Amien Rais

Tahun Pilpres 2004, saya bersemangat datang ke TPS. Pasangan Amien Rais-Siswono yang berada pada nomor urut 2 saya coblos dengan bergembira dan penuh sukacita. KPU mengumumkan Pasangan SBY-JK dan Megawati-Hasim Muzadi lolos putaran selanjutnya, sedangkan Amien Rais-Siswono dan tiga pasangan lainnya harus puas sampai disini. Saya sedikit kecewa namun setelah Amien menjelaskan bahwa kegagalannya disebabkan akibat ‘baju’ Muhammadiyah kekecilan baginya. Ketika itu euforia pasca reformasi membuat kita sedikit lupa hal yang sudah lama bahkan sejak terbentuk negara ini yang belum terselesaikan yaitu relasi antara Islam dan Negara.

Itulah Pilpres yang saya ikuti dengan antusias dan bersemangat karena memilih calon berdasarkan kompetensi bukan karena takut calon yang tidak saya sukai menang. Dan karena itu, pada putaran kedua ketika SBY-JK berhadapan dengan Mega-Hasyim saya tidak datang ke TPS lagi. Pun pada Pilpres 2009 saya enggan datang ke TPS.

Pilpres 2014 badai informasi melanda Demokrasi Indonesia. Melalui media daring dan sosial media informasi simpang-siur, rasa ketakutan dihembuskan untuk menuai suara. Mesti tidak sepenuhnya, saya sedikit terpengaruh dan juga akibat desakan orang terdekat saya datang juga ke TPS dengan malas-malasan, memberikan suara kepada salah satu calon hanya agar lawannya (calon yang tidak sukai) tidak menang itupun melalui tangan anak saya. Alhasil suara yang saya berikan secara terpaksa juga tidak mampu menghadang lawannya. Tidak seperti saat saya memilih Amien Rais pada Pilpres 2004.

Waktu bergulir, situasi dan kondisi negara telah berubah begitupula politik dan demokrasi bukan seperti dulu lagi. Mungkin juga cara pandang saya tentang negara dan demokrasi juga berubah, begitu pula Pak Amien. Amien Rais bukanlah Pria Gagah dan kharismatik seperti pasca reformasi lagi. Usia telah merubahnya secara fisik dan psikis (ideologi) setidaknya dari pandangan saya. Jika Pilpres mendatang terjadi keajiban Amien Rais maju sebagai calon presiden entah berpasangan dengan siapa, rasanya saya tidak seyakin dan seantusias saat memilih beliau pada Pilpres 2004 silam.

Pak Amien Orang hebat, pemberani, tak pernah putus puasa senin kamis, beliau lokomotif reformasi dalam mencongkel kursi kekuasaan Pak Harto, beliau slilit yang berada pada sela-sela gigi penguasa dari dulu hingga hari ini. Jika pun ada hal yang kita tidak bersepakat dengan beliau saat ini rasanya belum pantaslah lisan atau tulisan yang mencela beliau.

Kategori Tokoh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close