Suara Azan

Selain marah tersisa juga sedikit ucapan terima kasih terhadap apa yang telah dilakukan ibu Sukmawati dengan puisinya. Belasan puisi berlalu lalang di beranda sosial media sebagai balasan, itulah penyebabnya. Memang harus seperti itu. Puisi balas dengan pkaruahuisi. Buku dengan buku. Hindari caci-maki apalagi provokasi. Kecam puisinya bukan pribadinya. Tentu saja tindakan yang paling etis adalah melaporkan kepada pihak yang berwajib. Sebagai salah satu alasan pendahulu kita mendirikan negara. “Mancari kusuik ka salasai, mampajaniah nan karuah” Dan itu telah dilakukan oleh beberapa orang.

Setidaknya dengan berbalas puisi, bahasa sedikit lebih indah. Polemik ini mengingatkan saya akan Jazirah Arab menjelang Kenabian. Salah satu kebudayaan yang sedang berkembang menjelang Rasulullah diangkat menjadi. nabi adalah kemahiran mereka dalam bersyair. Semacam ajang Idol jaman now, pada masa itu sering diadakan. event pembacaan puisi. Penyair mendapatkan status sosial yang tinggi di tengah masyarakat. Sebagian sahabat nabi adalah penyair yang disegani pada masa itu ; Abdullah bin Rawahah, Hasan bin Tsabit, Ka’ab bin Malik. Paman yang selalu membela beliu yaitu Abu Thalib pun seorang penyair yang disegani oleh kaum Quraisy. Para musuh Islam juga punya penyair hebat kala itu seperti ; Nahdr bin Haris, Abu Sufyan bin Harb, Amr bin Ash. Selain Nahdr bin Ash nama yang disebut setelahnya mendapat hidayah dengan memeluk Islam.

Lantas, apakah di antara penyair itu tidak ada yang menistakan syariat islam dengan bait-bait puisi yang tajam dan merendahkan? Banyak sekali. Orang-orang kaya seperti Abu Jahal, Abu Lahab, Ummayah bin Khalaf merekrut dan membayar mereka untuk menulis syair-syair yang mengolok-olok syariat Islam, memprovokasi umat untuk memusuhi Nabi Muhammad. Tugas mereka Seperti Buzzer jaman now.

Tapi kenapa bait-bait caci-maki dengan kualitas sastrawi tingkat tinggi tidak pernah sampau ke zaman kita?, sebab para sahabat pada masa itu tidak ada yang peduli. Ulama dan para tabi’in tidak membicarakan apalagi menyebarluaskan. Seiring waktu menguap pula bait-bait caci-maki itu. Hilang ditelan waktu.

Nah, ini yang terpenting. Apakah kita hanya peduli suara azan saat dinistakan? Setidaknya puisi ini telah menyentil saya, yang terkadang masih abai saat azan dikumandangkan. Masih sibuk dengan urusan dunia ketika muazim menyampaikan panggilan Allah. Konon katanya perjalanan yang paling berat bagi seorang muslimin jaman now bukan perjalanan dari rumah ke kantor di tengah kemacetan kota besar, bukan pula perjalanan Jakarta-Bandung saat long week end, bahkan lebih berat dari perjalanan saat mudik leberan yaitu perjalanan dari rumah ke Masjid untuk menunaikan sholat subuh.

****

Al Albana, Andalas, 17 Rajab 1439

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close