saya dalam menjumlah dan mengkali yang sudah mulai melemah tiba-tiba muncul seketika.

Jadi jika dia ingin membeli perkakas memasak yang baru saya sangat bersemangat dan mendukung dengan sepenuh hati. Pembaca yang rakus menyebut bahwa buku adalah simbolik kemerdekaan berfikir sedangkan saya sebagai penggemar kuliner juga boleh membuat kredo bahwa kelengkapan peralatan memasak adalah simbol kemerdekaan cita rasa. Bagaimana tidak ?, Berbeda dengan restoran dan cafe yang telah memaksa kita mengamini rasa yang mereka sajikan. Dengan mempunyai peralatan masak tentunya juga dilengkapi pengetahuan dalam berbagai macam kuliner kita bisa menentukan cita rasa sendiri. Burger Mc Donald enak tapi bagi penggemar jengkol tentu lebih enak Burger dengan mengganti daging dengan jengkol. Dan itu hanya dapat dilakukan dirumah dengan tangan sendiri.

Apalagi sebagai seorang Laki-laki rumahan yang lebih senang di rumah bercengkrama dengan keluarga, berburu kuliner di luar bukanlah hal yang menyenangkan bagi saya.

“Tapi Bang kan ada Go Food, kalau malas keluar rumah”

“Iya sih neng, tapi kan bayar”.

Minggu lalu, ketika saya pulang malam saya melihat mesin jahit yang sudah lama tersimpan di gudang ada di ruang tengah. Usut punya usut mesin jahit tua baru saja diservice dan siap dipergunakan jika dibutuhkan.

Sejak pindah ke Padang saya kesulitan mendapatkan pakaian yang ‘pas’. Pas yang saya maksud bukan tidak tersedia pakaian yang berkualitas. Melainkan berkualitas dan murah. Itulah definisi pakaian pas versi saya. Sedangkan pakaian lama sebagian telah menyerah dan mengabdikan diri di pintu kamar mandi. Salah satunya menjalani takdir seperti ini Jeans Gagal Reinkarnasi.

Jika dulu di Batavia untuk berburu ‘Pakaian Pas’ di bazzar week end, jika beruntung dan sabar akan mendapatkan pakaian berkualitas dengan harga miring. Atau di Komplek Pertokoan Auri ada juga yang menyebut Tanah Abang Bukit, dengan kesabaran mengelilingi pertokoan yang sumpek tanpa dilengkapi AC bisa mendapatkan barang sisa eksport yang berkualitas dengan harga bersahabat.

Untuk mengatasi masalah pakaian, sebulan yang lalu isteri membelikan bahan celana katun. Saya memang sudah jarang mengenakan Jeans dan lebih senang dengan celana katun. Sudah sebulan diinapkan pada salah satu taylor. Saya dijanjikan dua minggu pada saat akad, sampai hari ini sudah 31 hari. Bagaimana Bun bersediakah mengunting-gunting bahan ini lalu mempertemukan sejumlah sisi dengan menjahitnya

Tentunya dengan mengetahui dari tangan siapa yang membuat pakaian yang kita kenakan. Itu membuat kita lebih tenang. Tidak seperti seorang konglemerat di Amerika yang saya lupa namanya, setelah membeli sebuah kaos dengan harga murah membuatnya gelisah dan penasaran dengan pelbagai praduga ; jangan-jangan kaos yang digunakannya dibuat oleh garmen yang memperkerjakan anak dibawah umur, atau garment yang memberi upah tidak layak semacam perbudakan yang sering terjadi di Bangladesh. Rasa penasaran dan dengan dukungan pengetahuan dan kekuatan finansial serta network yang luas mengantarkannya untuk menelusuri tangan-tangan yang telah berjasa mengerjakan kaos yang dia beli.

Jelas bagi saya tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Meskipun pernah penasaran mendapatkan produk yang sangat murah dibanding produk sejenis seperti es Aice namun saya justeru menikmatinya tanpa merasa janggal. Belakangan baru ada informasi bahwa Aice memperkerjakan karyawan di melebihi jam kerja yang telah ditetapkan oleh Depnaker, tanpa jaminan kesehatan dan tanpa Hak Cuti. Informasi itu membuat saya mengurasi konsumsi Aice. Bagaimanapun juga, sebagai mantan proletar–13 tahun mburuh menjadi sekrup kecil kapal besar kapitalis–, saya dapat merasakan kegetiran pekerja Aice.

****

Al Albana, Andalas 09 Rajab 1439

Kategori My Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close