Puisi Jelek

Kenapa?

Pertama puisi terlalu letterlijk-apa yang ia tulis sama dengan apa yang hendak ia sampaikan. Padahal hakikat sastra adalah eksplorasi bahasa. Puisi itu remang-remang mendekati gelap. Katanya bersayap tempat bersembunyi. Kalau puisi seperti ini anak yang baru mengeja membaca bisa menangkap maksudnya. Sekali baca tanpa jidat berkerut dengan mudah kita mengerti apa yang ingin disampaikannya. Ok. Kita sebut saja ini esai bukan puisi. Ia tidak sedang mambacakan puisi tapi pidato kebudayaan di acara itu.

Kedua, “Aku tidak tahu syariat islam”, begitu ia mengawali puisinya. Bagaimana seorang yang tidak tahu lalu membandingkan dengan yang dia punyai. Ini percis seperti seorang bocah yang tidak dikasih unjuk melihat bentuk mainan baru yang dimiliki sahabatnya, lalu berucap “mainanku jauh lebih bagus”. Ada dua tujuannya mengucapkan itu ; (1) agar sahabatnya terpancing, lalu memperlihatkan mainan barunya, syukur-syukur bersedia meminjamkan untuknya, (2) sekadar melepaskan emosi, akibat iri sahabatnya punya mainan baru.

Monggo kita perlihatkan kepada ibu ini bahwa “apa yang diakuinya tidak tahu”, jauh lebih bagus dari yang ia punyai.

Pertama puisi terlalu letterlijk-apa yang ia tulis sama dengan apa yang hendak ia sampaikan. Padahal hakikat sastra adalah eksplorasibahasa. Kalau puisi seperti ini anak yang baru mengeja membaca bisa menangkap maksudnya. Sekali baca tanpa jidat berkerut dengan kita dengan mudah mengerti apa yang ingin disampaikannya. Ok. Kita sebut saja ini esai bukan puisi. Ia tidak mambacakan puisi tapi pidato kebudayaan di acara itu.

Kedua, “Aku tidak tahu syariat islam” begitu ia mengawali puisinya. Bagaimana seorang yang tidak tahu lalu membandingkan dengan yang dia punyai. Ini percis seperti seorang bocah yang tidak dikasih unjuk bentuk mainan baru yang dimiliki sahabatnya, lalu berucap “mainanku jauh lebih bagus”. Ada dua tujuannya mengucapkan itu ; (1) agar sahabatnya terpancing, lalu memperlihatkan mainan barunya, syukur-syukur bersedia meminjamkan untuknya, (2) sekadar melepaskan emosi, akibat iri sahabatnya punya mainan baru

Monggo kita perlihatkan kepada ibu ini bahwa “apa yang diakuinya tidak tahu”, jauh lebih bagus dari yang ia punyai.

Kategori Esai, Sastra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close