Belajar atau Menghafal

Tak sengaja menguping pembicaraan dua orang remaja puteri dengan pakaian putih abu-abu. Seorang diantaranya mengeluhkan kurikulum dalam jurusan yang akan dipilih dalam waktu dekat tidak menyerap minatnya secara menyeluruh. Sedangkan jika jurusan yang satunya lagi semakin berjarak dengan bidang ilmu yang akan ditekuninya.

Ingin rasanya saya menimpali. “Bagaimana mungkin kurikulum menampung semua minatmu, bahkan untuk menjawab jarak Padang-Pariaman saja kalian masih mengutip jawaban orang lain. Apalagi untuk membuktikan bahwa Sin 90°=1, Cos 90°=1, atau ~(tak hingga) hasil dari setiap bilangan jika dibagi 0 (nol). Kalian hanya mengutip jawaban orang lain, lalu menghafalkannya sebagai mantra menghadapi ujian. Tapi itu tidak mengapa. Kalian masih belia. Mampirlah di dunia maya!, bahkan untuk marah dalam meluapkan emosi saja kakak-kakak, paman-paman , tante-tante kalian masih meminjam marah orang orang lain baik dalam bentuk meme maupun tautan”, saya membatin.

Kenapa sih, begitu tidak percaya dirinya orang-orang jaman now. Tidak berani dengan pandangan dan pemikiran sendiri. Sehingga satu tautan atau meme berlalu lalang di beranda hingga puluhan kali, dibagikan oleh akun-akun yang berbeda.

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close